MAHLIGAI KEDUA

MAHLIGAI KEDUA
Bab 54 - Galih VS Nathan


__ADS_3

Di perusahaan Suryabrata grup Nathan yang sedang memimpin rapat merasa sedikit tak nyaman karena pandangan seseorang terhadapnya. Dari awal meeting hingga sekarang seseorang itu cukup membuat konsentrasinya terganggu. Karena kesal Nathan akhirnya mengeluarkan suaranya. Sedang Farid yang ada di sampingnya sudah bersiap siaga jika Nathan tak bisa mengontrol emosinya.


“Ada yang ingin, Anda, tanyakan tentang proyek ini, Tuan Galih?”


Galih yang memang sedang menatap Nathan langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain.


“Em.. Saya rasa tidak. Semua sudah sesuai. Bagaimana yang lain?” tanya Galih.


“Kami tidak masalah. Mungkin, Tuan Sakha menanyakan itu pada Anda, karena dari tadi tidak fokus.” Jawab seseorang dari perwakilan perusahaan yang lain.


Galin salah tingkah. Ia tak mengira jika apa yang ia lakukan dilihat juga oleh orang lain.


“Tidak, saya mendengar. Semuanya.”


“Silahkan, Nona Juwita. Lanjutkan.” Ucap Galih.


Juwita tersenyum dan mengangguk. “Baik. Seluruh pembangunan apartemen ini sudah berjalan kurang lebih 30 persen untuk di wilayah utara Jakarta. Dan untuk pembangunan yang ada di tempat lain sudah berjalan sekitar 10 persen. Jika dilihat, untuk di utara Jakarta sudah hampir ada seratus orang yang memesan.”


“Bagaimana, Tuan - Tuan, dengan progres ini?” Tanya Nathan dengan menghadap ke semua peserta meeting.


“Kami sangat senang, bekerja sama dengan Suryabrata selalu lugas dan cepat. Kami beruntung, karena Papa, Anda, juga menjadi salah satu investornya.”


Sakha mengangguk setuju. “Jadi apakah ada yang ingin ditanyakan lagi?”


“Kami rasa, semua sudah cukup baik. Penjelasan Nona Juwita juga sempurna seperti biasa.” Ujar para petinggi yang lain.


Rapat yang sudah berjalan selama dua jam itu akhirnya berakhir. Seluruh peserta rapat kini sudah mulai berhamburan keluar dari ruang meeting perusahaan Suryabrata. Namun salah satu dari mereka justru menuju ke ruangan CEO.


“Apa aku bisa bertemu dengan, Tuan Sakha?” tanyanya pada Juwita sang sekretaris.


Juwita yang memang sudah diperintahkan untuk menyambut Galih tersenyum.


“Anda sudah ditunggu, Tuan. Silahkan!” tegas Juwita.


Galih mengangguk. Walau ragu tapi ia harus mencoba semampunya. Galih membenahi jas yang dipakainya dan melenggang masuk ke ruangan CEO.

__ADS_1


“Permisi, Tuan Sakha?”


“Oh, silahkan masuk.”


“Kau bisa tinggalkan kami, Rid.”


Farid mengangguk dan meninggalkan dua pria yang satu masa lalu Sasi dan satunya lagi masa depan cerahnya.


“Dasar tidak sabaran!” Benak Nathan kesal. Jika bukan karena ia sedang melakukan perintah sang ayah, dia tak akan selembut ini pada pria yang telah menyakiti istri dan anak sambungnya.


“Ada yang bisa saya bantu, Tuan Mahardika?”


“Apakah, saya boleh duduk?”


“Hah, berdirilah hingga kakiku kram!” Benak Nathan. “Oh, silahkan. Kita duduk, di sofa saja.” Galih mengangguk. Ia mengikuti Nathan dan duduk di sofa yang berada di samping Nathan duduki.


“Bagaimana? Apa proyek kita tidak sesuai dengan kriteria pemikiran, Anda?”


“Oh, tidak. Semua sangat baik.”


“Lalu?”


