MAHLIGAI KEDUA

MAHLIGAI KEDUA
Bab 19 - Malam Nathan dan Sasi


__ADS_3

Setelah melepas tautan tangannya, Nathan sedikit menggeser duduknya. Dia terdiam beberapa saat dan kembali mulai bersuara.


“Aku tidak mengatakan perihal perjanjian kita. Aku juga tidak mengatakan jika aku membantumu terlepas dari mantan suamimu itu tapi mereka tahu kamu mantan menantu keluarga Mahardika. Aku hanya mengatakan pada Mama dan Papa jika aku mengenalmu tanpa sengaja dan kembali bertemu saat Mama menjadi pelanggan kamu.”


Sasi tidak menanggapi pernyataan Nathan. Namun dia cukup lega jika Nathan tidak mengatakan apa yang menjadikan mereka menikah, selain bujukan dari kedua mertuanya ada hal yang lebih dari itu yaitu saling menguntungkan dari pernikahan itu sendiri.


“Jadi sekarang, apa kita menikah karena ingin beribadah atau hanya saling menguntungkan seperti kata, Mas Nathan waktu itu?”


Nathan langsung menoleh menatap istri barunya itu tajam. Dia tidak menyangka jika Sasi menganggap serius perkataannya waktu itu. Tapi jika ditelaah kembali memang semua kesalahan ada padanya. Tadinya Nathan berpikir akan menikahi Sasi tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya dan akan memperkenalkan Sasi setelah dia mempersiapkan semuanya dengan baik. Tapi tidak disangkan justru Sasi dipertemukan oleh sang Mama yang hobi jalan - jalan tanpa memberitahu siapapun jika sudah menjadi keinginannya.


Sang ibu yang diam - diam menyanjung Sasi dihadapannya membuat Nathan akhirnya mengatakan jika mereka pernah bertemu dan mengetahui jika wanita ini janda dengan satu anak. Nathan yang menyatakan ketertarikannya terhadap Sasi tidak menyangka jika sang ibu langsung menyetujui niat Nathan begitu saja.


“Mas?” panggil Sasi yang tak segera mendapat jawaban dari suaminya itu.


“Aku tidak tahu bagaimana kita harus memulai ini. Tapi aku hanya ingin kamu tahu, bahwa aku serius dengan mengajakmu berumah tangga dan melengkapi diri satu sama lain. Aku bisa membohongi semua orang namun aku tidak bisa membohongi hatiku jika aku memilihmu bukan hanya karena logika tapi juga hatiku,” jawab Nathan.


Sasi menarik kedua ujung bibirnya mendengar Nathan yang ternyata serius dan tidak berniat untuk membuat pernikahan ini hanya lelucon saja.


“Terima kasih, Mas. Jika niatmu baik, maka aku akan teguh dan ikut pada perintah suamiku selagi itu baik dan tidak keluar dari norma agama,” ujar Sasi.


“Alhamdulillah.”


“Maaf jika awalnya aku terdengar mempermainkan sebuah pernikahan, tapi aku sungguh ingin memiliki seseorang yang mau bersabar atas diriku yang tidak sempurna ini. Maaf jika dimasa depan aku akan menyusahkanmu, dengan segala cemooh dan pemberitaan yang tidak baik.”


Sasi menyentuh kedua tangan Nathan dan mengusapnya, “Kini, semua bisa kita lakukan bersama Mas. Kata Mama Mas Nathan juga sedang melakukan terapi dan pengobatan ‘kan?” Nathan mengangguk.


“Sasi akan bantu, Mas. Jika takdir tidak berpihak pada kita, mungkin memang itu yang harus kita jalani. Sasi harap Mas bersabar dan jangan berkecil hati terus, ya?”


Nathan tersenyum mendengar Sasi mendoakan dan mau menerima semua kekurangannya, “Terima kasih Sasi. Terima kasih mau berbesar hati dan bersabar atas kekuranganku,” ujar Nathan.


Nathan menarik bahu sang istri dan memeluknya erat. Semoga apa yang dia yakini sekarang akan berakhir dengan baik. Dia harap Sasi adalah takdir yang Tuhan berikan padanya di sela - sela ikhtiarnya dalam mengobati kelainan pada dirinya.

__ADS_1


“Sudah malam, tidur yuk, Mas!”


Nathan yang mendengar kata tidur merotasikan bola matanya ke atas di sela pelukannya.


Apa kau tidak ingin melakukan sesuatu di malam ini?” tanya Nathan.


