MAHLIGAI KEDUA

MAHLIGAI KEDUA
Bab 39 - Farid dan masa lalunya


__ADS_3

Setelah berbincang dan menanyakan tentang beberapa hal ke kepala sekolah, Nathan akhirnya memohon pamit karena dia sudah cukup terlambat untuk masuk kantor. Kepala sekolah yang merasa dalam tekanan itu pun mempersilahkan Nathan untuk beranjak, karena jika berlama - lama dengan salah satu Suryabrata bisa membuat jantungnya tidak aman.


Nathan keluar dari ruangan itu dan berjalan keluar menuju mobilnya. Namun sebelum benar - benar keluar, langkahnya terhenti karena pupil matanya tanpa sengaja menangkap sosok yang sedari tadi mengintainya. Nathan hanya tersenyum menyeringai dan kembali berjalan menuju mobilnya.


“Kita langsung ke kantor, Tuan?” tanya sang supir.


Nathan mengangguk dan masuk kedalam mobil. Kendaraan roda empat itu mulai bergerak dan meninggalkan sekolah. Sedangkan seseorang itu tampak tersenyum senang kala ia mendapat jackpot tak terduga. Sungguh dia tidak menyangka jika selama ini usahanya selalu sia - sia karena memang bukan orang biasa yang menjadi tameng perempuan itu beserta anaknya.


“Seberapa besar kira - kira aku bisa memeras Si Suryabrata itu, ya?” Pria yang sedang bersandar di pohon itu tersenyum membayangkan pundi - pundi uang yang akan ia hasilkan jika semua foto - foto itu ia kirimkan kepada pria gagah suami Sasi mantan menantu Mahardika.


Tak ingin kehabisan waktu ia segera berlalu dan menuju ke rumahnya untuk mencetak semua foto itu dan mengirimkannya ke perusahaan Suryabrata Grup.


_______


Siang di kantor Nathan, pria tampan yang kini tidak lagi sendiri itu tengah berbincang serius dengan seseorang. Namun walau begitu, tak ada wajah tegang di antara keduanya. Justru seringkali tawa menghiasi obrolan itu.


“Lalu, apa yang akan kamu lakukan? Aku tidak mengira kau benar - benar akan menikahi wanita itu.”


“Jika aku tidak menikahinya aku akan rugi. Dimana aku akan mendapat wanita sepertinya, untung saja si Mahardika itu membuangnya. Jika tidak, mana bisa aku mendapatkan berlian yang sesungguhnya.”


Pria di hadapannya hanya tertawa saja. Bahkan di pikirannya kini tengah membayangkan bagaimana rupa dan sifat wanita yang membuat Nathan kembali tergila - gila pada makhluk berjenis perempuan itu. Namun, ada satu orang yang terkejut kala telinganya mendengar keluarga Mahardika disebut. Dia membulatkan matanya dan kembali menutup pintu.


“Lalu, apa kau sudah menghubungi, Andra?” tanyanya.


“Belum, aku kira belum saatnya menghubungi orang sok sibuk itu.” Jawab Nathan mencibir salah satu sahabatnya.


“Cih, jangan katakan dia sok sibuk. Justru kau yang selalu lebih sibuk daripada kami. Apalagi sekarang, nempel terus sama istri baru. Eh…”


Nathan mengernyitkan dahinya karena temannya tiba - tiba menghentikan kalimatnya.

__ADS_1


“Terus, Si Dee gimana? Aku dengar dia sudah sah bercerai dengan, Agus,” ucapnya.


“Aku tidak peduli. Dulu dia yang kukuh meninggalkanku, aku tahu kekuranganku. Tapi apa dia tidak bisa sedikit saja bersabar. Aku sungguh tidak mengerti dengan jalan pikirannya dan orang tuanya itu.”


“Apa kau tidak dengar?” tanya sang teman.


“Dengar, apa?”


“Mertuanya kan hampir bangkrut, kau tak tahu?”


“Maksudmu, perusahaan, Agus, bangkrut? Kenapa?” tanya Nathan terkejut.


“Astaga, aku kira kau sudah dengar berita ini. Kemarin dia meminta bantuanku untuk mengamankan beberapa aset yang masih bisa diselamatkan. Aku rasa yang jahat bukan Diandra tapi ayahnya yang tamak itu. Anggota Dewan bijaksana, dari mana bijaknya.” Sungutnya.


