MAHLIGAI KEDUA

MAHLIGAI KEDUA
Bab 37 - 8 Magnitudo


__ADS_3

Nathan yang terpaku dan tak bergerak dari posisinya membuat Sasi menelengkan kepalanya dan tersenyum. Wajah tampan dan teduh yang kini menjadi miliknya membuat Sasi tak pernah berhenti memohon agar hanya pria ini yang akan selalu membuat hari - harinya bermakna dan berwarna. Tak ada lagi yang ia inginkan kecuali kebahagiaan keluarga kecilnya dan keluarga besar yang sudah sangat baik mau menerimanya dengan segala masa lalu serta kekurangannya.


“Mas,” panggil Sasi.


Nathan yang sedang menunduk langsung menengadahkan kepalanya menatap sang istri, “Kenapa, Sayang?” tanyanya.


“Mas, nggak ganti baju? Memangnya nggak dingin?” tanya sang istri.


“Untuk apa, aku ganti baju?” tanya Nathan sambil tersenyum nakal membuat Sasi yang paham kemana arah senyum itu hanya bisa memegang kepalanya menggunakan satu tangan sedang tangan yang lain menumpunya.


“Istirahat, saja, ya? Mas habis perjalanan, capek, ‘kan?” tawarnya.


“Siapa bilang aku capek, kamu tahu? Capek ku langsung hilang saat melihatmu tersenyum, jadi sekarang tenagaku sudah kembali full.” Ujar Nathan sambil memperlihatkan otot - otot yang ada di kedua lengan miliknya.


Sasi tertawa geli mendengar penuturan sang suami. Laki - laki yang beberapa bulan lalu bersikap aneh dan dingin padanya, kini sungguh sangat berbanding terbalik. Sikap dan gayanya terkadang tak mencerminkan seorang CEO yang sangat berwibawa dan dihormati serta disegani oleh para kolega serta bawahannya. Jika sudah bersama dengannya Nathan akan menjadi dirinya yang apa adanya. Dan Sasi sangat senang akan hal itu.


“Oh, ya. Aku hampir lupa!” Nathan menepuk jidatnya karena teringat akan satu hal.


Dia langsung masuk ke ruang ganti memakai pakaiannya dan langsung turun ke lantai bawah. Sebelum keluar dia memperingatkan Sasi agar menunggunya.


Setelah beberapa saat, Nathan kembali dengan membawa serta sebuah paper bag berukuran sedang dengan tulisan Pratama Jewelry.


“Ini, untuk istri tersayang dan wanita tercantik.”


“Gombal banget!” Sasi berseru sambil mengambil paper bag itu dari tangan sang suami.


Nathan, dia tersenyum hingga hampir terbahak karena merasa tingkahnya jadi sedikit berlebihan. Terkadang dia merasa, jika sikapnya tak pernah sebebas ini ketika ia dulu masih bersama dengan wanita itu. Sasi benar - benar merubah semua kebiasaannya.


“Wah, ini cantik sekali, Mas.” Kedua mata Sasi berbinar cerah melihat barang yang ada di depannya.


Sebuah kalung dengan liontin berlian terpampang di dalam kotak berwarna burgundy itu. Liontin berwarna biru membuat kesan manis dan mewah secara bersamaan.


“Cantik,” gumam Sasi hampir tak terdengar.

__ADS_1


Air mata haru yang sudah menggenang di sudut matanya membuat suara yang ingin keluar terasa tercekat dan berhenti di tenggorokannya. Dia tak lagi bisa mengutarakan rasa bahagianya karena perlakukan Nathan yang selalu di luar pikirannya. Nathan yang melihat Sasi terpaku pada liontin itu menengok wajah sang istri dan ternyata..


“Kenapa nangis, Sayang? Nggak suka?” tanya Nathan yang heran melihat Sasi justru menangis bukan tertawa atau berteriak karena mendapat kado indah darinya.


“Aku terharu, Mas. Ini bagus banget, bukan karena harga, karena aku tahu harganya pasti mahal. Tapi karena kamu ingat membelikan sesuatu untukku di tengah kesibukan mu. Makasih, Ya, Mas.”


Sasi menghambur memeluk Nathan. Sedangkan Nathan merotasikan bola matanya merasa jika sikap Sasi cukup berlebihan.


“Ini, hanya kalung, Sayang. Tidak seberapa. Jika aku membelikanmu kapal pesiar baru kamu boleh menangis,” ujar Nathan.


Sasi memukul dada Nathan pelan, “Mas, jangan bercanda.”


