MAHLIGAI KEDUA

MAHLIGAI KEDUA
Bab 26 - Seorang Wanita yang Bersuami


__ADS_3

Farid sang asisten berjalan menuju ruangan sang CEO. Namun, sebelum ia berhasil membuka pintu sang sekretaris menghentikan pergerakan tangannya.


“Pak, Tuan muda, melarang siapapun masuk. Ada istri beliau didalam. Dan kita diminta membagi - bagikan makanan ini untuk para staf.”


Farid memicingkan matanya menatap banyaknya kotak bekal yang berada di tas warna hitam bertuliskan Suba mart.


“Nyonya muda, yang membawa ini?” tanya Farid.


Wanita manis itu mengangguk, “Dibantu, Pak Kadir.” Ujarnya.


Farid yang selalu melakukan semua hal tanpa membantah berlalu membawa paper bag itu menuju ke staf khusus CEO untuk membagikan makanan itu para mereka.


Sedangkan di dalam ruangan Nathan, Sasi yang yang tengah menyuapi sang suami terlihat begitu bahagia. Dia yang tadinya merasa sedikit was - was akan kedatangannya di perusahaan sang suami yang justru akan membuat pria itu malu. Justru kini sebaliknya, dia yang malu dengan kelakuan Nathan yang terlalu blak - blakan.


“Mas, apa tidak apa - apa, jika seluruh staf tahu, aku ini istrimu?” tanya Sasi mencoba memastikan.


“Tentu. Bahkan kita sudah mendapat hadiah dari teman baik almarhum Kakek,” ucap Nathan.


“Teman baik?” Nathan mengangguk.


“Dia berada di Cordoba, Spanyol untuk meneruskan bisnisnya yang ada disana. Dia memiliki satu putri namun entah sekarang dimana.”


“Dia, bule, Mas?”


Nathan menggeleng, “Dia orang Indonesia, Sayang. Hanya saja dia tidak seagama dengan kita. Tetapi hubungannya dengan almarhum Kakek sangat baik. Bahkan dia menangis tersedu kala teman baiknya itu meninggal. Karena di Indonesia semua bisnis telah dijalankan oleh keponakan beliau, akhirnya beliau memilih menetap disana sekarang.”


Sasi yang memang tidak mengenal kakek itu hanya mengangguk saja kala Nathan mulai menceritakan hal lain tentang pria tua itu padanya.

__ADS_1


“Sayang, mau pulang sekarang atau nanti bersamaku saja?”


“Terserah, Mas. Bagaimana baiknya saja,” jawab Sasi.


Nathan mendekat ke arah istri cantiknya itu. Ia kecupan kening Sasi mesra hingga membuat jantungnya berdebar.


“Kenapa, Mama, memintamu berdandan seperti ini. Lain kali, merias lah seperti yang biasa kamu lakukan.”


Sasi menatap wajah sang suami. Apakah Nathan tidak suka dengan penampilannya? bagai memiliki telepati Nathan seolah mengerti apa yang sedang Sasi pikirkan.


“Bukan tidak suka. Kau sangat cantik, Sayang. Hanya saja kau terlihat mencolok. Aku tidak suka jika banyak laki - laki selain aku yang melihat kecantikanmu ini.”


Sasi menghela nafasnya. Ia bersyukur jika Nathan menyukai penampilannya. Tetapi apa yang Nathan katakan ada benarnya juga. Alangkah baiknya jika wanita berdandan secara total jika di depan suaminya saja. Dan berdandan ala kadarnya kala bertemu orang lain apalagi lawan jenis. Bahkan saat sang ibu mertua memakaikan parfum padanya tadi, sasi menolak dengan halus. Dia mengatakan jika sabun aroma terapi yang dipakainya saja harumnya masih melekat dan tidak hilang dalam waktu cukup lama.


Nyonya Anggi yang melihat penolakan halus dari menantunya akhirnya mengalah dan membiarkan Sasi pergi tanpa memakai parfum yang sudah disediakan.


“Berdandanlah natural saja. Cukup pakai perawatan wajah dan kulit, serta lipstik yang tidak terlalu cerah. Cukup kau menjadi bi*nal jika sedang berdua bersamaku saja.”


Sasi yang mendengar kata bi*nal dari mulut sang suami mendadak merasa panas di sekitar wajahnya. Dia, bahkan menutup mukanya karena Nathan kini menatapnya dengan penuh gai*rah.


“Maaf, Mas. Aku malu, tidak ada kata lain yang bisa menggambarkan itu? Kata - katamu terlalu vul*gar,” ujar Sasi dengan kedua tangannya masih menutupi wajah cantiknya.


Nathan yang melihat Sasi malu - malu justru menggunakan kesempatan itu untuk terus menggoda wanita yang kini telah memiliki seluruh hidupnya. Tawa serta canda membuat mereka mengabaikan kehadiran seseorang yang berulang kali mengintip kemesraan mereka dari balik pintu.


“Jadi, dia isteri, Tuan muda Sakha. Aku seperti mengenalnya. Tapi dimana, ya?” Ujarnya.


Tak ingin mengganggu kemesraan sejoli itu pria yang merupakan sang asisten CEO. Memilih kembali ke ruangannya dan mengurungkan niatnya untuk memberikan berkas yang kini sedang berada di tangannya.

__ADS_1


Hampir tiga jam berlalu. Sasi yang kelelahan tampak tertidur pulas di sofa ruangan Nathan. Sedangkan sang suami yang cukup sibuk, kembali meneruskan kegiatannya sambil sesekali mencuri pandang wajah teduh sang istri.


Tok tok


Nathan mendongak, ia melihat posisi sang istri terlebih dahulu sebelum meminta seseorang itu untuk masuk.


“Ya, silahkan.”


“Permisi, Pak Sakha. Ini ada beberapa berkas yang harus Anda, periksa dan tandatangani.”


“Banyak sekali, Rid!” pungkasnya sedikit meninggikan nada bicaranya.


Pria bernama Farid itu mengangguk, “Karena minggu ini memang agenda, Anda, cukup padat, Pak. Mengingat beberapa kali Anda juga membatalkan janji dengan para klien. Jadi mau tidak mau saya harus mengecek ulang lagi pekerjaan yang sedikit berantakan,” ujarnya tanpa rasa takut.


“Kau, mengecek ulang? Atau sengaja membuatku bekerja lembur!” Serunya.


Farid dengan wajah datarnya hanya bisa menatap dingin atasannya itu.


“Tidak bisakah kau sedikit lembut, jangan kaku seperti itu. Kapan kau menikah jika seperti kanebo kering seperti itu!” sarkas Nathan.


“Saya memang seperti ini, Pak.”


“Jadi, apa Bapak bersedia dengan semua agenda yang saya atur ulang?” lanjutnya.


“Terserah! Disini kau bosnya bukan. Cih!” Kesal Nathan.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2