
Setelah perbincangan dengan salin memeluk itu dibubar paksa oleh sang papa yang kesal karena kehilangan jejak sang anak dan menantunya. Kini kelima orang itu sedang makan siang di salah satu restoran yang menjadi langganan kedua paruh baya itu.
“Pah, seharusnya hari ini jadi jalan - jalan keluarga Nathan bukan keluarga cemara. Papa dan Mama kenapa nggak jalan sendiri, sih!” kesal Nathan yang melihat kedua orang tuanya itu justru mendominasi sang istri dan anak sambungnya.
“Seharusnya yang pergi itu, kamu! Seenaknya minta libur. Memang itu perusahaan siapa. Perusahaan kakekmu!”
Tuab Banu membalas perkataan sang anak dengan cukup sarkas. Nathan yang kalah telak hanya bisa mencebikkan bibirnya, kesal.
“Sudah lah. Kenapa sih, nggak di kantor, nggak di rumah, sekarang disini. Debat terus. Malu dikit dong sama, Sasi dan Aslan.” ucap sang nyonya Suryabrata.
Nathan hanya bisa tersenyum malas menanggapi ucapan sang ibu dan itu membuat Sasi dan Aslan tertawa, “Papi, seperti anak kecil. Tapi nggak apa - apa. Terkadang orang dewasa justru lebih kekanak - kanakan dari pada anak - anak sendiri.”
Nathan dan Tuan Banu langsung berdehem mendengar perkataan Aslan. Sedangkan Sasi dan ibu mertuanya mengulum senyum mendengarkan kalimat yang terlontar dari anak usia 9 tahun itu.
“Sudah, Sayang. Kita lanjutin makan saja, ayam kampung bakar madunya enakkan?”
“Iya, Eyang. Enak banget, lain kali kita makan disini lagi, ya?”
“Oh tentu. Kapan - kapan, kita jalan - jalan bertiga saja dengan ibumu, gimana?”
__ADS_1
Sebelum Aslan mengangguk kedua pria yang mendengar kalimat panjang sang nyonya langsung berteriak histeris. Membuat Sasi menutup telinganya seketika. Sedangkan Aslan sudah tak bisa lagi mengendalikan tawa yang meluncur bebas dari mulutnya.
“Enak saja, kalau dia nggak diajak. Itu oke, tapi kalau Papa, harus ikut kemanapun, Mama, pergi. Harus! Titik nggak pakai koma.”
Nathan merotasikan bola matanya mendengar ungkapan sang papa. Dia yang tahu betul akan sifat bucin tingkat akut yang papanya miliki membuatnya menaikan salah satu sudut bibirnya mengejek sang papa.
“Iya tahu yang nggak bisa jauh dari induknya. Kemana pu nempel kaya lem.”
“Halah, kaya kamu nggak aja. Baru juga punya istri, udah pamer keseluruh kantor. Ih, norak!”
Sasi yang mendengar sang suam di ejek oleh ayahnya sendiri membuatnya tertawa sambil menggelengkan kepalanya. Dia teringat pada kedua orang tuanya dulu yang selalu kemana - mana berdua dan sang ayah yang selalu memperkenalkan sang ibu ke semua pelanggan jika ibu ikut menemani ayahnya berjualan.
“Sayang, mereka tidak ada lagi,” gumam Sasi sambil menghela nafas jika mengingat dia tidak bisa bertemu dengan sang ayah untuk terakhir kalinya karena harus menolong korban kecelakaan yang terjadi di hadapannya sendiri kala itu. Membuatnya sungguh menyesal namun dia cukup senang karena pria yang ditolongnya selamat dan hidup.
Sasi menggeleng, “Justru Sasi sangat bahagia. Sasi tidak menyangka bisa berada di keluarga yang selalu harmonis seperti kalian. Sasi beruntung. Bahkan, Sasi, tidak pernah membayangkan bisa memiliki sebuah keluarga lagi setelah beberapa kejadian yang menimpa hidup, Sasi, Ma. Terima kasih telah menerima, Sasi, yang tak memiliki apapun ini. Terima kasih mau menerima dan memandang Sasi dari sudut lain. Tidak hanya memandang apa yang, Sasi, miliki dan tidak.”
Nyonya Suryabrata langsung memeluk sang menantu. Bukan Sasi, justru ia yang sangat berterima kasih karena mau menerima anaknya yang memiliki banyak kekurangan dengan segenap hati yang Sasi miliki. Dia bersyukur setelah sekian lama sang anak menyendiri dan merasa tidak pantas memiliki siapapun di hidupnya, terpuruk akibat batalnya pernikahannya. Kini, dia telah melihat lagi senyum yang dulu hilang dan lebih merekah bagai mawar merah yang bermekaran.
“Sepertinya dramanya asyik, ya nggak, Aslan?” tanya Nathan pada Aslan yang menghentikan kegiatannya menikmati makan karena fokus melihat ke arah sang ibu dan eyang barunya itu. Bahkan ia menarik hidungnya agar tidak ikut menangis seperti kedua wanita di hadapannya ini.
__ADS_1
“Sudah, di lihatin orang, Ma!” celetuk sang suami.
Kedua wanita itu pun langsung melepas pelukannya dan saling melempar senyum. Sedangkan Nathan dan sang ayah hanya bisa membantin dengan kalimat haru mereka masing - masing.
***
Di kediaman Mahardika wanita yang sedang marah akibat dipermalukan oleh seorang pria di mall yang dia kunjungi dan berakhir di tinggalkan sang kawan begitu saja membuatnya sangat kesal. Bahkan tas mahal dengan harga puluhan juta itu ia lempar dna teronggok seperti sampah di sisi ranjangnya.
“Sialan!”
“Siapa sih, dia. Sok pahlawan ngebelain istri, Mas Galih juga pasti, nggak dia bahkan langsung akan menampar mulut pria itu jika tadi ada disana.”
“Kalau nanti bertemu lagi, awas aja! Tapi, tuh perempuan cukup tahu diri, dia menunduk takut karena memang nggak sepadan denganku.”
Tawa sarkas menggelegar di kamar itu. Dia tidak tahu saja jika wanita yang di hadapannya tadi telah memiliki hal yang jauh dari angan dan penilaiannya. Bak kata pepatah mulutmu harimaumu.
______
Malam di kediaman Suryabrata. Sasi yang sudah terlelap sehabis sholat isya tadi membuat Nathan yang ingin mengajaknya mengarungi surga dunia hanya bisa menghela nafasnya pasrah. Dia yang masih terjaga langsung membawa sang istri ke dalam dekapannya. Dia memakai lengannya untuk meletakkan kepala sang istri ia usap surai milik sang istri dan mencium bau harum yang menguar dari tubuh wanita itu.
__ADS_1
“Aku sangat berterima kasih, kau mau menjadi bagian dariku dan keluargaku.”
Bersambung…