MAHLIGAI KEDUA

MAHLIGAI KEDUA
Bab 12 - Nyonya Suryabrata


__ADS_3

Sasi membulatkan kedua manik matanya melihat seseorang yang dia temui satu bulan lalu berada di hadapannya sekarang. Sedangkan Wanita paruh baya penghuni kamar itu melaju hingga ke dapur tanpa memperdulikan pertanyaan anaknya.


Pria yang meminta Sasi untuk jadi istrinya itu mendadak kaku dan bisu. Dia yang sudah satu bulan tidak bertemu dengan si janda itu tak bisa berkata apa - apa ditambah kini di ruangan itu tidak hanya ada mereka saja.


Sasi yang tau diri memilih diam tidak menanyakan apapun pada pria itu kenapa tidak memberinya kabar apapun. Sasi pun tetap berdiri di tempatnya hingga sang nyonya pemilik kamar itu datang kembali.


“Kamu, kenapa tidak duduk?” tanya wanita paruh baya yang tak lain adalah ibu kandung dari Nathan.


“Sa saya..”


“Sudah duduk, saya juga belum membayar jasamu ‘kan?” Sasi mengangguk dan langsung menuju ke sofa yang ada disana.


“Sakha tolong ambilkan minuman botol di kulkas, ya!”


Pria yang dipanggil dengan sebutan Sakha itu mengangguk dan berlalu pergi untuk mengambil minuman. Sasi yang mendengar nama berbeda yang nyonya itu panggil pada pria itu meremas kedua tangannya. Kenapa nama panggilannya berbeda? Apa dia tertipu lagi?


“Kamu sudah lama menjadi driver?” tanya sang nyonya.


Sasi mengangguk, “Sudah 4 tahun Ibu.”


“Wah lama juga yah, jika dilihat kamu masih muda lo, berapa usiamu?”


“Usia saya hampir 31, Ibu.”


“Sudah menikah?” tanya si ibu kembali.


Sasi kembali mengangguk, “Sudah, tapi 4 tahun lalu saya bercerai dan sekarang saya hidup bersama dengan anak semata wayang saya.”


“Kamu, janda?” ibu itu terkejut. Terlihat dengan intonasi yang tiba - tiba meninggi.


“I iya, saya janda,” ucap Sasi tergagap. Dia terkejut wanita di hadapannya ini meninggikan suaranya.


Bagai di interogasi Sasi beberapa kali menelan salivanya. Takut jika apa yang dia lakukan dengan Nathan diketahui wanita dihadapannya ini. Sungguh dia tidak ingin dicap wanita yang tidak benar. Apalagi menurut penglihatannya wanita paruh baya di hadapannya ini mirip dengan nyonya - nyonya besar yang tidak suka jika anaknya memiliki pasangan dari kalangan bawah seperti mantan ibu mertuanya itu.


“Wah, hebat ya. Single Mom, merawat anak seorang diri. Lalu, mantan suamimu, dimana?”


Sasi menggigit bibirnya, “Di dia ada di jakarta, Ibu.”


“Di jakarta? bekerja?” Sasi mengangguk.


“Tapi urusan anak masih komunikasi ‘kan?” Sasi menggeleng.

__ADS_1


“Kok begitu?” tanya sang nyonya tampak sedih mendengar penuturan Sasi.


“Kami berpisah dengan cara tidak baik - baik Ibu. Keluarganya tidak suka dengan saya yang hanya anak dari seorang pria miskin penjual gorengan.”


Wanita paruh baya itu menatap Sasi sendu. Masih saja ada di jaman sekarang menilai seseorang karena kastanya. Sungguh malang wanita ini. Ibu dari Nathan itu mendekat dan langsung memeluk Sasi. Membuat si janda kembang itu terlihat beberapa kali mengedipkan kedua matanya.


“Yang sabar, ya. Pasti nanti kamu ada jodoh yang lebih baik lagi.”


“Atau kamu mau..” wanita paruh baya itu melihat sekeliling dan tidak menemukan anaknya yang dimintai tolong untuk mengambil minum untuk Sasi.


“Duh, Sakha mana sih!”


“Sakha!” seru sang Ibu.


Pria bernama Nathan Arsakha itu terkejut dan langsung berdiri tegak berjalan menghampiri sang ibu setelah lama berdiri di pinggir pintu menyaksikan Sasi yang lebih mirip diinterogasi daripada mengobrol.


“Apa sih, Ma!” seru Nathan.


“Nih, minumnya.”