Nathan melipat bibir dan sedikit tertunduk. Dia mulai memikirkan hal yang terjadi dahulu. Apa semua adalah paksaan ayahnya bukan dari hati Diandra sendiri?


“Hai, Sakha!” Serunya karena Nathan sedikit melamun.


“Sudah jangan memikirkan Diandra, jangan lagi tertipu sosoknya yang lemah lembut. Kau tahu betul bagaimana dia meninggalkan dan membuat keluargamu menjadi bahan gunjingan. Ingat bagaimana ayahnya membuat semua orang menganggap kau meninggalkan anaknya. Aku sarankan mulai sekarang berhati - hatilah. Aku yakin, Ayahnya yang tamak dan arogan itu akan kembali membuat Dee mendekatimu. Aku bisa pastikan itu.”


Nathan terdiam. Dia mulai mengingat jika akhir - akhir ini Dee sering menghubunginya dan mengajak bertemu, walau dia tak pernah menanggapi tapi sepertinya dia harus waspada. Dia tidak ingin langkahnya yang terburu - buru akan membuat Sasi sakit hati.


“Ya sudah, aku pamit. Aku akan koordinasi dengan bawahanku mengenai yang kau bicarakan tadi. Aku pastikan mereka tidak akan mengganggu istri dan anakmu.”


“Tapi, kau yakin membiarkan mereka mengetahui identitasmu?”


“Ya, sudah saatnya. Aku hanya ingin melindungi, Sasi dan Aslan, dari orang - orang tamak seperti mereka. Aku tidak akan membiarkan, Tuan Mahardika, memiliki cucunya, karena kini anak itu menyandang nama besar, Papa. Kau tahu, ‘kan? Bagaimana, Papa, akan bertindak jika tahu hal ini.”


Pria bernama Irfan itu mengangguk. Jika masalah ini sudah ditangani oleh tuan besar Suryabrata, ia yakin semua bahkan hingga ke akar akan dia buat tumbang tanpa belas kasih.

__ADS_1


“Ya sudah, aku pamit.”


Nathan mengangguk dan mengantar sang sahabat hingga keluar dari ruangannya.


Setelah Irfan pergi Nathan kembali ke dalam dan melanjutkan pekerjaanya.


“Permisi, Pak.” Farid sang asisten datang membawa beberapa berkas di tangannya.


“Taruh saja, Rid.”


Farid mengangguk dan meletakkan semua berkas itu di meja Nathan dan pamit, namun sebelum benar - benar keluar Nathan kembali memanggilnya dengan mengatakan sesuatu yang membuatnya terkejut.


“Kenapa? Apa kau mengenal istriku? Kau tampak terkejut kala aku mendendangkan nama Mahardika.”


Farid menatap Nathan yang sedang sibuk melihat laptopnya. Dia tak menjawab ataupun menyangkal.


“Katakan, jika ada yang ingin kau tanyakan padaku.”


“Maaf, Tuan. Tapi saya rasa…”


“Istriku adalah mantan istri Galih sekaligus teman kuliahmu. Apa aku salah?” Ucap Nathan memotong ucapan Farid.


Farid mengepalkan kedua tangannya. Dia tidak mengira jika wanita yang sangat ia cintai dan tak bisa dia lupakan, kini justru menjadi istri atasannya sendiri. Dia yang kehilangan jejak Sasi setelah wanita itu angkat kaki dari keluarga Mahardika membuatnya cukup kalang kabut. Tak ada saudara yang bisa ditanya tentang keberadaan Sasi membuatnya mantap untuk menutup hatinya dari wanita manapun hingga dia bisa bertemu dengan wanita itu kembali.


“Namanya, Aryani Sasmitha. Benar?”


Dada Farid bergemuruh mendengar nama wanita yang sangat ia cintai itu disebut. Kini harapan yang dimilikinya telah pupus, dia tahu dia tidak akan bisa melawan atasannya ini.


“Maaf, Pak. Saya permisi.”

__ADS_1


“Apa dia, wanita yang membuatmu tak bisa berpaling?” seru Nathan.


Farid yang tak ingin membahas masalah ini sekarang memilih melanjutkan langkahnya. Dia tak ingin berdebat yang akan membuat dirinya lepas kontrol seperti saat dia menghajar Galih hingga dirinya masuk ke dalam penjara. Dia tidak segila itu sekarang, dia cukup tau bagaimana harus bersikap. Apalagi Nathan bukan seseorang yang bisa ia provokasi. Jika ia gegabah justru dia yang akan tumbang dengan kebodohannya.


__ADS_2