MAHLIGAI KEDUA

MAHLIGAI KEDUA
Bab 18 - Obrolan Di Malam Pengantin


__ADS_3

Setelah makan malam selesai. Sasi dan Nathan pindah ke kamar hotel yang lain untuk beristirahat. Tak ingin mengganggu kemesraan dua sejoli itu sang ibu meminta sang anak untuk mengambil kamar yang lain agar mereka bisa lebih leluasa melakukan apa yang mereka mau.


Sasi yang tadinya menolak akhirnya menurut setelah Aslan membujuk sang ibu atas permintaan eyang putrinya.


“Aslan?” panggil nyonya Anggi.


“Iya, Eyang. Ada apa?”


“Kamu mau sekolah di rumah atau sekolah umum, Nak?” tanya nyonya Anggi.


“Maksud sekolah dirumah, apa Eyang?”


“Homeschooling, Sayang.” Aslan manggut - manggut.


“Emm.. ikut Mama saja, Eyang. Nanti Aslan dengar semua yang Mama mau,” jawabnya.


Nyonya Anggi lagi - lagi tersentuh dengan ucapan Aslan. Jika diingat dengan baik. Tingkah Aslan lebih mirip dengan Nathan waktu kecil. Jika semua hal sudah ditetapkan oleh sang ibu jangankan membantah, berkata dengan intonasi lebih tinggi saja Nathan tak pernah melakukannya.


“Ya Allah. Semoga anak ini bisa membuat kebahagiaan di keluarga baru Ibunya,” doa nyonya Anggi dalam hati sambil mengusap lembut kepala Aslan yang sedang mengerjakan pekerjaan rumahnya.


Di kamar lain dua sejoli yang baru saja mengarungi rumah tangga barunya sedang melakukan kegiatan mereka masing - masing. Jika Nathan sedang sibuk dengan pekerjaannya, Sasi sibuk dengan membaca majalah yang tersedia di kamar itu. Ada tiga majalah dan sudah Sasi baca seluruhnya. Bahkan dia hafal siapa saja yang diberitakan di dalamnya karena terlalu seringnya dia membolak - balik majalah itu.


“Sholat isya sudah, mau ngapain lagi aku ya. Ini majalah juga sudah selesai aku baca,” gumam Sasi sambil menyandarkan tubuhnya di kursi kayu yang didudukinya.


Sasi yang bosan memilih naik ke atas ranjang dan menyalakan Tv yang ada disana. Dia pikir jika sambil menonton dia akan mudah lelah dan akan cepat tertidur.


Tiga puluh menit, Sasi yang sudah memutar seluruh chanel yang ada di Tv mulai merasa bosan. Kegiatan yang sebenarnya tidak pernah Sasi lakukan membuatnya dilanda rasa resah dan membuat pikirannya tidak karuan.


Biasanya di jam seperti ini dia sedang menemani Aslan mengerjakan PR. Kalau tidak dia akan bersih - bersih rumah agar besok paginya pekerjaan yang dilakukannya sedikit banyak sudah dicicil dan diselesaikan.

__ADS_1


“Ya Allah, ternyata aku nggak bisa diem saja seperti ini. Ku pikir dengan seharian tidak bekerja akan membuatku sedikit beristirahat, ternyata aku bosan,” gumam Sasi dalam benaknya.


Sasi yang terbiasa lelah karena bekerja keras seharian. Sangat merasa tidak berguna hanya berdiam diri seperti itu. Dia justru iri pada Nathan yang masih memiliki kegiatan walau waktu sudah menunjukkan pukul 8.30 malam.


Tak ingin terus - terusan gelisah. Sasi memilih mengambil air wudhu dan menunaikan salat sunah yang biasa ia lakukan sebelum tidur. Berharap dia bisa segera beristirahat karena besok pagi dia akan ke sekolah Aslan untuk mengurus kepindahan Aslan ke Jakarta. Walau ini berat untuk Sasi namun bagaimanapun dia harus mengikuti kemanapun suaminya melangkah walau ke lubang semut sekalipun.


Nathan yang sedang asyik dengan dunianya tiba -tiba teringat akan Sasi yang kini berada bersama dengannya di kamar itu. Hatinya mulai merasa bersalah karena telah membuat istri barunya itu merasa tidak mendapat perhatian darinya. Tak ingin membuat Sasi sedih, dia langsung menutup laptop dan merapikan buku catatan miliknya dan merapikan meja kerja itu.


