MAHLIGAI KEDUA

MAHLIGAI KEDUA
Bab 20 - Persiapan ke Jakarta


__ADS_3

Pagi yang cerah membuat Sasi dan Nathan terus menyunggingkan senyum mereka. Tadi pagi setelah selesai menunaikan shalat subuh Nathan kembali mengajak Sasi untuk beribadah menembus awan hingga mereka hampir saja, terlambat untuk kesekolah Aslan untuk mengurus kepindahan sang anak.


Sejoli itu kini tengah berbincang dengan wali kelas dan kepala sekolah Aslan. Para petinggi sekolah itu pun sangat menyayangkan kepindahan Aslan dari sekolah mereka. Aslan yang masuk dalam siswa berprestasi selalu menjadi kebanggan para guru. Walau Aslan tidak pernah mau mengikuti perlombaan di sekolahnya tapi Aslan selalu menyediakan waktunya untuk menemani teman - temannya belajar.


“Iya Pak. Maaf jika kesannya sangat mendadak. Tapi bagaimanapun saya harus ikut kemanapun suami saya pergi,” ujar Sasi merasa tidak enak.


“Iya Ibu Aslan. Tidak apa - apa. Saya yakin dimanapun anak itu berada dia pasti sangat membanggakan sekolahnya, hanya saja sangat disayangkan selama ini Aslan selalu t menolak untuk mengikuti perlombaan apapun. Dia selalu memberikan semua kesempatan itu pada teman - temannya,” terang kepala sekolah.


“Iya, Pak. Saya juga selalu memberikan dia semangat, hanya saja dia selalu mengatakan bahwa, banyak teman - temannya yang ingin ikut bukan hanya sekedar menguji kepintaran mereka. Namun demi hadiah yang juga bisa membantu perekonomiannya, begitu katanya.”


“Iya, saya juga kadang terharu dengan jiwa kepahlawanannya Bu. Jarang anak - anak seusia Aslan mau melakukan hal seperti itu. Bahkan setiap ada bantuan dari sekolah Aslan selalu menyumbangkan hasilnya kepada teman - temannya yang tidak mampu.”


Sasi tersenyum. Jika dilihat dengan baik, perekonomian Aslan sendiri jauh dari kata mampu. Namun, Aslan yang melihat banyak teman - temannya yang lebih tidak mampu darinya membuat Aslan selalu menyerahkan uang bantuan itu untuk teman - teman yang lain. Karena baginya apa yang dia peroleh dari sang ibu sudah lebih dari cukup. Walau sang ibu harus bersusah payah, namun bagi Aslan, dia akan lebih merasa bangga jika semua keperluan sekolah dan lain - lainnya hanya memakai uang dari sang ibu saja.


Nathan yang mendengar semua hal baik dari anak sambungnya itu merasa bangga. Dia sendiri ketika kecil tidak pernah terpikirkan untuk membagi apa yang dimilikinya walau dengan sepupunya sendiri. Walau kenyataannya dia tidak pernah kekurangan namun, Nathan tidak memiliki jiwa yang cukup besar seperti Aslan.


Seorang petugas tiba - tiba masuk untuk menyerahkan berkas untuk Sasi bawa ke jakarta.


“Ini Bu berkasnya. Sudah lengkap ya, nanti disana tinggal diserahkan saja,” ujar pria itu.


“Terima kasih Pak, Bu. Maaf jika Aslan pernah melakukan kesalahan yang disengaja atau tidak, mohon dimaklumi,” ucap Sasi sambil berdiri dan menyalami satu persatu orang yang ada disana.


“Kalau begitu kami permisi,” lanjut Nathan pamit.


“Baik, Pak, Bu. Selamat jalan ya, semoga Aslan mendapat teman - teman yang baik di sana,” Sasi mengangguk dan Nathan hanya tersenyum kecil menanggapi pesan dari wali kelas Aslan.


Sejoli itu berjalan bersama dengan langkah yang seirama. Nathan yang tiba - tiba bucin selalu menggandeng tangan sang istri takut - takut jika Sasi akan lari dibawa pria lain. Sasi yang masih malu terkadang sedikit menjauhkan tubuhnya dari sang suami, namun lagi dan lagi. Nathan selalu menarik kembali sang istri agar lebih mendekat padanya.


“Kita langsung ke kelas Aslan saja, mungkin bagi - bagi kue serta souvenirnya sudah selesai.”


Nathan mengangguk dan berbelok sesuai arah yang istrinya tunjukkan.


Sesampainya di kelas. Sasi yang mendengar suara anak - anak menangis melajukan langkahnya.


Dia mengintip dari pintu dan ikut terenyuh melihat teman - teman sekelas juga teman main sang anak sedang meratapi kepergian Aslan untuk pindah sekolah, mengikuti sang ibu yang kini telah memiliki suami lagi.

__ADS_1


“Sopo sing bakalan ngajari aku sinau, Lan?” tanya Candra dengan air mata yang sudah membasahi baju seragamnya.


(Siapa yang akan mengajariku belajar, Lan?)


“Yo ‘kan enek Dimas, Ega sing iso ngajari kowe.”


