MAHLIGAI KEDUA

MAHLIGAI KEDUA
Bab 17 - Dalam Satu Piring


__ADS_3

Setelah acara sakral dalam tempo yang sesingkat - singkatnya layaknya teks proklamasi itu kini rumah kontrakan Sasi sepi. Tuan Banu memboyong menantu serta cucu barunya itu ke hotel milik sang istri, yang sebelumnya Sasi pernah mengantarkan nyonya Anggi saat ia sedang bekerja beberapa waktu lalu.


Kini di kamar yang dulu pernah Sasi datangi sudah ramai akan celoteh antara kakek dan cucu barunya itu. Tuan Banu tidak menyangka jika Aslan memiliki otak yang sangat cerdas. Apa iya seorang Mahardika bisa memiliki cucu sehebat itu. Tuan Banu bertanya - tanya hingga dia terdiam.


“Eyang, kenapa?” tanya Aslan yang melihat pria paruh baya itu tak kembali mengeluarkan suaranya.


“Nggak apa - apa, Nak. Semoga kamu selalu beruntung ya,” ucap tuan Banu mendoakan Aslan.


“Eyang juga, semoga sehat dan diberi cucu yang lain lagi selain Aslan,” ujarnya dengan senyum yang mengembang.


Tuan Banu hanya bisa tersenyum kecut mendengar doa dari cucu sambungnya itu. Entah bagaimana kehidupan anak semata wayangnya itu setelah menikah. Dia hanya berharap Sasi bersungguh - sungguh menerima Nathan, bukan hanya karena kasihan saja. Dia berharap jika Tuhan tidak memberikan rezeki itu pada anaknya paling tidak, jika dia dan nyonya Anggi tua dan renta masih ada istri yang bisa mengurusnya.


“Yuk! Makan siang dulu!” seru nyonya Anggi dari arah meja makan.


Nathan yang sedang sibuk dengan pekerjaannya di ruangan lain tak menghiraukan panggilan sang ibu karena masih fokus dengan email yang dikirimkan asistennya. Sedang tuan Banu dan Aslan sudah beranjak dari posisinya menuju seruan itu.


“Wah! Siapa yang masak nih?” tanya tuan Banu sambil menarik kursi untuknya dan Aslan.


“Mantu dong, Pah. Untung Sasi tadi kasih saran buat belanja. Jadi kita nggak perlu pesan makanan.”


Tuan Banu mengangguk, “Sas panggil suamimu. Dia kalau sudah bekerja nggak akan makan walau di panggil pake toa masjid,” tutur tuan Banu.


Sasi tersenyum kecil menanggapi ucapan papa mertuanya itu, “Baik. Sasi akan panggil Mas Nathan dulu,” nyonya Anggi dan tuan Banu mengangguk.


“Yuk, Sayang! Mamamu pinter masak ya?”


“Iya, Eyang. Mama kan suka terima pesanan makanan juga. Mama juga pinter bikin kue loh,” ujar Aslan.


“Wah, bakat Mama mu banyak ya?” ujar sang Eyang.


“Iya, Aslan cerdas juga karena nurun dari Mama, Eyang.”


Tuan Banu mengerutkan dahinya, “Nah kalau ini aku percaya. Nggak mungkin anak Mahardika itu bisa secerdas ini. Kakeknya yang sombong hingga tujuh turunan saja selalu kalah dengan ku,” benak tuan Banu sambil merotasikan bola matanya.


“Mas!” panggil Sasi.


Nathan yang sedang sibuk dan fokus pada laptopnya tak mendengar panggilan istri yang baru beberapa jam dinikahinya itu. Sasi yang masih canggung dan mencoba mendekat ke arah Nathan.

__ADS_1


“Mas!” panggil Sasi kembali.


Nathan yang melihat wujud seseorang berada di hadapannya langsung mendongak, “Oh Sasi. Ada apa?” tanyanya.


“Makan siang dulu, Mas. Semua sudah menunggu,” ujar Sasi.


“Tapi pekerjaanku masih banyak. Aku akan menyusul nanti,” ucapnya.


Sasi yang masih merasa canggung pun enggan untuk memaksa sang suami. Perlahan di membalikkan tubuhnya dan berjalan keluar dari ruangan itu.


“Sas!” panggil Nathan membuat Sasi seketika menghentikan langkahnya dan berbalik.


“Iya Mas,” jawab Sasi.


“Bisa bawakan makan siang untukku? aku makan disini saja.”


Sasi tersenyum dan mengangguk. Wanita itu lalu bergegas kembali ke meja makan untuk membawakan pesanan Nathan.


Sesampainya di meja makan. Sasi langsung mengambil piring dengan wajah yang riang dan semua itu membuat dua paruh baya serta bocah 9 tahun itu melihatnya dengan tatapan aneh.


