
Ketiga tamu Sasi itu memandang penuh cemas wanita yang kini sedang menunduk memikirkan segala kemungkinan yang akan terjadi. Mereka takut trauma yang Sasi alami akan membuat wanita itu menolak lamaran anak semata wayang mereka. Apalagi kekurangan Nathan jelas tidak ada obatnya, kecuali keajaiban dari yang Maha ESA saja.
“Ma?” panggil Aslan lembut.
Sasi mendongak menatap anak laki - lakinya yang masih memakai seragam lengkap dan tas punggung yang masih di tempatnya.
“Itu Om Nathan menunggu jawaban Mama.”
Sasi menarik nafas pelan sebelum akhirnya dia bersuara.
“Saya akan menerima jika Mas Nathan menerima semua kekurangan saya. Saya tidak memiliki harta. Saya tidak punya orang tua dan saya hanya memiliki iman serta Aslan di hidup saya.”
Ketiga orang itu menghela nafas lega. Mereka takut jika Sasi akan menolak. Tetapi sayangnya anak mereka sudah yakin jika Sasi tidak akan menolak. Karena jawaban Sasi tadi adalah jawaban yang Sasi pernah berikan padanya. Jika sekarang Sasi menerimanya karena hutang budi, biarlah.
Suatu saat dia akan meraih hati wanita itu walau dia sendiri masih belum memastikan perasaannya pada Sasi namun dia yakin, Sasi adalah wanita yang baik.
Senyum tulus yang tergambar di wajah wanita itu belum pernah Nathan lihat di wanita yang pernah singgah di kehidupannya. Sekalipun itu adalah mantan kekasih yang hampir saja dinikahinya. Hanya Sasi lah yang memiliki senyum tulus seperti itu.
“Jadi, kapan sebaiknya kita selenggarakan pernikahan ini?” tanya nyonya Anggi.
Sasi menatap Aslan sebelum akhirnya memberikan jawaban sekaligus permintaan yang ingin diutarakannya.
“Lan, kamu yakin menerima pinangan Om Nathan untuk Mama?” tanya sang ibu.
Aslan mengangguk, “Walau kita belum lama mengenal Om Nathan tapi insyaallah, Aslan yakin Om Nathan adalah orang baik. Terlihat dari bagaimana dia dengan sabarnya menunggu aku dan Chandra di rumah sakit padahal dia memiliki pekerjaan yang harus segera dilakukannya.”
Nathan sedikit mengerutkan dahinya. Dari mana anak itu tahu jika saat itu aku harus bertemu dengan klien batin Nathan sambil melirik ke arah kedua orang tuanya.
“Kenapa kamu seyakin itu?” tanya nyonya Anggi.
__ADS_1
“Aku tidak sengaja mendengar percakapan Om Nathan sesaat setelah aku dari kamar mandi. Aku mendengar beberapa kali dia mengatakan jika tidak bisa menemui seseorang karena ada masalah. Padahal kalau Om Nathan mau dia bisa saja meninggalkan aku dan Candra begitu saja setelah membayar pengobatan Candra. Tapi pria itu tidak melakukannya. Dia bertanggung jawab penuh pada kami. Ya, walau wajahnya sedikit menyebalkan saat itu,” ucap Aslan di akhir kalimatnya membuat tuan Banu tergelak.
“Ternyata tidak aku saja yang mengatakan dia menyebalkan,” lirih tuan Banu dan langsung mendapat tatapan tajam dari istri tersayangnya.
Nathan memandang lembut ke arah Sasi dan berkata, “Sekarang bagaimana denganmu Sas?”
Sasi mendongak kembali dia melipat bibirnya mendapat tatapan lembut dari Nathan. Dia bahkan salah tingkah hingga membuat cuping telinganya memerah.
“Ma!” senggol Aslan menggunakan bahunya.
“Bisakan per.. pernikahan i.. ini di ra.. rahasiakan?” tanya Sasi pelan hingga membuat mereka para paruh baya membungkukkan tubuhnya agar dapat mendengar perkataan Sasi.
“Kenapa?” tegas Nathan.
“Apa karena aku yang..”
“Kalian tentu tahu bukan siapa mantan mertua dan suamiku, Ayah Aslan?” mereka semua mengangguk.
“Aku hanya ingin hidup tenang tanpa gangguan dari mereka lagi. Jika mereka tahu aku menikah denganmu mereka pasti akan kembali menggangguku.”
