MAHLIGAI KEDUA

MAHLIGAI KEDUA
Bab 38 - Sekolah Aslan


__ADS_3

Sudah dua minggu sejak kepulangan Nathan dari perjalanan bisnisnya. Pagi ini, pria tampan pewaris Suryabrata grup itu tengah menikmati sarapan paginya. Sejak kedatangannya dua minggu lalu dan sejak kedatangan ayah dan ibunya dari Jogja setelah menyelesaikan masalah kasus bunuh diri di hotelnya itu. Kini Nathan memiliki agenda tambah yaitu mengantar sang anak sambung ke sekolahnya.


Papa Banu yang memberitahu Nathan jika Aslan mendapat bullying di sekolahnya merasa tak senang. Dia bahkan menegur Sasi saat ia tak memberitahu pria itu tentang kondisi Aslan di sekolahnya.


Sasi yang tak ingin membuat sang suami repot, beralasan jika Alsan bisa menangani itu. Namun sayangnya, Nathan tak suka dengan alasan Sasi. Dia tak ingin Aslan mengalami satu hal yang akan merusak masa depannya. Apalagi jika keluarga Mahardika tahu, semua ini akan menjadi hal buruk untuk Sasi dan dia tak mau itu terjadi. Walau Sasi belum mengetahui jika mantan mertuanya tengah mencarinya dan berusaha merebut Aslan dari tangan Sasi, Nathan masih enggan mengatakan hal besar itu pada sang istri.


“Lan, sudah siap?” tanya papinya.


Aslan mengangguk sambil menghapus sisa susu di bibirnya menggunakan tisu. “Ayo, Pih!” Ajak Aslan sambil mengambil punggung tangan sang ibu dan kedua eyangnya.


Nathan mengambil punggung kecil istrinya dan mencium kening Sasi lembut, “Nanti aku akan pulang sedikit malam. Jika ada yang kau butuhkan hubungi aku,” pinta Nathan.


Sasi mengangguk dan mencium punggung tangan sang suami takzim.


Sungguh pemandangan ini membuat dua paruh baya yang masih menikmati sarapan berharap agar anak dan menantunya selalu diberikan kebaikan dalam hidup mereka agar semua kemesraan ini tetap terjaga hingga akhir hayat mereka.


“Aku berangkat, Ma, Pa.” Nathan berpamitan sambil mencium pipi kedua orang tuanya. Kebiasaan yang tak pernah Nathan tinggalkan dan itu adalah hal termanis yang membuat Sasi lebih mencintai suaminya. Cinta Nathan kepada kedua orang tuanya sudah mencerminkan bagaimana pria itu memperlakukannya selama 3 bulan di kediaman ini.


Sasi duduk kembali di meja makan dan meneruskan sarapannya. Sedangkan Aslan dan papinya berangkat menggunakan mobil milik sang ayah sambung menuju ke sekolah terlebih dahulu sebelum akhirnya ia berbalik arah menuju ke perusahaannya.


“Bagaimana, apa masih ada yang mengganggumu?” tanya Nathan pada Aslan yang sedang membaca buku bahasa inggris miliknya.


“Tidak, Pih, Sebelum Aslan berhasil membalas, mereka sudah pindah sekolah, bersamaan lagi.” Aslan nampak sedikit tidak suka dengan kepindahaan anak - anak itu.


“Kamu terlihat tidak suka, dengan kepindahan mereka? kenapa?”

__ADS_1


“Karena aku belum membalas apa yang mereka lakukan, kan jadi sia - sia aku belajar.” Kesal Aslan.


“Belajar?” tanya Nathan, Aslan mengangguk.


“ Jadi, mereka itu menghajarku hanya karena tidak percaya jika,Suryabrata di belakang namaku sekarang hanya mengada - ada dan bukan Suryabrata keluarga, Papi. Aku awalnya bingung memangnya kenapa dengan nama Suryabrata, setelah aku paham. aku datangi mereka ke kelasnya…”


“Ke kelas mereka? Maksud kamu?” potong Nathan.


“Jadi mereka itu sudah bermasalah denganku tiga hari sebelum pemukulan itu, Pih. Aku yang baru paham tentang hal yang mereka maksud dengan mendompompleng nama keluarga, aku bermaksud mendatangi mereka untuk menjelaskan duduk permasalahannya. Karena aku tidak suka dengan cara mereka menghinaku. Bahkan, teman - teman sekelasku juga mengira aku gila mengatakan jika ayahku dari keluarga Suryabrata. Hanya karena aku tidak mirip dengan, Papi.” Sungutnya.


