
Sudah satu bulan sejak kedatangan Nathan serta keinginan laki - laki itu dipenuhi dengan berbagai syarat oleh Sasi. Sejak pertemuan mereka saat itu Sasi dan Nathan tidak lagi bertemu atau saling menghubungi. Hanya seorang pengacara yang dikirim Nathan datang ke kontrakan Sasi dua hari setelah pertemuan mereka dan seminggu yang lalu, sebuah amplop besar datang dari Jakarta. Berserta sebuah cek dengan nominal yang cukup fantastis.
Amplop besar berisi akta cerai serta kompensasi atas perilaku Galih yang semena - mena padanya yang seharusnya diberi hukuman penjara diganti dengan denda yang cukup membuat mata Sasi terbelalak.
Di sana juga terdapat surat hak asuh anak yang jatuh ke tangan Sasi mutlak padanya. Serta hak Aslan perbulan dengan nominal yang cukup membuat Sasi berpegangan tangan pada Sisi meja sambil mengusap dadanya.
Sungguh, Nathan benar - benar membuktikan semua perkataannya tentang membantu Sasi keluar dari jerat tali keluarga Mahardika beserta kompensasi yang tidak main - main.
Setelah semua hal yang dia ingin dapatkan berada ditangannya. Kini Sasi merasa lebih leluasa dan bahagia menjalani harinya. Sedangkan Aslan yang masih belum mengetahui itu tetap seperti biasa karena Sasi juga tidak berniat menggunakan uang - uang itu untuk keperluan pribadinya.
Semua uang serta buku tabungan lengkap atas nama Aslan dengan wali sah sang ibu masih wanita itu simpan. Mungkin tidak sekarang tapi nanti Aslan pasti membutuhkannya. Jika Galih melakukan itu dengan sukarela atas rasa tanggung jawab dan kewajibannya terhadap Aslan tentu Sasi akan merasa bahagia. Namun jika semua ini karena Nathan, Sasi lebih memilih berhati - hati. Karena dia tidak ingin dicap wanita matre oleh keluarga itu.
Hari ini masih seperti biasa. Sasi menjalani harinya menjadi driver ojek online dan sesekali menerima pesanan nasi untuk para pekerja atau keluarga.
Nathan yang masih belum memberinya kabar membuat Sasi justru merasa berhutang banyak pada pria itu. Tetapi, karena Sasi juga sudah berjanji kepada pria itu kapanpun syarat yang diajukan pria itu akan diambilnya Sasi akan siap.
Walau terkesan seperti menjual harga dirinya namun demi Aslan dan kebebasannya atas belenggu keluarga Mahardika, Sasi akan melakukan apapun asal tidak keluar dari norma agama.
Nathan juga mengatakan mungkin di awal hubungan mereka hanya akan ada saling menguntungkan tapi Nathan juga mengatakan pada Sasi bahwa, ‘Aku serius dengan mengajakmu menikah, mungkin terlihat seperti memaksa tapi aku ingin kita juga saling menerima dan membuka hati kita masing - masing.’
Perkataan Nathan di akhir pertemuan mereka itu membuat Sasi memikirkan secara dalam pinangan Nathan padanya. Dan kini dia sedang menunggu pria itu datang menagih janjinya. Walau Sasi tidak tahu seberapa hebat dan seberapa kaya pria itu namun Sasi hanya ingin menjadi istri dari Nathan bukan istri seseorang dengan jabatan dan ketenarannya.
***
Di sebuah warung tenda Sasi sedang beristirahat bersama dengan para sahabatnya sesama driver. Tertawa lepas mendengar celotehan mereka membuat hari Sasi selalu berwarna. Para sahabat yang terdiri dari wanita dan pria itu selalu menghormati Sasi yang notabene seorang janda.
Mereka tidak pernah menyinggung tentang hal apapun mengenai kondisi Sasi. Justru banyak dari mereka yang bangga dengan Sasi yang hidup sendiri di kota pelajar tanpa saudara tapi mampu bertahan dengan segala kesulitan yang dialaminya. Hanya beberapa saja yang tidak menyukai Sasi karena alasan yang tidak cukup berfaedah. Alasan penolakan cinta serta rasa cemburu karena kebaikan Sasi yang menjadi alasan beberapa diantara mereka tidak menyukai si janda cantik itu.
“Sas?” seorang pria tiba - tiba menegurnya saat mereka sama - sama keluar dan ingin melanjutkan pekerjaan mereka.