Nathan tertawa keras hingga mengguncang pundaknya. Dia usap kepala sang istri dan ikut mengusap air mata yang masih mengalir itu menggunakan ibu jarinya.


“Sini, Mas, pakaikan.”


“Jangan!” seru sang istri.


Nathan mengerutkan dahinya mendengar Sasi melarangnya memakaikan kalung liontin itu.


Nathan menghela nafas, “Sayang, aku beli itu untuk dipakai. Jika hanya jadi pajangan di lemari, untuk apa?”


“Tapi, Mas…”


“Sini!” titah Nathan memotong ucapan Sasi begitu saja.


Sambil memajukan bibirnya Sasi menyerahkan kotak perhiasan itu kepada Nathan. “Kamu tuh ada - ada aja,” omel Nathan membuat Sasi akhirnya pasrah karena kalung itu kini sudah bertengger cantik di lehernya dan menggantung hingga ke belahan da*danya.


“Nah, cantik. ‘kan?”


“Kalungnya, ya, Mas?” tanya Sasi memastikan.


“Kamulah! Karena kamu yang pakai kalung ini makanya cantik. Belum tentu jika dipakai orang lain akan terlihat secantik ini.”

__ADS_1


“Ish, Mas Nathan, gombal terus!” Sasi yang kesal memukul tubuh Nathan hingga membuat pria itu berteriak dan meminta Sasi berhenti memukul punggungnya.


“KDRT, Sayang!”


“Biar!”


Sasi duduk di sisi ranjang dan bersedekap sambil menyembunyikan rona wajahnya dari sang suami.


“Kado dari aku, sudah. Sekarang kado buat aku, mana?” tanya Nathan.


Sasi seketika menoleh, dengan cepat ia berdiri dan menghampiri suaminya. “Kado? Mas Nathan, minta kado?” Nathan mengangguk.


“Sebutin, Mas, mau apa? Tapi, nggak boleh yang mahal - mahal, Sasi nggak punya uang sebanyak yang, Mas miliki.” Ucapnya sambil diiringi helaan nafas kecil,


Nathan termenung tampak berpikir. Seolah - olah ia sedang memikirkan sesuatu yang besar dengan wajah seriusnya.


“Mas, nggak minta sesuatu yang dibeli pakai uang,” ucapnya membuat Sasi mengernyitkan dahi, apalagi kini perasaannya tiba - tiba tak menentu.


“Lalu?”


Nathan mendekat tepat di telinga Sasi dan berbisik, “Bayar pakai tenagamu, Sayang. Malam ini kamu yang memegang kendali dan aku menikmatinya. Bagaimana? Deal?”


Sasi menelan salivanya kasar. Tidak memegang kendali saja dia selalu di buat kewalahan dengan libido Nathan. Apalagi jika dia yang menjadi penunggangnya. Dulu dia sempat salah sangka jika kelainan yang Nathan alami tidak akan membuat pria itu tahan di atas pertarungan, namun ternyata perkiraannya salah besar. Justru, dia yang selalu dibuat terkapar tak berdaya oleh suaminya.


“Ta.. tapi, Mas…”


“Nggak ada tapi - tapi. Sekali - sekali mendapat servis boleh dong, Sayang?” ujar Nathan sambil menaik turunkan alisnya.


Sasi yang tak mungkin menolak akhirnya mengangguk dan pasrah jika esok hari dia akan menjadi putri tidur karena encok yang akan melanda pinggangnya.


Nathan yang melihat sang istri pasrah sambil mulai membereskan ranjang hanya bisa menahan tawanya. Dia tak mengira jika Sasi akan menurut tanpa membantah keinginannya. Tak ingin berlama - lama, Nathan langsung memeluk sang istri dari belakang dan mulai melakukan hal yang sudah ingin dia ledakkan dengan segera.


Sasi yang mendapat serangan fajar langsung roboh bagai bangunan terkena gempa dengan kekuatan 8 magnitudo. Dia pasrah kala Nathan mulai melucuti apa yang melekat di tubuhnya hingga semuanya tertanggal tanpa ada yang tersisa. Sedangkan Nathan yang selalu lebih sering mendahulukan kebahagiaan sang istri sudah mulai berjalan - jalan riang dari jalur utama, pusat kota hingga taman hiburan semua ia lalui tanpa jeda.

__ADS_1


Sedangkan kemudi yang ia pegang terus berputar searah jarum jam mengikuti irama yang ia mainkan.


Bersambung..


__ADS_2