MAHLIGAI KEDUA

MAHLIGAI KEDUA
Bab 41 - Kenangan Masa lalu


__ADS_3

Nathan membanting pintu kamar cukup keras. hingga Sasi berdiri mematung karena rasa terkejut bahkan degup jantungnya kini seperti sedang lari marathon. Sorot mata memerah dari mata suaminya mengisyaratkan jika pria itu sedang tak baik - baik saja. Tak ingin membuat sang suami lebih marah lagi, Sasi mendekat dan mencoba meraih tangan Nathan.


“Ma… Mas, ma .. maaf…


“Jangan ulangi!” ucapnya pelan namun cukup terdengar dingin di telinga Sasi.


“Ka… kamu, ke… kenapa?”


Sasi tergagap bahkan kini lidahnya kelu ia bingung ingin bertanya apa. Sedangkan Nathan kini sudah duduk di sisi ranjang sambil menarik dan membuang nafasnya. Ia berusaha sekuat tenaga agar tak membuat Sasi dengan perubahannya yang tiba - tiba.


“Duduklah.”


“Ta… tapi itu, Mama, bagaimana, Mas?”


Nathan melirik ke arah pintu. Sedangkan sang ibu yang berada di luar terus menggedor pintu agar sang anak membukanya. Ia takut jika Sasi akan mendapatkan perilaku yang tak wajar dari suaminya itu.


Nathan menghela nafas. ia bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah pintu.


Klek


“Sakha, jangan marah, itu salah, Mama. Tolong jangan apa - apakan Sasi, ya?” pinta sang ibu memelas.


“Memangnya, Mama pikir, aku akan melakukan apa pada istriku? Jangan berlebihan, aku butuh bicara padanya. Jadi jangan ganggu kami!”


Brak


Pintu kembali ditutup dengan keras oleh Nathan. Nyonya Anggi yang masih mencemaskan nasib menantunya memilih tak beranjak dari sana, Sedangkan dari bawah, sang suami yang mendapat kabar dari bu Rina kini sedang melebarkan langkahnya menuju kamar sang anak


“Ma,” panggil sang suami.


“Pa,” nyonya Anggi menghambur memeluk suaminya.


“Ada apa?”


“Kita tunggu saja disini, Mama, takut ada apa - apa dengan menantu kita, Pa.”


“Ya sudah, jangan menangis.”

__ADS_1


“Papa, kok cepet udah sampai di rumah?”


“Tadi, waktu, Bu Rina, menghubungi, Papa memang sudah dekat.”


Sedangkan di dalam kamar sang anak. Masih terjadi kebisuan antara sepasang suami istri itu.


“Aku akan bertanya, jawablah dengan jujur!” Titah Nathan tiba - tiba.


Sasi yang tahu ada apa dengan suaminya ini hanya bisa mengangguk saja.


“Kau mengenal, Farid?”


Sasi mendongak menatap Nathan sambil mengernyitkan dahinya, “Farid? Farid siapa, Mas?”


“Farid Aryan!”


Sasi seketika membulatkan kedua matanya. Kenapa, suaminya bisa mengetahui pria bernama Farid Aryan ini.


“Mas mengenalnya?”


“Jawab saja, Sasi. Siapa dia?!” seru Nathan.


“Kau yakin?” Sasi mengangguk.


“Ada apa dengan kalian di masa lalu?”


Sasi yang bingung harus menjawab apa hanya bisa melipat bibirnya keras - keras. Dia takut jika jawabannya akan membuat Nathan tidak percaya padanya.


“Jawab!”


“Ka… kami, ha… hanya berteman saja. Wa.. walau…”


Sasi menghentikan kalimatnya, ia takut jika apa yang akan dia katakan ini justru membuat sang suami tambah marah, Tapi jika tidak dikatakan ia juga takut. Kini Sasi dalam dilema. Dia bingung harus bagaimana.


“Walau, apa? Teruskan!” tegas Nathan.


Sasi yang masih berdiri memberanikan diri untuk duduk di sisi Nathan dan memegang punggung tangan pria yang telah membuatnya memiliki harapan dan sebuah keluarga.

__ADS_1


“Bisakah, kita bicara baik - baik, Mas. Bisakah, Mas, meredam dulu kemarahanmu?”


Gemetar tangan dan sentuhan lembut sang istri membuat Nathan sadar jika sudah membuat takut wanita di sampingnya ini.


Nathan menatap bola mata Sasi dan seketika rasa cemas, marah serta degup jantungnya yang sedang berlarian kembali tenang begitu saja.


“Mas, sudah tenang?” Nathan memejamkan matanya dan mengangguk.


“Siap mendengar cerita, Sasi?” Nathan menggeleng.


“Kenapa?”


“Maaf, aku telah membuatmu takut.” Sasi tersenyum dan langsung memeluk tubuh tegap sang suami. Sungguh Sasi sangat ketakutan, dia takut jika suaminya akan salah paham dan berakhir dengan pertengkaran yang tak berarti.


Nathan membalas pelukan istrinya. Dia mengeratkan kedua tangannya dan mencium pucuk kepala sang istri cukup lama. Hanya membayangkan jika Sasi memiliki hubungan dengan Farid saja sudah membuat kecemasan di dalam dirinya kembali muncul.


Dia tahu seharusnya dia bisa sedikit saja meredam pikiran - pikiran buruk itu, Namun, dia tak berdaya kala mengingat kekurangannya yang dulu membuatnya kehilangan seseorang yang dicintainya dan kini dia tak akan lagi sanggup jika harus kembali kehilangan.


Katakn lah dia egois, tapi dia sungguh sangat mencintai dan menyayangi istrinya ini lebih dari segalanya. Nathan tak bisa membayangkan jika wanita yang dulu telah berjasa menyelamatkan hidupnya ini akan pergi meninggalkannya.


“Sayang,” Nathan menarik tubuh Sasi dan menatap kedua iris mata sang istri.


“Cukup kau mengatakan jika tidak pernah ada hubungan apapun antara kamu dan Farid, sudah membuatku lega. Katakan jika tidak pernah ada apapun di antara kalian?”


Sasi mengangguk. Biarlah kini ia simpan dulu cerita masa lalu itu, toh memang kebenarannya memang tidak pernah terjadi apapun padanya dan Farid. Walau memang Farid menyukainya namun waktu itu ia sudah memilih Galih lebih dulu.


Walau Galih dan keluarganya menorehkan banyak luka padanya. Namun Sasi tak pernah menyesali itu. Sasi tetap bersyukur dengan segala hal yang terjadi dalam hidupnya, karena baginya semua kesusahan itu sudah Allah bayar lunas dengan kehadiran Aslan di hidupnya.


“Aku mau mengatakan sesuatu padamu, entah kamu ingat atau tidak,” ujar Nathan.


“Ingat, apa?” tanya sasi.


“5 tahun lalu, kamu pernah menolong seorang pria mabuk yang terkapar karena mobilnya menabrak pembatas jalan, kau ingat?”


Sasi menunduk dan melepas tautan tangannya dengan Nathan. Dia mulai mencoba mengingat kenangan itu. Namun bukan kenangan ia menolong Nathan yang terlintas, justru kenangan sang ayah yang meninggal tanpa kehadirannya karena ia lebih memilih menolong pria yang bersimbah darah di wajahnya waktu itu.


...******** ...

__ADS_1


...Masih sepi ya komennya, boleh kok komen jika cerita ini menurut kalian bertele - tele atau mungkin ada part yang tidak pas.....


Silahkan ya readers…


__ADS_2