“Lama tau!” ujar sang ibu kesal.


“Aku habis dari kamar mandi,” tutur Nathan berkata seadanya.


Sasi yang memang cukup haus langsung membuka botol minuman dengan perasa jeruk itu dan meneguknya perlahan.


“Terima kasih, Bu.”


Wanita paruh baya itu mengangguk namun sedetik kemudian wajahnya berubah sendu tatkala Sasi..


“Kalau begitu saya pamit, sudah cukup sore.”


“Kenapa buru - buru?”


Sasi tersenyum ramah, “Ini sudah jadwalnya saya pulang dan mempersiapkan makan malam untuk anak saya. Karena kalau malam terkadang ada pekerjaan yang mengharuskan saya berjalan kembali.”


“Sakha, antarkan Sasi sampe bawah, ya. Bilang dia tamu Mama, dengar kamu!”


Pria yang gagah dan berwibawa itu hanya bisa mengangguk mengiyakan permintaan sang ibu. Jika di dunia bisnis Nathan disegani bahkan para tetua pun tidak berkutik dihadapannya. Namun hanya satu orang ditakutinya, ia adalah sang ibu sendiri. Bahkan ayahnya yang perkasa dan garang juga sangat takut dengan istrinya itu. Karena dia adalah wanita penguasa di kediaman besar Suryabrata.


“Sasi, ini untuk jasa kamu ya?” wanita paruh baya itu mengulurkan sejumlah uang kepada Sasi.

__ADS_1


“Maaf, Ibu. Ini terlalu banyak,” tolak Sasi sambil mengulurkan kembali uang dengan lembaran merah yang cukup banyak itu.


“Jangan! Anggap saja bayaran ini untuk jasa kamu menemai saya mengobrol barusan, diterima, ya!” pintanya sedikit memaksa.


Sasi yang memandang ke arah Nathan justru mendapat anggukan dari pria itu agar menerima uang yang diberikan oleh ibunya.


“Kalau begitu, terima kasih. Saya pamit,” Sasi tersenyum senang dan tak lupa mengucap alhamdulillah di dalam hatinya.


Ibu Nathan mengangguk, dia menepuk pundak Sasi pelan dan tak lupa mengatakan hati - hati kepada Sasi.


Pria dan wanita yang sebelumnya sudah saling mengenal itu berjalan bersama, sejajar dan seirama. Walau tidak ada obrolan disana namun Sasi sungguh senang masih ada orang baik seperti ibu pria di sampingnya ini yang tidak menganggap remeh pekerjaan dan strata sosialnya. Namun Nathan yang cukup merindukan wanita itu sedikit merasa kesal karena dia diabaikan.


“Kau tidak bertanya apapun padaku?” ujarnya membuka percakapan.


“Maksud, Mas Nathan?” jawab Sasi.


“Kau tidak menunggu kedatanganku untuk menagih janji?” ucap Nathan membuat Sasi langsung sedikit menjauhkan tubuhnya dengan Nathan.


Sasi menunduk dan tidak berani menatap Nathan seperti sebelumnya.


“A apa, Mas Nathan, masih menginginkan perjanjian itu terlaksana?”


Nathan yang melihat Sasi menunduk membuatnya bertambah kesal, “Apa aku semenakutkan itu hingga kau tidak mau menatapku?”


Telapak tangan Sasi berkeringat, ia gugup mendapati Nathan berbicara keras padanya.


“Ti tidak, hanya saja bukannya Mas yang tidak ada kabar, lalu kenapa seakan - akan saya yang salah.”


Sasi mengatakan itu dengan cukup lirih namun masih terdengar jelas ditelinga Nathan. Nathan merubah posisi tubuhnya namun sebelum tangannya berhasil menggapai Sasi pintu lift itu terbuka.


“Sial!” benak Nathan berseru.


Sasi segera keluar dari lift dan berjalan menuju pintu keluar meninggalkan Nathan dengan segala unek - unek yang belum berhasil dikeluarkannya.


“Sas!” panggil Nathan sedikit berteriak.


Sasi berhenti tepat di samping kendaraan roda duanya.


“Bisa kita bicara, besok?” pinta Nathan.


Sasi mengangguk. Sadar akan orang - orang yang memandang aneh karena dia dan Nathan mengobrol membuat Sasi bergegas pergi dari sana. Sedang Nathan hanya memandang kepergian Sasi dengan sendu.

__ADS_1


“Aku belum mengatakan maaf.”


__ADS_2