
Pagi di perusahaan milik keluarga Mahardika. Tuan besar Mahardika yang sedang mengikuti rapat yang dipimpin oleh sang anak dikejutkan dengan sebuah pesan dari pesuruhnya, jika info yang dia minta sudah ada ditangan. Dia yang tadinya fokus melihat Galih menjelaskan tentang proyek terbaru yang bekerja sama dengan Suryabrata. Langsung keluar dari ruang rapat menuju ke ruangan pribadinya.
Galih yang melihat sang ayah terburu - buru mengernyitkan dahi melihat tingkah ayahnya sedikit tidak biasa.
“Din?” Sang asisten menoleh dan berdiri menghadap tuannya.
“Ada apa?” tanya Galih.
“Saya tidak tahu, Pak. Setelah melihat ponsel, Tuan Besar, langsung berdiri dan keluar,” ujarnya.
Galih menaikkan kedua alisnya mendengar kata ponsel dari sang asisten. Tidak biasanya sang ayah membawa ponsel ketika rapat. Karena Galih tidak boleh seenaknya menghentikan rapat. Dia memilih meminta maaf pada para staf atas kelakuan sang ayah yang tiba - tiba pergi begitu saja.
“Apa, kabar yang kau peroleh?” tanya tuan Yusuf pada pria dihadapannya itu.
Pria yang memakai jaket biru lengkap dengan topi berwarna putih yang menghiasi kepalanya memberikan sebuah amplop coklat kepada tuan Yusuf.
“Apa, semua ini akurat?”
“Saya tidak pasti, Tuan, karena wanita yang di foto ini memakai hijab jadi saya sedikit ragu namun setelah saya cetak, benar dia mantan menantu, Anda.”
Tuan Yusuf Mahardika langsung membuka amplop tersebut dan melihat foto - foto wanita itu.
“Apa, ini di Jogja?”
Pria itu menggeleng, “Tidak, Tuan. Mantan menantu Anda sedang berada di jakarta kurang lebih setelah dia menikah kembali.”
Tuan Yusuf membulatkan kedua matanya, “Apa katamu, menikah?”
“Benar, Tuan. Setelah saya cari ke alamat yang Anda perintahkan. Ternyata sudah hampir dua bulan, Nona Sasi, tidak disana. Dia dibawa oleh keluarga suaminya dan menetap di Jakarta. Hanya saja, para tetangga tidak tahu siapa keluarga suaminya itu, karena menurut mereka pernikahannya juga mendadak. Namun ada tetangga yang mengatakan jika, Nona Sasi sudah cukup mengenal pria yang mempersuntingnya.”
“Apakah, hanya itu saja?”
“Iya, Tuan. Saya mendapatkan foto itu di salah satu Mall milik Suryabrata grup. Namun ketika saya ingin mengambil gambar dia dan laki - laki yang kemungkinan itu adalah suaminya, gagal. Setelah kedua paruh baya beserta cucu Anda datang dan mengajak mereka pergi dari daerah food court itu.”
“Cucuku?” Pria itu mengangguk.
__ADS_1
“Tapi, Maaf. Saya tidak bisa mengambil foto cucu Anda. Setelah turun lewat lift, saya kehilangan jejak mereka.
“Jika dilihat, dari posisi ini. Kedua mertuanya tampak orang biasa saja. Dari penampilan mereka tidak mencerminkan jika mereka orang kaya. Lalu, dari mana dia bisa mencari pengacara handal seperti itu?”
“Saya belum sampai ketitik itu, Tuan. Saya akan berusaha mencari dimana ia tinggal di Jakarta.” Jawab pria itu.
Tuan Yusuf memandang foto - foto itu kembali. Dia fokus melihat wajah laki - laki yang ada di foto itu. Sedikit familiar namun dia tidak bisa mengingat, siapa orang itu karena posisinya memang dari samping.
“Ya sudah, berikan aku info akurat setelah ini. Cari dimanapun dia berada. Jika, pria dan mertuanya memang hanyalah orang biasa. Aku akan dengan mudah mengambil Aslan kembali!” tegasnya.
“Kau, boleh pergi, Bayu.” lanjutnya.
Pria bernama Bayu itu mengangguk dan berpamitan.
***
Senja berwarna jingga yang membawa sore ke gelapnya malam sudah mulai tenggelam di ufuk barat. Sasi yang tengah bersiap menunaikan sholat magrib menunggu seruan adzan sambil membaca Al - Qur’an. Jika dulu dia tidak memiliki waktu luang karena harus bekerja lain hal dengan sekarang. Semenjak tinggal di kediaman Suryabrata, Sasi mulai memperbanyak ibadahnya. Bermunajat dan selalu bersyukur kini Allah memberinya kebebasan untuknya beribadah.
Tak mau menyia - nyiakan waktu dan rezeki yang Allah berikan. Sasi melakukan semuanya dengan tertib dan hati yang bahagia.
“Malam, semua?” Tegur Sasi.
“Malam, Nyonya Muda.” Jawab ibu Rina dengan senyumnya.
“Dimana, Mama?” Tanya Sasi sambil ikut meletakkan piring serta peralatan lainnya.
“Mungkin masih di kamarnya, Nyonya. Tuan Besar, baru saja datang.”
Sasi mengangguk. Dia letakkan pekerjaannya dan beralih menuju ke kamar sang anak.
Tok Tok
“Assalamualaikum, Aslan!” seru Sasi.
“Waalaikumsalam, Mah!” serunya.
__ADS_1
Klek
“Ngapain?” Aslan menggeleng.
“Sudah sholat?”
“Sudah, Mah. Baru saja selesai.”
Sasi meminta Aslan segera mengikutinya ke dapur agar membantunya mempersiapkan makan malam. Dengan patuh, anak kesayangannya itu melepas kopiah yang dikenakanannya dan berlalu mengikuti sang ibu.
Sesampainya di ruang makan. Aslan menyingsingkan lengan bajunya dan mulai membantu ibu Rina meletakkan masakan, nasi serta air minum di atas meja makan.
“Wah, apa ini?” tanya Aslan.
“Itu steak namanya, Sayang.”
“Daging sapi, Mah?” tanya Aslan. Sasi mengangguk.
“Pesanan, Papa, ya, Bu Rina?”
“Iya, Nyonya Muda. Saat beliau pulang tadi, Tuan Banu meminta ini pada, Koki.”
Sasi mengangguk dan tersenyum. Dia berpikir sejenak. Kenapa tidak memberi makan malam istimewa saja untuk paruh baya itu, benaknya.
“Bu Rina, kita buat makan malam romantis saja buat, Mama dan Papa. Kita siapkan lilin serta jus rendah kalori untuk mereka. Taruh saja beberapa makanan yang tadi di meja. Lainnya ambil dan taruh lagi di belakang.”
Bu Rina tersenyum mendengar ide dari Sasi. Dia yang sudah tua tidak pernah terpikirkan hal semacam ini. Dia pun mengiyakan permintaan menantu keluarga ini dan mempersiapkan semua yang Sasi minta.
“Aslan,” panggil Sasi.
“Iya, Mah.” Jawab Aslan dengan mulut penuh dengan steak.
“Kamu, suka?”
“Enak, Mah.” Jawab Aslan sambil terkikik.
__ADS_1
Sasi menggelengkan kepalanya melihat kelakuan anaknya. Jelas enak, baru kali ini dia memakannya.