(Ya ‘kan ada Dimas, Ega yang bisa mengajarimu.)


“Tapi ‘kan mereka kadang pelit, Lan.”


Aslan yang ikut terharu akan teman - temannya yang sedih dengan kepergiannya juga tak kuasa menahan air matanya.


“Kowe iku pinter cuma malas. Sinau sing rajin. Ngko nek wes lulus kuliah, susul aku nang Jakarta, Yo!” Titah Aslan pada Candra.


Dengan penuh derai air mata Candra mengangguk dan kembali memeluk Aslan.


“Aku rasa teman Aslan yang namanya Candra ini memiliki arti lain baginya,” ujar Nathan sambil memeluk pundak Sasi yang sedang menatap sendu para siswa itu.


“Candra adalah teman pertama yang Aslan miliki ketika pertama kali pindah kesini dan masuk TK. Candra yang bertingkah kekanakan diam - diam selalu bisa ngemong Aslan yang memang usia mereka terpaut hampir 2 tahun. Jadi tidak heran jika mereka sangat kehilangan satu sama lain, Mas.”


“Sudah?” tanya Sasi.


“Sudah, Ma.”


“Maaf ya anak - anak. Jika Aslan pernah nakal. Maafkan ya?”


“Nggak Tante. Aslan baik,” kompak mereka. Namun mata Sasi tiba - tiba menangkap sosok anak perempuan yang duduk di kursinya, menatap Aslan tanpa tangis juga tanpa senyum.


“Kenapa dia?” gumam Sasi dalam hati.


“Ya sudah, kita harus siap - siap, Sayang.” Aslan mengangguk dan langsung mengucapkan selamat tinggal kepada teman - temannya. Namun baru satu langkah, Aslan berbalik dan mendatangi meja salah satu temannya. Dia berdiri di depan anak itu dan mengatakan sesuatu namun tidak terdengar jelas di telinga Sasi maupun yang lain.


Gadis yang terdiam tadi kini nampak sedikit menyunggingkan senyumnya dan melebarkan kelima jarinya sambil mengucapkan selamat jalan pada Aslan.


Sasi yang tidak paham ada apa diantara mereka. Memilih untuk tidak bertanya, tetapi sang suami yang justru berkomentar.

__ADS_1


“Sepertinya Aslan meninggalkan kenangan pahit untuk gadis itu. Sungguh tidak beruntung,” celotehnya.


Sasi mengerutkan dahi mendengar ucapan sang suami, “Apa sih, Mas?” tanyanya.


“Tidak apa - apa, yuk!” ajak Nathan kembali menggandeng tangan sang istri.


Setelah perpisahan menguras air mata, Sasi kembali harus mengalami kejadian yang sama kala dia berpamitan pada tetangga kontrakannya. Setelah dari sekolah Aslan, Sasi meminta Nathan menemaninya untuk ke kontrakan, berpamitan sekaligus membagikan semua barang miliknya yang masih bagus kepada para tetangga yang membutuhkan. Ucapan doa dan kata selamat jalan mengalun dari para tetangganya. Bahkan ibu Candra menyempatkan waktunya dan bergegas pulang dari pasar hanya untuk menemui Sasi.


“Terima kasih uang motornya ya Sas, aku bisa gunakan menambah modal untuk jualan,” ujarnya sambil berderai air mata.


“Nggak apa - apa. Maaf cuma sedikit ya, Mbak Diah.”


Wanita bernama Diah itu mengangguk. Dia dan Sasi sama - sama merantau di kota pelajar. Keduanya juga cukup berjibaku di kota ini untuk mengais rezeki. Ayah Candra yang hanya seorang buruh harian terkadang tidak memiliki pekerjaan dan hanya mengandalkan uang hasil dari sang istri untuk kebutuhan sehari - hari.


Memang apa pekerjaan Mbak ini, Sayang?” tanya Nathan membuat Sasi malu karena panggilan itu.


“Em.. dia jualan di pasar Mas. Tapi di emperan saja, nggak ada kios. Karena kalau sewa kios lumayan juga.”


“Iya, Mas.” Timpal mbak Diah


Nathan manggut - manggut mengerti dengan kondisi wanita di depan istrinya itu. Menyewa kios namun jualannya tidak bisa menutupi pembayaran sama saja membunuh diri sendiri secara perlahan. Nathan yang ingin sedikit membantu langsung menghubungi pak Yudi.


“Waalaikumsalam. Saya mau minta bantuan bisa?”


“…”


“Dimana berjualannya, Mbak?”


“Di di pasar Sidorejo, Mas.” Nathan mengangguk. Sasi dan mbak Diah yang tidak mengerti apa yang akan dilakukan Nathan menyimak pembicaraan itu hingga..


“Tolong Pak Yudi kesana, dan lihat apa masih ada kios yang bisa di beli. Jika ada, beli dan lengkapi isinya.”


“...”


“Oh, atas nama Diah saja. Nanti untuk melengkapinya Pak yudi bisa langsung temui yang bersangkutan,” ucap Nathan.

__ADS_1


__ADS_2