
Sudah hampir dua minggu Nathan melakukan perjalanan bisnisnya dan hari ini dia akan segera kembali ke Ibu Kota. Kota terakhir yang Nathan kunjungi adalah Surabaya.
Di sana ia hanya mengecek pekerjaan para bawahannya di salah satu kantor cabang milik Suryabrata. Namun dia hanya sendiri melakukan pekerjaan ini, karena Farid sang asisten sudah lebih dulu kembali ke Jakarta setelah sang ayah menghubunginya jika banyak pekerjaan yang tidak bisa ditangani sendiri olehnya. Walau banyak staf CEO yang bisa membantu namun tuan besar Suryabrata hanya percaya kepada sang anak saja.
“Apakah, Anda, akan terbang malam ini, Pak?” tanya salah satu orang kepercayaannya yang berada di Surabaya.
“Saya akan melakukan penerbangan sore hari. Jika malam, langit Jakarta selalu mendung dan hujan cukup mengganggu penerbangan. Salah satu Pilot sudah mengabarkan itu padaku kemarin pagi. Jadi untuk pekerjaan yang masih belum selesai saya tandatangani tolong kirim berkasnya lewat email saja. Saya percayakan semuanya padamu, Ris.”
Pria bernama Aris itu mengangguk sambil menarik kedua sudut bibirnya. “Lalu, kapan aku akan dikenalkan pada, Nyonya Muda Suryabrata?” kelakarnya. Jika sudah begini hilang sudah wibawa keduanya.
Nathan tersenyum dan membenahi jasnya. “Aku tidak akan pernah kenalkan dia pada playboy cap ayam, sepertimu!” Tegas Nathan.
“Enak saja, aku bukan playboy! Mereka saja yang mau sama aku, lagian punya dua juga udah pusing kepalaku,” ujar Aris sambil menghela nafasnya jika mengingat kelakuan dua istrinya yang selalu membuat jantungnya seakan berhenti berdetak.
“Makanya, jangan sok - sokan punya dua istri. Nah, pusingkan sekarang!” tawa Nathan.
“Cih! Lagaknya yang baru punya istri, tuh senyum merekah mulu.”
Nathan terbahak mendengar penuturan sahabatnya. Jika saja sang sahabat tahu bagaimana dia mengenal Sasi dan akhirnya memutuskan menikah, pria di hadapannya ini pasti terkejut.
“Ya sudah, aku balik hotel. Sebelum pulang aku juga akan berbelanja terlebih dulu. Mau bawakan istri tercintaku oleh - oleh,” ucap Nathan masih dengan senyum yang mengembang.
“Tapi, Sakha. Bagaimana dengan mantanmu, dia tahu kau sudah menikah?” tanya Aris.
__ADS_1
“Aku tidak tahu, tapi kau tahu betul bagaimana, Papa, bukan. Dia bisa melakukan segalanya dengan sangat teliti dan bersih. Bisa saja, wanita itu sudah mengetahui semuanya sekarang,” ujar Nathan. Sambil menarik salah satu sudut bibirnya.
Bukan tidak peduli tentang hati Diandra. Hanya saja Nathan tidak ingin menyia - nyiakan cinta yang kini tengah ia bangun bersama dengan Sasi. Walau dia tahu, diawal Sasi dan dirinya hanya bersama karena sebuah kesepakatan. Namun ibu dan ayahnya, berhasil membuka matanya tentang kehidupan pernikahan yang tidak boleh dijalankan dengan main - main. Kini, hatinya sudah mantap hanya Sasi yang akan terus ada di dalamnya. Karena dia tahu, jika yang lain dan keadaan akan berubah. Sasi akan tetap seperti itu. Karena kesederhanaannya tidak lekang oleh waktu.
Setelah berbincang ngalor ngidul Nathan akhirnya berpamitan karena ada beberapa barang yang harus ia beli untuk istri dan anak sambungnya serta kedua orang tuanya. Dengan penuh wibawa dia berjalan keluar dari ruangan Aris bersama dengan para pengawal yang sudah menunggunya di luar ruangan.
______
Jakarta
Sasi yang sudah mendapat kabar dari sang suami jika malam ini pria tampan itu akan pulang, membuatnya sangat gembira. Dua minggu tanpa Nathan sungguh membuatnya kesepian. Kebiasaan pria itu sebelum tidur selalu membuat Sasi sangat merindukannya. Bahkan hari ini ia dan sang ibu mertua melakukan pijatan di ruangan khusus di rumah itu.
“Jam berapa, Suamimu, tiba?” tanya sang ibu mertua.
“Pesawatnya habis ashar take off, Ma. Mungkin sebelum magrib sudah di rumah.”
“Oh ya, Sasi. Apakah, Aslan mengatakan tentang pembullyan itu lagi?”
“Tidak, Ma. Katanya tiga kakak kelas yang melakukan itu padanya, tiba - tiba pindah sekolah.”
Nyonya Anggi menyipitkan matanya mendengar itu. Dia pun merotasikan bola matanya berpikir.
“Kapan, katanya?”
__ADS_1
“Dua hari setelah itu, Ma. Katanya tiba - tiba mereka sudah tidak ada di sekolah itu lagi,” jelas Sasi.
“Apa, Aslan, tidak heran?”
“Dia sangat heran, Ma. Katanya sebelum dia tahu bahwa ketiga anak itu pindah, kepala sekolah meminta maaf secara khusus padanya.”
“Kepala Sekolah?” Sasi mengangguk kecil.
Nyonya Anggi kini mengerti. Siapa yang sudah lebih dulu bertindak daripada Asan. Tentu saja, siapa lagi jika bukan suami tercintanya. Pria paruh baya itu pasti sudah menempatkan salah satu orang kepercayaannya disekolah Aslan.
“Aku akan tanyakan ini, nanti.” Gumamnya.
Senja berganti sore dan sore berganti malam. Nathan yang memberikan kabar jika ia sedang di dalam jet pribadi pukul 4 sore tadi, nyatanya hingga kini laki - laki itu masih tak menampakan batang hidungnya. Sasi sang istri yang menunggu dengan cemas bahkan terlihat mondar - mandir dan terus memegang ponselnya. Berharap sang suami segera mengabarinya. Cuaca yang sedikit ekstrim akhir - akhir ini membuat wanita berusia 31 tahun itu cemas akan keselamatan suaminya.
Tok tok
“Nyonya Muda.” panggil seseorang dari luar kamar.
“Ada apa, Hana?” tanya Sasi pada salah satu maid yang mengurus keperluannya.
“I itu…”
Hana tergagap bahkan dua tangannya saling meremas. Takut jika kabar ini akan membuat Sasi terguncang.
__ADS_1
“Ada apa? Jangan buat saya penasaran?”
“I.. itu Nyo.. Nyonya Muda, Tuan Muda…”