“Untuk siapa itu, Sayang?” tanya sang ibu.


Nyonya Anggi yang melihat pergerakan tangan Sasi yang terhenti langsung menyunggingkan senyumnya, “Oh nggak apa - apa dong, bawakan yang banyak yah,” pinta sang ibu mertua.


“Em.. tapi ini masakan rumah, Ma. Apa Mas Nathan akan suka?” tanya Sasi. Dia menjadi ragu karena bagaimanapun ini pertama kalinya dia menyajikan masakan untuk keluarga seperti ini.


“Suka, dong. Justru, Sakha lebih suka makan makanan rumahan daripada di restoran. Dia juga suka tuh makanan pinggir jalan. Ya nggak Pah?” tuan Banu mengangguk mengiyakan pernyataan sang istri.


“Tapi..”


“Kenapa, Mah?” tanya Sasi.


“Sudah satu tahun ini Sakha makan - makanan sehat. Nanti Mama akan beritahu apa saja makanan yang boleh dan tidak boleh Sakha makan, ya Sas?” menantu kesayangannya itu mengangguk.


“Masakan, Mama, selalu enak. Sudah lama ya, Mama nggak masak sebanyak ini,” celoteh Aslan.


“Memangnya, kenapa?” tanya tuan Banu.

__ADS_1


“Kita nggak banyak uang buat belanja sebanyak ini, Eyang. Bisa makan tempe dan tahu saja sudah bersyukur, ya kan Ma?” Sasi mengangguk sambil memaksakan senyumnya.


Aslan tak bersuara lagi dia mulai melanjutkan makannya dengan lahap. Cara Aslan menikmati semua makanan itu menjadi tontonan seru bagi kedua eyang barunya. Sungguh Sasi sangat beruntung, memiliki anak yang baik dan sangat menyayangi ibunya itu. Tuan Banu bahkan hampir berkaca - kaca jika sang istri tak segera menyadarkannya.


“Nggak usah melow deh, udah tua. Malu,” bisik sang istri.


“Ish, Mama!” geram sang suami. Nyonya Anggi terkekeh.


Sasi dengan perlahan membawakan Nathan makan siang lengkap dengan air minum dalam satu nampan.


“Mas, makan dulu yuk!” ajak Sasi sambil meletakkan nampan itu di sisi meja yang kosong.


Nathan menutup laptopnya dan beralih menatap istrinya. Dia berdiri dari duduknya dan mengambil kursi yang lain dan meletakkannya di sebelah kursi yang didudukinya.


“Sini duduk,” pinta Nathan.


Sasi yang tidak tahu untuk apa dia duduk menurut saja akan perintah suaminya.


“Kita makan sama - sama. Apa kamu risih jika makan satu sendok denganku?” Sasi tersenyum dan menggeleng kecil.


“Justru ini pahala untukku, Mas. Bisa makan dalam satu piring bersamamu.”


Nathan tersenyum senang mendengar perkataan istrinya. Perlahan tangannya mengambil sendok dan membaca doa terlebih dahulu sebelum akhirnya dia memberikan suapan pertamanya untuk Sasi. Rasa canggung yang tadi sempat Sasi rasakan kini melebur dengan kelembutan yang Nathan lakukan kepadanya.


Sasi sungguh menikmati suapan demi suapan yang Nathan berikan padanya, hingga tak berapa lama nasi, sayur serta lauk yang ada di piring itu mereka habiskan hingga tak bersisa.


“Alhamdulillah,” ucap keduanya.


“Em.. Mas. Boleh Sasi mengatakan sesuatu?”


“Silahkan, apa yang kau inginkan?”


“Bolehkah Sasi memakai hijab?”


Nathan melebarkan kedua matanya. Dia terkejut Sasi meminta izin untuk melakukan itu. Sungguh Nathan sangat senang, jika Sasi mau dengan suka rela melakukannya.


“Tentu, silahkan. Aku akan sangat senang jika kecantikanmu hanya menjadi milikku saja. Aku sangat bangga jika kamu dengan ikhlas melakukannya,” jawab Nathan.

__ADS_1


Sasi tersenyum senang. Tadinya Sasi takut jika Nathan akan menolak dan mengatakan jika memakai hijab itu norak dan tidak elegan. Sama seperti dulu saat Galih tak mengijinkannya memakai pakaian syar’i itu.


Walau Sasi selalu memakai pakaian yang sopan dan tertutup namun hingga kini dia masih ragu untuk mengenakan hijab. Tetapi setelah selesai ijab kabul yang dilakukannya dengan menggunakan baju gamis yang dimilikinya lengkap dengan hijabnya, membuat Sasi berpikir bahwa kini dia telah menjadi istri seseorang dan harus bisa menjaga pandangan orang lain terhadapnya.


__ADS_2