
Pagi di kediaman Suryabrata
Sasi yang sudah turun sejak selesai sholat subuh tadi kini terlihat sedang membantu bu Rina untuk menyiapkan sarapan dan bekal untuk sang anak semata wayangnya. Hari ini ia juga akan menemani sang suami untuk melihat hasil cek lab atas pemeriksaan yang Nathan lakukan satu minggu lalu. Biasanya hasil lab itu akan dikirimkan langsung ke rumah atau ke kantor Nathan. Tapi setelah ia memiliki Sasi ia ingin sang istri selalu ada disetiap pemeriksaan kesehatannya. Dia ingin Sasi tahu sudah sampai mana perjuangannya agar bisa memiliki keturunan.
Walau kemungkinannya kecil, Nathan akan tetap berusaha demi keluarganya serta demi Sasi istrinya.
Dari arah ruang tengah dua pria tampan beda generasi itu terlihat berjalan bersama menuju ruang makan. Sedang Nyonya Anggi sedang di taman samping mengurus tanamannya.
“Bagaimana, apa sudah ada pergerakan?” tanya tuan Banu.
“Belum, Pah. Aku rasa mereka tengah menyusun strategi, biarkan saja. Kita lihat seberapa beraninya menantang keluarga kita.”
Tuan Banu mengangguk - anggukan kepala. Sedang di belakang mereka ada seseorang yang tak mengerti tentang apa yang dua pria itu obrolkan.
“Eyang, Papi. Pergerakan apa?” Celetuknya membuat dua pria itu terlonjak kaget.
“Astaga, Aslan! Bikin kaget saja.” Nathan mengusap dada bidangnya karena ia betul - betul terkejut.
“Pergerakan, apa?” Timpal tuan Banu.
“Tadi, Eyang dan Papi, yang bilang, ‘kan?”
Dua orang dewasa itu saling padang bagai tersangka yang tertangkap basah karena telah melakukan kesalahan fatal. Kini mereka saling memandang ke arah lain mencari jawaban yang tepat agar anak cerdas itu tak bertanya lebih banyak lagi.
“Pergerakan klien, Sayang. Apakah mereka jadi mengikuti tender, atau tidak.” Ujar tuan Banu sambil mencubit pipi gembul milik cucunya itu.
Aslan yang belum mengetahui dunia bisnis hanya mengangguk walau ia tak paham. Lagi pun apa urusannya.
__ADS_1
“Ayo, Pih, Eyang, kita sarapan. Aslan akan terlambat kalau kalian membahas bisnis pagi - pagi seperti ini. Kita isi perut dulu.”
Aslan menarik tangan sang eyang perlahan menuju meja makan. Tuan Banu dan Nathan mengusap dada lega karena anak cerdas itu tak menanyakan hal itu lebih dalam.
Sesampainya di meja makan ternyata sang ibu tengah meletakkan dua susu hangat serta kopi hitam tanpa gula milik tuan Banu.
“Selamat pagi, Sayang.” Nathan memeluk istrinya dan tak lupa ciuman mesra ia sematkan di kening wanita cantik yang selalu menghangatkan jiwanya itu.
Sedang tuan Banu langsung menutup mata Aslan agar tak melihat kelakuan ayah tirinya itu.
“Kenapa, Eyang? Kok mata, Aslan, di tutup?”
“Ada adegan dewasa, tidak boleh melihat.”
“Lalu, kalau Aslan sudah dewasa baru boleh melihat, Papi, cium, Mama, ya?”
“Jika, Aslan, dewasa semua hal boleh kamu lakukan, asalkan tidak meninggalkan norma agama. Mengerti?”
Aslan mengangguk setelahnya bocah itu duduk di kursi yang sudah ibunya siapkan. Dia duduk tenang sambil menikmati susu hangat miliknya.
Sarapan yang selalu diisi dengan canda dan obrolan pagi itu kini sudah senyap karena semua orang sudah melakukan aktivitas mereka masing - masing.
Sasi dan Nathan yang memiliki temu janji dengan dokter pribadinya sedang dalam perjalanan menuju ke salah satu rumah sakit swasta milik teman tuan Banu.
“Apapun, hasilnya nanti. Mas, harus legowo, ya?”
“Iya, Sayang. Mas, akan terus bersabar asal kamu selalu menemani, Mas.”
__ADS_1
Sasi mengangguk cepat, “Tentu, itu pasti.”
Nathan menggenggam erat tangan sang istri dan mengecupnya. “Oh ya, karena hari ini, Mas, tidak ada jadwal di luar kantor, gimana jika setelah ini ikut ke kantor saja?” Tawar Nathan dan berharap Sasi menyetujuinya.
Sasi nampak berpikir, sesekali ia melihat ke arah lain karena Nathan terus menatapnya.
“Apa, nggak akan mengganggu pekerjaanmu?” Nathan menggeleng cepat.
“Tidak, Sayang. Mas, malah senang jika kamu setuju.”
“Kalau aku bertemu dengan, Mas Farid, Mas Nathan, juga nggak apa - apa?”
Nathan tersenyum, “ Tidak. Untuk apa aku takut akan hal yang tidak mungkin, ‘kan? Kau sudah menjadi milikku, lalu apa yang harus aku takutkan.”
Sasi menatap senang. Syukur, jika suaminya sudah mau menerima semua masa lalunya, dan mau percaya sepenuhnya pada hubungan ini.
Tak lama, mobil yang mereka kendarai tiba di sebuah rumah sakit yang cukup besar. Seorang Satpam bahkan langsung mendatangi mobil Nathan dan membantu membukakan mobil.
“Selamat pagi, Tuan.”
“Selamat pagi, Pak.” Nathan menyambut sapaan itu ramah.
“Wah, datang dengan istri, ya, Tuan?”
Nathan tersenyum. “Iya, Pak. Istri tercinta, besok - besok tolong bantu dia jika dia ada keperluan kemari, ya?”
Satpam yang bernama Junaedi itu langsung mengangkat tangannya hormat. “Siap, Pak. saya akan kawal, Nyonya Muda Suryabrata, dengan selamat.
__ADS_1
Sasi yang merasa diistimewakan seketika merona. Ia sungguh sangat bersyukur kini ada lelaki yang mau menerima dia apa adanya dan selalu mengistimewakannya dimanapun dia berada.