“Sas?” panggil Nathan kala dia tak lagi melihat sang istri di ruang tamu. Karena terakhir kali, setelah mereka masuk kedalam kamar, Sasi membaca majalah yang ada di atas meja ruang tamu.


Nathan mulai menyusuri ruangan itu perlahan hingga dia mendapati Sasi yang sedang menengadahkan kedua tangannya di atas sajadah di dalam kamar tidur mereka.


Nathan berdiri di sisi pintu dan menyandarkan tubuhnya di sana sambil bersedekap. Dia terus menatap sang istri tanpa ingin mengganggu, dia takut akan membuat Sasi terkejut dan mengganggu doa yang sedang di panjatkannya jika dia bersuara.


Sasi yang telah menyelesaikan kegiatan beribadahnya langsung beranjak dari atas sajadah dan melepas mukenanya.


“Sejak kamu dengan khusuk berdoa. Minta apa sih?” tanya Nathan sambil mendekat dan langsung mencium kening Sasi, membuat wanita itu melebarkan kedua matanya.


“Ng.. nggak minta apa - apa sih,” jawab Sasi terbata. Dia terkejut karena Nathan tiba - tiba mencium keningnya tanpa permisi.


“Terus?”


“Apanya?” tanya Sasi.


Nathan yang mendengar Sasi kembali bertanya justru tersenyum, apalagi melihat wajah Sasi yang tampak malu - malu karena ciumannya tadi. Membuatnya ingin terus menggoda wanita polos itu.


“Kamu mau tidur?” tanya Nathan.


Sasi terdiam sebentar dan langsung menggeleng kecil, “Aku bosan, Mas.”

__ADS_1


Nathan mengerutkan dahinya mendengar Sasi mengatakan bosan kepadanya. Dia mendekat dan menarik tangan Sasi dan menggiring Sasi ke ranjang dan duduk di sisinya.


“Bosan?” Sasi mengangguk.


“Aku hanya tidak terbiasa dengan tidak melakukan apapun Mas. Aku terbiasa bergerak kadang hingga larut malam dan sekarang aku hanya berdiam diri saja.”


Nathan mengusap kedua tangan Sasi yang berada di dalam genggaman tangan besarnya,” Maaf ya, mungkin mulai sekarang kamu harus membiasakan diri seperti ini. Karena di keluargaku pantang membiarkan wanita bersusah payah apalagi sampai ikut bekerja dan menyusahkan dirimu. Hotel ini memang atas nama Mama. Tapi semua masalah keuangan dan pengurusan semua diserahkan oleh orang lain.”


Sasi yang mendengar jika hotel yang dia sedang tempati ini milik sang ibu mertua melebarkan kedua matanya dan menatap Nathan, “Jadi hotel ini atas nama Mama?” Nathan mengangguk.


“Masih ada beberapa usaha lain juga di Jakarta yang Papa buat khusus untuk Mama. Namun, sama seperti hotel ini semua pengurusan dilakukan oleh orang lain. Mereka hanya melaporkan setiap perkembangan usaha itu jika Mama datang berkunjung saja.”


Sasi tiba - tiba saja mendadak kagum kepada ayah mertuanya. Ternyata ada suami yang memperlakukan wanitanya dengan begitu baik. Bahkan semua hal di lakukan hanya untuk menyenangkan istri bukan untuk memperoleh keuntungan.


“Papa sayang sekali dengan Mama ya, Mas?” tanya Sasi.


“Sangat. Karena bagi Papa, Mama tidak hanya istri dia selalu memuji wanita galak itu dengan seluruh hidupnya,” ujar Nathan lengkap dengan tawanya.


“Mereka bahkan tidak pernah bisa berjauhan. Jika Mama ke sini dan Papa bisa menemani, mereka pasti pergi berdua. Jika tidak maka biasanya akan memintaku untuk menemaninya seperti waktu itu,” ujar Nathan.


Sasi mengedipkan mata sambil manggut - manggut. Dia sangat bahagia mendengar ternyata kedua mertuanya itu memang mempunyai hati yang tulus. Bahkan mereka sangat mendukung Nathan untuk menikah dengannya yang notabene bukan siapa - siapa dan tak memiliki apa - apa.


“Apa aku boleh bertanya?”


“Silahkan,” kata Nathan.


“Apa, Papa dan Mama mendukung Mas Nathan menikahiku, atau Mas Nathan memaksa mereka? Dan apa, mereka tahu tentang perjanjian kita itu?”


Nathan menghela nafasnya dan melepas kedua tautan tangan mereka.

__ADS_1


__ADS_2