MAHLIGAI KEDUA

MAHLIGAI KEDUA
Bab 8 - Diam - diam


__ADS_3

Kendaraan roda dua milik Sasi akhirnya dibawa ke bengkel karena ada beberapa kerusakan yang tidak bisa dibenahi di tempat itu. Motor yang memang sudah cukup tua itu memang seharusnya sudah Sasi ganti tahun ini. Namun karena uang dikumpulkannya masih belum cukup, akhirnya Sasi hanya bisa bersabar dan menunggu. Motor itu memang dulu dia beli dalam kondisi bekas. Karena jika membeli yang baru Sasi takut tak bisa menyewa rumah untuknya tempat berteduh bersama anaknya yang masih berusia 4 tahun kala itu.


Di Jogja sendiri Sasi tak memiliki sanak saudara. Dia datang ke tempat ini karena bibi yang bekerja di kediaman mantan suaminya yang membantunya. Karena selain Jogja tidak ada tempat lain lagi untuk Sasi bisa menjauh dari keluarga sang mantan.


Dengan sedikit rasa cemas Sasi melihat dengan teliti apa saja yang perlu diganti agar motornya bisa berjalan kembali seperti sedia kala.


“Gimana, Mas?” tanya Sasi.


“Saya belum bisa pastikan, Mbak. Jadi motor ini harus di tinggal disini dulu,” ucap montir yang sedang menangani motornya.


Sasi menghela nafasnya, dia sudah memastikan jika memang kondisi motornya sudah harus di servis secara keseluruhan. Dua bulan lalu saat Sasi melakukan servis berkala pada kendaraannya pihak bengkel sudah meminta Sasi mengganti beberapa sparepart yang memang sudah aus. Namun karena Sasi masih menabung dia memilih mengganti oli saja yang penting motor matic miliknya tetap bisa dipakai untuk bekerja. Hasil dari catering memang cukup namun jika dipakai untuk membenahi kendaraannya dia tidak akan memiliki modal lagi nanti.


“Ya sudah, Mas. tolong hubungi saya jika sudah selesai ya?” pinta Sasi. Mau tak mau jika harus memakai uang hasil catering ya sudah bagaimana lagi.


Dengan langkah lunglai dia keluar dari bengkel yang cukup besar itu sambil mencari ojek online agar dia bisa pulang ke rumahnya.


“Udah sore, untung lagi nggak sholat,” gumam Sasi sambil terus melihat jam tangan yang ada di pergelangannya. Benda satu - satunya pemberian ayahnya sebelum meninggal saat Aslan berusia 1 tahun.


“Loh Sas?” tegur salah satu teman ojeknya yang ternyata Sasi lah pelanggannya.


“Kok disini? Kamu yang pesen ojek?” Sasi mengangguk.


“Motorku rusak, tuh dibenerin di bengkel itu,” tunjuk Sasi dengan dagunya.


Sang driver pria melihat ke arah belakang Sasi, dia cukup terkejut jika Sasi membenahi motornya di bengkel tersebut.


“Nggak salah Sasi?” tanyanya.


“Apanya?”


“Tempat ini bengkel khusus motor besar, Sas. Tuh lihat papan nama di depannya. Dan lihat sekelilingmu, mana ada motor seperti milik kita dibenerin disini,” pungkasnya.


Sasi yang baru menyadari kondisi sekitars bengkel menelan salivanya kelat, dia mulai berpikir keras siapa sebenarnya pria yang menolongnya tadi hingga membantunya hingga seperti ini, apa mereka pernah kenal sebelumnya, Sasi mulai memeras otaknya mengingat jika memang dia pernah bertemu dengan pria tadi. Namun sekeras apa dia mengingat, sama sekali dia tidak menemukan pria itu.


“Hah, sudah lah,” lirih Sasi sambil menaiki motor milik teman satu profesinya itu.

__ADS_1


***


Sehabis pulang mengaji Aslan yang masih tak melihat kendaraan sang ibu mulai merasa khawatir. Tak biasanya sang ibu pulang lebih dari jam 6 malam. Biasanya sebelum maghrib ibunya itu sudah dirumah.


“Kamu kenapa celingukan begitu?” tanya sang ibu yang melihat Aslan seperti enggan masuk kedalam rumah.


