MAHLIGAI KEDUA

MAHLIGAI KEDUA
Bab 42 - Saat itu..


__ADS_3

5 tahun lalu…


Kediaman Mahardika


Suara adu mulut antara suami dan istri yang terus saja menggaung sejak satu jam lalu masih terdengar hingga adzan magrib berkumandang. Sasi yang masih terduduk dengan derai air mata yang mengalir deras di pipinya tak membuat Galih yang telah melakukan kesalahan iba pada wanita yang ia bawa kerumah ini dengan penuh cinta 4 tahun lalu.


Wanita yang dia elu - elukan bahkan membuat kedua orang tuanya murka padanya tak menyulutkan niat Galih untuk meminang gadis yang sudah ia cintai sejak mereka duduk di bangku SMA. Sasi yang cerdas di setiap momen membuat Galih jatuh cinta dan memutuskan akan membuat gadis yang selalu di sanjung oleh banyak laki - laki itu hanya menjadi miliknya.


Kedua orang tua Galih yang tadinya tidak setuju dengan Sasi akhirnya terpaksa menyetujui keinginan sang anak setelah Galih mau memenuhi semua syarat yang mereka ajukan pada keduanya.


Sasi yang sangat mencintai Galih karena kebaikan serta Galih yang selalu menghormatinya membuatnya tak bisa berpaling walau dengan seorang Farid yang begitu baik padanya.


Pesona Galih yang sudah menghipnotisnya tak lagi membuat Sasi melihat laki - laki baik manapun karena dimata, hati dan pikirannya hanya ada Galih seorang. Namun, siapa sangka setelah keduanya memiliki Aslan, justru Galih mulai berubah dan semua itu semakin terlihat kala Aslan menginjak usia dua tahun.


Galih yang biasanya selalu memperlakukannya dengan baik dan lembut, mulai kasar, bahkan sering meninggalkan Sasi begitu saja diatas ranjang bagai seorang pelacur.


Malam itu. Malam dimana ia mengetahui perselingkuhan sang suami dengan wanita yang memang memiliki derajat yang lebih tinggi darinya.


Ia yang berpikir akan mendapat simpati dari kedua mertuanya justru, malah mendapat cemooh dan menganggap apa yang mereka katakan 4 tahun lalu benar adanya. Jika Galih, hanya terpesona namun tak benar - benar mencintai dirinya.


Dia yang mengharapkan Galih masih akan mempertahankan dirinya dan anaknya justru dibuat murka. Karena dengan terang - terangan Galih membawa wanita itu lengkap dengan bayi perempuan yang berada di gendongan sang ibu mertua.


Saat keduanya sedang dalam kondisi yang tak lagi bisa dijabarkan. Sasi tiba - tiba mendapat telepon dari tetangga rumah ayahnya, jika pria yang sangat ia cintai dan hormati di sepanjang hidupnya terkapar di dalam kamar mandi. Sasi yang tak lagi memikirkan apapun seketika meninggalkan Galih begitu saja menuju ke kediaman, ayahnya.


Sasi yang memang tidak pernah memegang uang sepeserpun hanya bisa berjalan kaki sambil terus melebarkan langkahnya. Namun tak disangka saat ia hampir sampai di gang masuk di kediaman ayahnya, sebuah mobil sedan hitam dari arah sebaliknya kehilangan kendali dan menabrak trotoar jalan yang dilewati oleh kaki kecilnya.


Sasi yang terkejut langsung berteriak meminta tolong, sedangkan orang - orang yang ada di sana hanya bisa melihat dan tak berani melihat kondisi si pengendara.


Sasi yang teringat sang ayah berencana melanjutkan langkahnya namun tanpa dia duga, dari kap mesin mobil itu tiba - tiba mengeluarkan percikan api.


Sasi yang tadinya ragu akhirnya memilih menyelamatkan si pengendara dengan beberapa orang yang ada disana. Dengan penuh keberanian dia menarik si pengendara laki - laki yang hampir kehilangan kesadarannya dan sudah bersimbah darah di wajahnya keluar dari dalam mobil.


FLASHBACK OFF

__ADS_1


Nathan yang mendengar cerita sang istri tanpa sadar meneteskan air matanya. Dia tidak menyangka demi menyelamatkan nyawanya, Sasi harus kehilangan ayahnya dan satu - satunya keluarganya.


Tangan Nathan terulur mengusap tetesan airmata di pipi sang istri. Sungguh hati Nathan bagai teriris sembilu mendengar semua hal yang hampir terjadi bersamaan di hidup sang istri. Ayahnya meninggal, ia dibuang oleh keluarga suaminya dan di biarkan pergi begitu saja tanpa bekal apapun.


