
Suasana yang cukup menyenangkan tadi kini merubah mencekam kala wanita yang selalu merasa unggul itu mengganggu kenyaman nyonya besar keluarga ini.
Sorot mata tajam dari para wanita - wanita paruh baya itu membuat nyonya Mahardika menciut. Dia tak tahu, jika apa yang ia lakukan bisa mengancam ketentraman yang lainnya.
“Seharusnya, kau bisa menjaga mulutmu, Kira. Astaga! Baru kali ini aku mengenal wanita tak tahu malu sepertimu, kau tak tahu seberapa pengaruhnya Anggi di kelompok ini. Aku sungguh…”
Lusi, wanita itu geram. Sungguh baru kali ini ada yang berani menyinggung Anggi hingga membuatnya marah. Dia tak tahu ada apa diantara Kira dan Anggi, namun terlihat dari pertama kedatangannya, Anggi sudah tak menyukai nyonya besar Mahardika itu.
Nyonya Kira, hanya bisa terdiam. Dia kesal bukan main karena kini dan bahkan Jeng
Nina yang membawanya tak mau melihatnya.
Tak ingin terus - teruskan di pojokan, nyonya Kira mengambil tasnya dan melenggang pergi begitu saja.
“Dia bahkan tak mau meminta maaf dan pergi begitu saja.” Celetuk yang lain setelah nyonya Kira hilang di balik pintu besar kediaman itu.
Disisi lain, Nathan yang mengajak Sasi keluar dari rumahnya masih terus menggenggam tangan sang istri erat hingga perjalanan mereka sudah cukup jauh dari rumah Nathan masih tak melepas tautan tangan keduanya.
“Mas, aku nggak apa - apa. Tenang, ya?”
Sasi merasakan rasa kesal yang Nathan coba sembunyikan darinya. Tapi rasa hangat dari tubuh Nathan membuatnya sadar jika laki - laki itu sedang menahan amarahnya.
“Aku tidak habis pikir, wanita itu tak pernah belajar dari kesalahan. Masih saja mencoba untuk menjatuhkanmu. Apa yang dia lakukan tidak cukup!” kesal Nathan.
Sasi mengusap lengan sang suami memakai tangan kirinya. Ia mencoba tersenyum agar Nathan menyudahi amarahnya.
“Jangan tersenyum, jika hatimu sakit, Sayang. Aku tidak suka!” tegas Nathan.
Sasi menghela nafas, “Pak Kadir, tolong cari minimarket, ya? Kita berhenti sebentar.”
“Baik, Nyonya Muda.”
Pak Kadir memelankan laju mobil yang ia kendarai. Sambil melihat kanan dan kiri untuk mencari minimarket permintaan sang nyonya. Tak lama kurang lebih 300 meter, pak Kadir akhirnya memelankan kendaraannya dan berhenti.
“Biar saya, yang keluar. Anda membutuhkan apa, Nyonya?’
__ADS_1
“Belikan saja air mineral dingin dan beberapa camilan, ya, Pak.”
Pria paruh baya itu keluar dan membiarkan kedua sejoli itu meneruskan pembicaraan mereka. Setelah pak Kadir terlihat masuk kedalam minimarket ia melepas tautan tangannya dan mengambil rahang sang suami dan mencium bibir itu. Nathan yang memang membutuhkan ini untuk menenggelamkan rasa amarahnya meraih tengkuk sang istri dan memperdalam ciuman mereka hingga keduanya sama - sama kehabisan udara.
“Jangan marah. Jika ada, Mas, disampingku mau itu mantan, Ibu mertua, atau siapapun yang menghinaku, aku tidak akan merasa sendiri. Jadi, jangan mempermasalahkan hal - hal yang tidak penting, ya?”
Nathan mengusap bekas salivanya di bibir Sasi dan tersenyum. “Tapi kali ini sepertinya aku akan terus marah jika ada yang berani menghina kamu.” Ucap Nathan sambil mengedipkan satu matanya, genit.
“Ish!”
Sasi menjauhkan tubuhnya dan bersedekap. Niatnya ingin membuat sang suami menyudahi amarahnya justru membuat pria itu ketagihan untuk marah.
Nathan tergelak. Ia meraih pundak Sasi, merangkulnya dan meletakkan kepala Sasi di dadanya yang masih berbalut jasnya itu.