Nathan yang mendengar ini cukup terkejut. Apakah sebegitu terkenalnya dia di kalangan masyarakat hingga ketika mereka tahu Aslan adalah bagian dari Suryabrata membuat mereka berasumsi jika Aslan berbohong.


“Lalu, kenapa mereka terlihat ketakutan sesaat setelah mereka memukulmu?” tanya Nathan.


“Aku bilang jika aku bisa membuktikan Suryabrata itu adalah keluarga, Papi, sekaligus berhasil masuk ke kelas enam dengan jalur akselerasi, mereka harus bergiliran menerima pukulanku.”


“Apa, Mama, tahu jika kamu mau masuk jalur akselerasi?” Aslan mengangguk.


Nathan menghela nafas mendengar penuturan Aslan. Kini dia merasa bersalah karena telah meragukan istrinya tentang kasus bullying yang menimpa anak sambungnya ini. Dia mengira Sasi sengaja diam karena betul - betul tidak mau merepotkan dirinya, ternyata kedua ibu dan anak itu sudah memiliki jurus jitu untuk membalas perilaku mereka dengan cukup elegan.


“Ya sudah. Tapi, jika ada masalah lagi seperti ini, kamu wajib mengatakannya pada, Papi atau Eyang kakung, kamu paham?”


Aslan mengangguk dan tersenyum senang. Dia senang karena Nathan memperhatikannya. Ibunya benar, Nathan hanya sibuk, sibuk bekerja untuknya dan sang ibu. Bukan tidak mau memperhatikannya karena hanya mencintai ibunya namun tidak dirinya. Kini dia paham, jika tidak semua yang kita lihat sesuai dengan kenyataan yang ada.


Tak lama obrolan itu terhenti setelah mobil yang mereka naiki tiba di depan pintu gerbang sekolah Nathan. Sekolah berbasis agama islam yang cukup bergengsi di kota Jakarta. Aslan mengambil punggung tangan Nathan namun sebelum berhasil menciumnya Nathan menarik tangan Aslan.

__ADS_1


“Kenapa, Pih?”


“Papi akan antar kamu sampai masuk kedalam. Papi juga mau bertemu dengan kepala sekolahmu, ayo!”


Aslan tersenyum senang. Ia membenahi letak tasnya dan keluar dari dalam mobil. Nathan meraih tangan Aslan dan mengaitkan kedua tangan mereka. Dua pria tampan beda generasi ini menjadi tontonan para siswa serta beberapa guru wanita yang sedang berjalan masuk kedalam area sekolah. Mereka mencuri - curi pandang kala Nathan berjalan dengan tubuh tegapnya menuju ke kelas Aslan.


Beberapa guru bahkan ada yang memegang dadanya terkejut saat melihat pria yang digosipkan masih lajang itu menggandeng tangan Aslan dengan senyum tipisnya.


“Astaga, jadi benar jika anak itu dari keluarga Suryabrata? Suryabrata yang ini? Aku kira isapan jempol saja.”


Bisik - bisik terdengar begitu merdu di telinga keduanya. Namun sepertinya hal ini sama sekali tak mengganggu Nathan. Dia tetap tenang mengantar Aslan hingga ke depan kelas. Setelah saling berpamitan, Nathan segera menuju ke ruang kepala sekolah.


“Maaf, apa, Pak Kepala Sekolah, sudah datang?” tanya Nathan yang sudah ada di depan ruangan bertuliskan RUANG KEPALA SEKOLAH pada salah satu guru yang sedang melewatinya.


“Sudah, Pak. Beliau sudah di dalam ruangannya,” jawabnya cepat.


Nathan mengangguk dan mengetuk pintu. Beberapa detik kemudian pintu berwarna coklat itu terbuka.


“Tuan Suryabrata!” Pria dengan tubuh sedikit gempal itu terkejut melihat Nathan ada di hadapannya.


“Selamat pagi,” sapa Nathan.


“Pa .. Pagi, Tuan.”


“Astaga! Kemarin, Ayahnya, sekarang anaknya.” Batin pak kepala sekolah. Sambil meratapi nasibnya yang sungguh tidak beruntung karena gara - gara siswa bandelnya membuatnya harus berurusan dengan dua orang yang tak bisa disinggung ini.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2