“Loh, Mama kok dari sana?” Aslan berjalan mendekati sang ibu dan meraih punggung tangan yang selalu menghangatkan tubuh dan hatinya takzim.


“Dari warung, ternyata telur yang ada di kulkas habis,” ucap Sasi ambil mengusap lengan sang anak.


“Motor Mama, dimana?”


“Di bengkel,” tutur sang ibu sambil menarik pelan lengan Aslan untuk masuk kedalam rumah.


Aslan mengikuti langkah sang ibu hingga ke dapur sederhana milik mereka.


“Bukannya dua bulan lalu sudah diservis ya, Mah?”


“Iya, tapi Mama hanya ganti oli saja yang penting motor itu jalan, tapi ternyata.. yah namanya motor tua Lan,” ujar sang ibu yang sibuk meraih mangkuk serta sendok untuk mengocok telur.


Aslan yang tak bisa membantu apa - apa hanya bisa terdiam dan menatap sang ibu yang sibuk membuatkannya lauk untuk makan malam.


“Mungkin uang dari catering yang Mama kumpulin akan Mama pakai dulu untuk membetulkan motor. Bagaimanapun hasil mengojek bisa kita buat keperluan sehari - hari, kalau mengandalkan pesanan nasi tidak bisa jika untuk sekarang.”


Aslan yang mendengar nada sendu dari mulut sang ibu hanya bisa berdoa agar sang ibu selalu diberikan kesehatan dan kelapangan rezeki.


“Ya sudah nggak apa - apa, jika ada rezeki Mama beli alat untuk buat kue saja, nanti biar Aslan yang jualan keliling Ma,” ujar Aslan.


Sasi meletakkan spatula dan mematikan kompor. Dia berjalan mendekat ke arah Aslan dan memeluk anak itu. Jika Allah membiarkan yang lain pergi namun Allah juga meninggalkan dia satu hal yang sangat berharga dari semua kemewahan itu.


“Mama bersyukur, apa yang Mama pilih tidak keliru untuk mempertahankanmu agar tetap disisi Mama.”


Aslan membalas pelukan sang ibu erat, bahkan tanpa dia rasa air mata itu sudah menganak sungai siap untuk tumpah jika dia berkedip satu kali saja.


“Apapun akan Aslan lakukan, jika Aslan harus putus sekolah, akan Aslan lakukan agar Mama tidak terbebani dengan mengurusku,” gumam Aslan yang masih bisa didengar dengan jelas oleh Sasi.

__ADS_1


“Sut, ngomong apa sih, jangan aneh - aneh!” tegasnya.


“Jangan pernah berpikir untuk putus sekolah hanya karena masalah keuangan kita, itu akan jadi urusan Mama. Ok!”


Aslan mengangguk tak lagi ingin menimpali atau membantantah perkataan sang ibu. karena bagi Sasi kebahagiaan Aslan adalah utama baginya.


***


JAKARTA


Seorang pria yang tengah memandang laptop yang ada di hadapannya terlihat sesekali mengerutkan dahi, sesekali dia juga memicingkan matanya menatap data yang dikirimkan asistennya tentang salah satu keluarga kaya yang cukup terpandang di kotanya.


Tring


Suara dering ponsel membuatnya mengalihkan pandangannya.


“Pak, Yudi?” gumamnya.


“Halo?”


“...”


“Oh, oke! Bilang saja padanya jika semua itu bisa dicicil, jika semua gratis dia akan curiga nanti,” ujarnya.


“....”


“Ya sudah, tolong tetap pantau dia ya?”


Tut..


“Aku yakin dia wanita yang pernah menolongku waktu aku mengalami kecelakaan, suara dan bau tubuhnya tidak berubah.”


“Tapi jika benar dia dan pria sialan ini bercerai, lalu kenapa tidak ada data perceraian tentang mereka.”


Pria yang beberapa hari mencari tahu tentang keluarga Mahardika lewat sang om itu meneliti semua data yang dimilikinya satu persatu. Satu hal janggal yang dia dapati. Jika pernikahan Galih dengan istri pertamanya memang tak pernah terekspose ke khalayak ramai.

__ADS_1


“Dasar, biadab!”


__ADS_2