Sasi menelengkan kepalanya, “Melakukan apa, Mas? Malam - malam seperti ini?” tanyanya.


“Kau tidak paham, atau sungguh ingin menggodaku?” tanya Nathan.


Sasi yang tidak paham dengan perkataan suaminya mengerutkan dahi, “Apa sih, Mas? Sasi nggak paham?”


Suami tampan dengan alis tebal dan hidung mancung bagai moncong pesawat itu mendengus. Apa iya istrinya sepolos ini? Bukankah dia seorang janda harusnya lebih paham daripada Nathan yang perjaka.


“Apa kamu tidak paham dengan kata malam pertama?” tanya Nathan yang tak lagi bisa mengedalikan rasa kesalnya.


Sasi mendelik, sejurus kemudian wanita itu tetawa. Dia tidak menyangka jika kegiatan malam yang Nathan katakan adalah hal itu.


“Oh, yang Mas Nathan maksud adalah itu.”


Sasi terbahak. Dia sungguh tidak paham karena sudah lama juga dia tidak melakukan kegiatan menguras tenaga dan keringat itu. Namun Sasi sedikit gamang akan hal itu, apakah Nathan bisa melakukannya dengan baik jika Nathan sediri memiliki masalah pada..


“Em.. Mas. Maaf tapi, apakah itunya berfungsi?” tanya Sasi pelan, takut Nathan akan tersinggung.


“Jika dia juga tidak mampu berdiri untuk apa aku menikah,” jawab Nathan kesal.


“Aku hanya memiliki kelainan pada pembentukan sp*r*ma. Tapi dia masih normal dan bisa berdiri tegak. Masih bisa memuaskan tubuhmu di atas ranjang,” seru Nathan.


Sasi yang mendengar intonasi Nathan meninggi spontan menutup mulut pria itu menggunakan kedua tangannya.


“Mas, jangan keras - keras kalau ada yang dengar gimana! Malu, tahu!”

__ADS_1


Nathan langsung melapas tangan Sasi dan menangkup kedua pipi wanita itu, “Asal kamu tidak membuat kegaduhan layaknya berperang. Tidak akan ada yang mendegarmu walau kau berteriak dengan normal.”


“Memangnya bagaimana teriak dengan normal itu, Sasi baru tahu,” cibirnya.


Tak ingin kehabisan waktu karena ocehan Sasi yang tidak paham ini dan itu. Nathan langsung saja melakukan pemanasan utama dengan melu*mat bibir cerewet yang istrinya miliki.


“Emm..”


Sasi berteriak tertahan kala Nathan menekan dengan penuh hasrat yang menggebu. Dia pukul dada sang suami agar memberinya ruang untuk bernafas.


“Huh.. huh..”


“Pelan - pelan, Mas. Sasi belum ambil nafas!’ geramnya.


Nathan yang gemas hanya bisa tertawa melihat wajah Sasi yang merah karena kehabisan udara.


“Habisanya kamu cerewet,” ucap Nathan membuat Sasi malu.


“Bukan cerewet hanya saja Sasi kan sudah lama tidak melakukannya. Selam ini Sasi juga tidak pernah dekat dengan pria manapun, Jadi ya kaku,” lirihnya malu.


Nathan yang gemas langsung mendekap erat wanita itu masuk kedalam pelukannya, sambil mengusap surai Sasi lembut.


“Maaf, habisnya, Mas gemas. Kamu cerewet kaya Mama.”


Sasi yang malu hanya bisa menyembunyikan rona wajahnya yang sudah seperti tomat matang itu didada Nathan.


“Lanjutin ya?” tanya Nathan.


Sasi mengangguk dan tersenyum. Sebelum memulai kembali Nathan terlebih dulu berdoa agar apa yang mereka lakukan ini menjadi pahala baik untuk keduanya.


Perlahan Nathan merebahkan tubuh sang istri di ranjang dan memposisikan tubuhnya disamping Sasi. Dengan lembut Nathan mulai menyatukan bibr mereka dan saling memanggut mesra. Sasi yang sudah lama tidak merasakan sensai ini merasa seperti pertama kali melakukan ini.

__ADS_1


Satu persatu Nathan membuka kancing baju sang istri dan melepas tautan bibir mereka dan melanjutkan menenggelamkan kepalanya di kedua bongkahan menantang milik istrinya.


Satu ******* lolos dengan indah dari mulut Sasi kala sang suami berhasil menguasai seluruh tubuhnya, dan akhirnya malam indah penuh gelora itu mereka habiskan dengan saling memiliki satu sama lain dalam balutan kata halal.


__ADS_2