MAHLIGAI KEDUA

MAHLIGAI KEDUA
Bab 51 - Pesona yang Perlu di asah


__ADS_3

Di sepanjang perjalanan Sasi terus melamun. Entah kenapa ia merasakan rasa yang tak nyaman. Dia senang akhirnya sang suami memiliki harapan untuk memiliki anak namun di sisi hati lainnya ia juga takut jika pengalamannya yang telah lalu akan terulang seperti sebelumnya. Apalagi keluarga ini bukan keluarga sembarangan yang bisa ia lawan atau abaikan. Apalagi kedua mertuanya bukan orang yang bisa di ragukan kekuasaannya.


Sedang Nathan yang merasakan kejanggalan terhadap istrinya selepas pembicaraan dengan dokter Lintang tadi juga sedang terdiam dengan segala asumsi yang ada di pikirannya.


Roda mobil terus melaju hingga sepuluh menit kemudian gedung utama Suryabrata grup ada di depan netra mereka.


“Sayang, kamu tak ingin turun?” tanya Nathan membuyarkan lamunan sang istri.


Sasi melihat ke sekeliling dan tersenyum sebisanya. “Iya, Mas.”


Sasi meraih tangan Nathan dan keluar dari dalam mobil. Di lobby perusahaan Farid serta beberapa stafnya sudah menunggu kedatangan atasan mereka.


“Selamat siang, Tuan Sakha.”


Sakha hanya mengangguk kecil dan terus menarik lembut tangan sang istri yang terus menundukkan kepalanya itu.


Sesampainya di lift khusu petinggi Sakha memerintahkan semua staf dan Farid untuk menaiki lift lain dengan mengibaskan tangannya. Mereka pun menunduk hormat dan mempersilahkan sang tuan untuk naik terlebih dahulu.


“Tumben, ada apa, ya, Mas Farid?”


Farid yang memang tak tahu menahu ada apa dengan dua orang itu hanya mengedikkan bahunya. Tidak biasa Sakha menyuruh pengawal serta stafnya untuk menaiki lift lain, Mungkin karena Sakha sedang tak ingin diganggu karena ia sedang membawa sang istri bersamanya.


“Astaga. Masih tetap berdebar. Jika saja, kau tahu….”


Farid hanya bisa menelan bulat - bulat kata - kata yang hampir terlontar dari tenggorokannya itu. Kali ini, ia akan mencoba percaya dengan Sakha bahwa laki - laki itu memang tulus mencintai seorang Aryani Sasmitha.


“Tegakkan kepalamu, Sayang. Kau tak perlu menunduk hingga dagumu hampir menyentuh dadamu. Kau sedang bersamaku.”


“Iya, Mas. Aku hanya berusaha menjaga pandangan dan interaksi yang tidak perlu yang akan membuat orang lain salah paham.”

__ADS_1


Nathan menghela nafas, walau ia sudah mengatakan percaya pada sang istri tentang segala masa lalu wanita itu bersama dengan sang asisten. Tapi sepertinya Sasi memang sengaja membuat jarak yang sebenarnya itu tak perlu. Karena bagaimanapun setelah ini frekuensi bertemu dengan Farid pasti akan lebih sering, karena dia ingin Sasi akan terus meneminya kemanapun dan dalam acara apapun.


“Ya sudah, asalkan itu membuatmu nyaman.” Sentuhan lembut Nathan sarangkan ke kepala sang istri membuat Sasi mengulas senyum senang.


Pintu lift terbuka. Para Staf yang sudah berjaga di lift kini mengikuti Sakha dan Sasi tepat di belakang mereka menuju ke ruangan Nathan.


“Selamat siang, Tuan Sakha.”


“Bawa semua pekerjaan ku dan tanyakan keinginan istriku, penuhi semua perintahnya!”


Juwita mengangguk dan tersenyum ramah pada Sasi. Begitupun Sasi juga membalas senyum tulus itu.


“Ini berkas yang harus ada periksa, dan untuk jadwal minggu depan sudah saya rubah semuanya. Di semua undangan yang tertuju pada Anda sudah tertera nama, Nyonya Sasi, lengkap dengan gelar yang beliau dapat semasa kuliah.”


“Bagus. Pastikan di setiap acara semua tahu jika yang aku bawa adalah istriku, bukan orang lain.”


“Baik, Tuan.”


“Sayang,” panggil Nathan pada Sasi yang sibuk membaca majalah.


“Iya, Mas.”


“Ada yang kamu butuhkan?”


Sasi terdiam nampak berpikir, “Emm.. boleh aku, minta teh hangat?”


Nathan tersenyum, “Kau dengar, Juwi?”


“Baik, Tuan, Akan segera saya minta OB untuk buatkan.”

__ADS_1


Juwita menunduk dan berbalik badan. Ia keluar dari ruangan Sakha dengan degup jantung yang tak beraturan.


“Hei?” panggil Farid membuyarkan lamunan Juwita yang masih bersandar di depan pintu.


“Mas, Farid ngangetin!”


“Kenapa? Kena omel?” Juwita menggeleng.


“Istri baru, Tuan Sakha. Masya Allah cantik banget, baru ini aku lihat dia dari dekat. Benar kata resepsionis di bawah, beneran alami banget cantiknya. Nggak perlu make up tebel kaya aku sudah terpancar auranya.” Dengan penuh hati yang menggebu Juwita menyatakan kekagumannya pada Sasi.


Farid yang mendengar Juwita melantur hanya bisa menggelengkan kepalanya. Jika saja Sasi adalah anak orang berada sudah dipastikan akan ada ratusan anak pengusaha yang akan merebutkan wanita itu.


Di dalam ruangan, Nathan yang sedang bekerja di buat cemburu dengan kelakuan istrinya. Sejak sampai Sasi sudah duduk tenang di sofa sambil membaca majalah bisnis dan para teman - temannya. Bahkan Sasi tidak sungkan mengambil buku di rak untuk ia baca atau hanya ia lihat saja sampulnya. Semua itu tak lepas dari pandangan suami tercintanya yang justru merasa diabaikan atas perilaku tenang istrinya.


“Apakah pesonaku, tak lebih menarik daripada buku - buku tebal itu?” benaknya.


“Sayang?”


Sasi mendongak dan tersenyum menatap sang suami. “Ada apa, Mas?”


“Apa kamu tak ingin mengasah kemampuan sebagai sarjana ekonomi, Sayang?”


Sasi mengerutkan dahi mendengar kata - kata Nathan.


\*\*\*\*\*\*


Selamat Malam, Readers..


Maaf aku nggak up beberapa hari kemarin, kesehatan sedang terganggu.. Harap bersabar ya, jangan unfav, oke... Nanti aku nangis...😭😭

__ADS_1


Semoga kalian sehat selalu..❤❤


__ADS_2