Nyonya Anggi dan Tuan Banu saling pandang mereka menyembunyikan senyum mendengar perkataan Sasi. Jangankan keluarga Mahardika presiden saja enggan mengganggu keluarganya. Siapa yang tidak tahu keluarga Suryabrata. Pemilik beberapa pulau di kepulauan seribu, hotel, bahkan beberapa apartemen mewah bertebaran di kota Jakarta. Ayah tuan Banu yang merupakan seorang hakim pengadilan tipikor serta pengusaha dengan segala loyalitasnya pada negara membuat siapapun enggan mengganggu keluarga besar itu.
Nathan yang melihat kedua orang tuanya menahan senyum berdehem agar tidak menciptakan suasana seperti meremehkan keinginan Sasi.
“Aku akan merahasiakan pernikahan kita. Aku janji.” Sasi mengusap dadanya lega mendengar penuturan Nathan.
“Kalau begitu hari ini saja kita adakan ijab kabulnya?”
Keempat termasuk bocah yang hampir berusia 9 tahun itu menatap wanita paruh baya yang masih sangat cantik di usia senjanya dengan mata mereka yang melebar. Ucapan tanpa pikir panjang dari nyonya Suryabrata membuat mereka terkejut.
__ADS_1
“A .. apa ti .. tidak terlalu cepat?” tanya Sasi tergagap. Bahkan degup jantungnya kini tak lagi bisa ia kontrol sepertinya sebentar lagi dia bisa terkena serangan jantung. Ini belum seberapa, bagaimana jika Sasi tahu siapa itu Suryabrata. Mungkin dia akan langsung pingsan dan masuk rumah sakit.
“Tidak, iyakan Sakha?” ucap sang ibu sambil menatap geram ke arahnya.
“I iya. Tidak.”
Singkat, padat dan jelas. Nathan yang tidak bisa berkutik jika sang ibu sudah menatapnya seperti itu hanya bisa pasrah saja.
“Oh ya nak. Dimana alamat KTP kamu?” tanya tuan Banu.
“Alamatnya masih di Jakarta Tuan. Karena berbagai hal, saya tidak bisa pindah KTP.”
Sasi meremas kedua tangannya takut - takut tuan Banu menanyakan apa alasannya hingga dia tidak bisa pindah KTP. Bahkan akta cerai saja baru dimilikinya beberapa waktu lalu.
“Emm.. begini saja kita cari orang yang bisa menikahkan kalian disini sekarang. Mahar serta cincin kan sudah ada. Nanti setelah sampai di Jakarta baru urus ke KUA disana. Bagaimana?” ujar nyonya Anggi kembali.
Sasi yang tidak begitu tahu siapa yang bisa melakukan hal ini hanya terdiam. Namun sedetik kemudian terdengar nyonya Anggi dihubungi seseorang.
“Iya. Tolong carikan sekarang ya, Yud? Dan langsung bawa ke alamat yang saya share lock itu.”
Nyonya Anggi menutup panggilannya dan kembali menaruh ponselnya ke dalam tas mahalnya.
“Beres, sebentar lagi Yudi kesini.”
Nyonya Anggi tersenyum lalu kembali memanggil Aslan agar mendekat padanya. Jika saja anak semata wayangnya bisa menghasilkan cucu untuknya mungkin sekarang cucunya sudah sebesar Aslan. Tapi lebih dari itu kini dia bisa bernafas lega anak laki - lakinya itu akan ada yang mengurus. Jika tuhan mengambil nyawanya kapan pun dia tidak takut lagi jika anaknya akan sendirian di dunia ini paling tidak kini ada seseorang yang akan Nathan jadikan tempat bercerita dan saling mengasihi. Dan semoga Sasi adalah jodoh dunia dan akhirat anaknya itu.
Satu jam berlalu. Pak Yudi yang ditunggu kehadirannya akhirnya datang bersama dengan seorang penghulu. Sasi yang merasa pernah bertemu dengan pak Yudi langsung menyapa pria itu. Dengan kikuk pak Yudi menjawab sapaan Sasi. Sasi yang kini menyadari siapa pak Yudi itu, berganti menatap Nathan dengan tajam.
Benar kata teman drivernya tidak mungkin bengkel besar seperti itu akan menerima pembayaran dengan cara mencicil. Kini Sasi paham pria bernama Yudi itu memang ditugaskan membantunya atau justru membuntutinya?
__ADS_1