Bahkan Sasi bisa tiba di jogja dengan selamat dan mendapat tempat tinggal di kontrakan yang ia tempati dengan Aslan semua itu berkat pengasuh Aslan yang begitu baik padanya.


Nathan yang mendengar isak tangis sang istri semakin menjadi memilih turun ke lantai dan berjongkok dan memposisikan tubuhnya berhadapan dengan sang istri.


“Maaf, Sayang. Karena menolong, Mas. Kamu tidak bisa bertemu dengan, Ayahmu, ‘tuk yang terakhir kalinya. Maaf, Sayang.”


Sasi menahan tangisnya dan menggeleng cepat. Baginya, semua hal yang terjadi di hidupnya adalah takdir yang sudah harus ia jalani. Dicintai, dicampakan, hingga kehilangan ia sudah merasakan semua itu dalam satu waktu. Bahkan dari usianya 4 tahun Sasi sudah tak lagi melihat wujud ibunya yang pergi meninggalkannya kembali kepada sang khaliq.


“Lalu, apakah kamu masih punya sangkut paut dengan keluarga, Mahardika, selain masalah perceraianmu?”


“Tidak, Mas. Hanya ijazah sekolahku saja.”


“Kenapa, kamu tak mengatakan padaku. Jika ijazah milikmu mu, masih disana?”


“Yang aku ingin hanya perceraianku legal, Mas. Aku tak berpikir tentang ijazah lagi. Lagi pula, sekalipun aku sarjana ekonomi dengan nilai cumlaude. Siapa, yang mau mempekerjakan, aku, yang sudah usia segini dan nggak ada pengalaman.”


“Siapa?”


“Aku.”


Seketika, Sasi mendongak menatap sang suami. Dia mengusap ingusnya dan menarik nafasnya.


“Mas, kalau bercanda kira - kira, dong. Jangan karena mau nyenengin Sasi, Mas bilang begitu.”


“Ilmu itu nggak akan hilang, Sayang. Jika kamu mau belajar lagi dan memulainya pelan - pelan, semua yang dulu kamu cita - citakan pasti bisa kamu raih kembali. Percaya pada, Mas.”


“Mas, Sasi, boleh tanya?” Nathan mengangguk.


“Apa yang membuat, Mas, yakin. Jika, yang menolong, Mas, waktu itu adalah aku?”

__ADS_1


“Bau tubuhmu.”


“Bau, tubuhku?”


“Sebelum, Mas, akhirnya kehilangan kesadaran. Mas, mencium aroma yang tak pernah, Mas, cium sebelumnya. Aroma keringat bercampur minyak telon, yang tak pernah, Mas, temukan di wanita manapun.”


“Aroma khas bayi yang menenangkan itu seketika membuat sebuah ingatan yang tak pernah, Mas, lupa. Hingga sekarang.” Lanjut Nathan.


“Maka dari itu sikap, Mas, padaku waktu pertama bertemu aneh begitu?”


“Bukan, aneh, Sayang. Hanya sedikit terkejut saja, setelah 5 tahun baru kali itu, Mas, mencium wangi seperti itu lagi.”


“Tapikan, bisa saja. Mas, salah orang.”


“Mungkin, jika Mas, tidak mencari tahu lebih dulu tentangmu sebelum pertemuan kita selanjutnya itu.”


“Ya, pertemuan yang aneh!”


Nathan terkekeh mendengar ucapan sang istri. Yah, pertemuan yang aneh, namun karena pertemuan itu kini mereka bisa bersama dan menjadi satu keluarga.


Tanpa keduanya sadari. Dua paruh baya yang masih di luar cemas akan kondisi menantunya tak menyangka jika sejoli yang ada di dalam sedang tertawa dan menangis karena mengingat semua kejadian yang telah lalu.


“Mah, kita turun saja, yuk! Sepertinya tidak terjadi apapun pada mereka.”


“Tapi, Pah?”


“Sudah, Ayo!”


Tuan Banu yang sedikit mendengar tawa kecil dari dalam kamar sang anak. Seketika menghela nafas lega, karena ketakutan yang merajai hatinya tak terjadi.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Bersambung...

__ADS_1


Terima kasih untuk para pembaca setia yang sudah selalu menyempatkan menekan tanda like dan memberikan komen untuk setiap babnya..


Lope lope sekebonn...pokoknya mah,,❤️❤️❤️


__ADS_2