“Kenapa?” tanya Sasi.
__ADS_1
“Habis berapa, kemarin di bengkel itu?” tanyanya.
“Lumayan lah, turun mesin.”
Sasi mengambil helmnya dan memakainya.
“Habis tabungan, dong!” kelakarnya.
Sasi menggeleng, “Syukurnya boleh di cicil.”
Pria disamping Sasi itu terkejut, “Dicicil?”
Sasi mengangguk, “Ya sudah, aku narik dulu.”
Pria itu mengangguk dengan tatapan aneh melihat Sasi yang sudah berlalu.
“Baik sekali pemilik bengkelnya, aku juga mau kalau di cicil. Tapi apa iya bisa dicicil begitu,” ujarnya sampai dia keliru memakai sarung tangannya.
Jalanan di siang hari yang cukup ramai membuat Sasi ekstra hati - hati. Banyak anak - anak dari berbagai kampus lalu lalang di jam - jam seperti ini. Apa lagi sekarang dia tengah membawa wanita paruh baya yang memesan jasanya dari sebuah toko oleh - oleh di Jalan Affandi menuju sebuah hotel di jalan Gedong Kuning. Jarak yang cukup jauh membuat Sasi sangat berhati - hati karena bawaan dari sang pemesan juga cukup banyak.
“Kenapa ibu - ibu ini tidak pesan taxi online saja ya?” pikir Sasi merasa aneh.
Dari sudut pandang Sasi wanita paruh baya ini terlihat kaya, penampilan yang cukup membuat beberapa orang terus memandangnya serta perhiasan liontin yang cukup membuat Sasi merinding takut jika menjadi sasaran para orang jahat. Jika dilihat dari riasan memang tidak mencolok tetapi apa yang dipakai wanita itu cukup membuat Sasi menelan salivanya.
Kendaraan roda dua milik Sasi tiba di depan sebuah hotel bertuliskan Arohan dengan letter cukup besar di atas atap gedungnya.
“Maaf ibu, sudah sampai.”
Wanita itu turun dengan hati - hati dan langsung membenahi penampilannya.
“Maaf, Mbak. Bisa bantu saya bawakan ini ke dalam?” pintanya.
__ADS_1
“Jika diperbolehkan oleh satpam saya akan membantu ibu,” pungkas Sasi.
“Tentu, mereka tidak akan berani melarangmu. Ayo!” ajaknya.
Sasi meminggirkan kendaraannya agar tidak mengganggu pengendara yang akan masuk. Dia melepas helm dan sedikit membenahi rambutnya yang acak - acakan.
“Mari Ibu, biar saya yang membawanya.”
Wanita paruh baya itu mengangguk dan mensejajarkan langkahnya dengan Sasi. Sasi yang sedikit merasa malu karena penampilannya terus menunduk hingga mereka tiba di depan sebuah lift.
“Kenapa kamu menunduk terus?” tanya si wanita.
“Maaf Bu, saya takut membuat Anda malu dengan penampilan lusuh saya.”
Wanita dengan tas jinjing berwarna coklat dengan logo H di depannya itu tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
“Pekerjaanmu halal?” Sasi mengangguk.
“Lalu untuk apa kamu malu, kecuali kamu datang ke hotel ini untuk menjual diri dan tertangkap itu baru kamu malu.”
Sasi langsung mendongak menatap wanita disampingnya ini. Ucapan frontal yang terlontar begitu saja dari mulutnya membuat Sasi merasa canggung padahal dia tidak melakukan apapun.
“Maaf, Ibu.”
Wanita itu tersenyum geli melihat Sasi yang terlihat canggung dan takut. Tak ingin membuat Sasi terlihat lebih canggung lagi, wanita itu memilih diam. Tak berapa lama lift yang membawa merek tiba di lantai tempat dimana wanita itu memesan kamar.
“Yuk Masuk!”
Tak menggunakan kunci atau semacamnya wanita itu hanya memakai sebuah cincin yang ada di jarinya untuk membuka kamar yang dipakainya. Sasi tidak menyadari jika di lorong itu hanya ada tiga kamar saja. Dan Sasi juga tidak menyadari jika dia sedang berada di lantai paling atas hotel bintang lima itu.
“Darimana Ma?” tanya seorang pria dengan aksen suara yang sangat Sasi kenal.
__ADS_1