“Aku tahu, kamu hanya tak ingin terjadi masalah yang lebih besar, tapi kau harus tau, Sayang. Jika Aku, Papa, dan Mama, akan lebih senang jika kamu bisa saja sedikit berani dan bersikap tegas.”
“Iya, Mas. Sasi akan coba. Perlahan, ya? Mas tahu semua hal ini baru untukku, bahkan aku tak pernah membayangkan bisa menjadi menantu, Papa dan Mama, yang notabene orang dengan kekuasaan dan pengaruh yang cukup membuatku nyaliku menciut.”
“Tapi, kamu kini bagian dari kami, Sayang. Jadi, belajarlah sedikit demi sedikit untuk menjadi jahat. Karena di lingkup kami kekuasaan adalah hal yang paling nyata.”
Setelah lama berbincang, Nathan memanggil pak Kadir dan meminta sang supir untuk membawa mereka kembali ke kediaman Suryabrata.
______
Brak
Suara pintu mobil yang ditutup cukup keras membuat pria yang sedang menanti wanita yang kini tengah berjalan sambil terus mengumpat itu bingung.
“Kenapa, Ma?” tanyanya.
Sang istri yang ditanya hanya diam dan terus berjalan masuk hingga ia sampai di ruang tamu. Ia berhenti dan langsung meletakkan pan*tatnya dengan keras di sofa. Sedangkan pria yang menjabat jadi suaminya mengikuti dengan bingung. Ia duduk di hadapan wanitanya dan bersabar hingga wanita itu membuka tenggorokannya.
“Papa, tau?” Pria itu menggeleng.
“Hah! Mantan menantu kita, sekarang jadi menantu, Suryabrata!”
__ADS_1
Mata pria itu melebar seketika. Ia terkejut sang istri mengetahui hal ini bersamaan dengan informasi yang ia dapat.
“Tahu darimana, Ma?”
“Dari mata kepala dan tubuh, Mama, sendirilah!”
“Maksud, Mama?”
Wanita itu kembali menghembuskan nafasnya kasar. Dia meletakkan tas yang ada di pangkuannya berpindah di sampingnya.
“Tadi, Mama, bertemu dengannya langsung di kediaman, Suryabrata.”
“Mama, kesana?”
Wanita itu menggeleng, “Mama hanya di ajak Jeng Nina. Mama, pikir ini kesempatan bisa ikut menjadi salah satu anggota geng itu. Karena, Mama, pikir dengan itu, Papa, akan mudah untuk bekerjasama dengan keluarga Suryabrata dan keluarga lainnya. Tapi saat kita saling menceritakan menantu masing - masing. Nyonya Anggi juga begitu, karena kabar jika Sakha menikah sudah cukup santer di kalangan konglomerat lainnya. Kami meminta berkenalan.”
“Dan, ternyata, Sasi, orangnya?” Nyonya Kira mengangguk.
Tuan Yusuf mencengkram sisi sofa karena ikut kesal. Sungguh semua ini di luar dugaan mereka. Kini jangankan merebut Aslan, bahkan ingin menyinggung Sasi tampak tidak mungkin lagi bisa mereka lakukan. Jika keluarga besar itu bertindak, bisa hancur reputasi keluarga mereka. Karena sudah dipastikan, siapa Sasi dan masa lalunya keluarga itu pasti sudah mengetahui jauh - jauh hari.
“Lalu, bagaimana, ini, Pah? Aslan?”
Pria itu menggeleng, “Kita hanya bisa menunggu sebuah peluang. Papa, tidak mau gegabah, karena bagaimanapun reputasi keluarga kita yang akan dipertaruhkan.”
Wanita paruh baya itu menarik nafas dan membuangnya kasar. Dia tidak menyangka jika mantan menantunya bisa seberuntung itu. Ini diluar ekspektasi mereka. Apalagi, jika Galih tahu. Anaknya dan menantunya itu bisa langsung pingsan karena terkejut.
______
“Mau tidak mau. Dia harus melakukan ini, Mi!”
“Tapi Pih, Sakha, sudah menikah. Para kolega beserta para ibu - ibu di perkumpulan juga sudah tahu. Kalau kamu kembali menyodorkan Dian, kau akan menghancurkannya!” serunya.
“Argh!” Pria yang sedang kalang kabut itu hanya bisa berteriak kesal.
Sedang di kediaman lain ada orang yang sedang menyeringai karena pembalasan yang setimpal akan segera berjalan.
__ADS_1
Bersambung...