Nathan menahan nafasnya. Ia sungguh tak ingin membahas istrinya bersama pria bangsat ini.


“Soal?” Nathan yang tak ingin berlalu dengan lama dan penuh basa - basi. Mengubah mimik wajah dan nada intonasinya.


Galih yang melihat sorot mata Nathan yang tiba - tiba berubah. Dia meyakini jika apa yang dibicarakan sudah Nathan duga sebelumnya. Tapi demi ayahnya dan penerus keluarga Mahardika dia harus melakukan ini.


“Bagai- bagaimana, kabar Sasi? Apa dia baik - baik saja?” ucap Galih terbata.


Nathan bersedekap. Ia menatap dingin ayah kandung Aslan ini. “Kabar yang mana yang ingin Anda dengar?”


“Ka- kabar dia sekarang?”


Nathan mengangguk, “Dia baik dan tentu dia menjadi, Nyonya muda Suryabrata. Papa dan mamaku, menyayanginya seperti anak sendiri. Bahkan, Aslan, selalu memiliki semua perlengkapan belajar dengan edisi terbatas. Belum lama ini, dia juga memiliki alat panah dengan salah satu merk yang biasa dipakai atlet dunia. Jangan khawatir, mereka bahagia.”

__ADS_1


Glek


Galih menelan salivanya susah payah. Jika bukan karena ibu dan ayahnya yang meminta melakukan ini, dia sungguh tak mau berhadapan dengan seorang Nathan Arsakha. Tenggorokannya yang tadinya lancar bagai jalan bebas hambatan kini bagai jalan yang sudah di sapu badai tsunami.


“Apa sa- saya bisa bertemu dengan, Aslan?”


Nathan menarik salah satu sudut bibirnya. Ia mengusap dagunya dan menatap meremehkan pria yang berusia lebih muda darinya itu.


“Bukankah di surat perjanjian yang sudah di buat, Anda, hanya bisa melihat, Aslan, jika ibunya memberi izin? Apakah saya perlu membelikan kacamata yang baru untuk Anda, Tuan Galih!”


Nathan menekan setiap kata yang terucap. Dia tak ingin sang istri kembali berurusan dengan pria ini ataupun mantan mertuanya. Walau dia tak punya hak apapun tentang Aslan, tapi dia bisa menggunakan semua bukti yang dia punya untuk membuat Aslan tetap bersamanya dan menyandang nama besar keluarganya.


Galih tak lagi bisa berkutik. Karena dia tahu bahwa seorang Sakha tidak mungkin bisa ia tindas walau ia membawa pengacara handal sekalipun. Ia akan tetap dibuat bertekuk lutut.


“Dengar!” Suara dingin syarat akan ancaman itu membuat Galih memundurkan kepala dan tubuhnya.


“Jangan ganggu, istriku dan cucu keluarga Suryabrata. Jika, Anda, menyentuh barang satu jengkal pun tubuh mereka. Jangan nama besar Mahardika, bahkan semua keturunan keluarga besar Anda, bisa aku buat lenyap dari muka bumi ini. TIdak ada toleransi, jika itu mengenai keluarga. Anda tahu betul bagaimana Suryabrata menangani masalah yang membelit kami, bukan?


Jantung Galih rasanya ingin terbang saking kencangnya berdetak. Belum berhasil mengutarakan semua keinginannya, dia sudah dibuat tak bisa berkata - kata. Tapi dia tidak akan menyerah dia akan mencoba hal terakhir ini.


“Anda begitu mencintainya? Tapi apakah Anda tahu jika wanita itu suka menggaet pria - pria kaya? Anda tertipu dengan kelembutan palsunya!”


Galih tertawa sarkas. Dia akan melihat Nathan akan terpengaruh atau tidak dengan ucapannya.


“Baik, aku ikuti permainanmu.” Batin Nathan sambil melepas kancing jasnya seolah - olah dia kegerahan akan kata - kata Galih yang menuduh istrinya sembarangan dengan mulut laknatnya itu. Wajahnya kini mulai merah padam. Ia akan pastikan jika Galih menilai jika dirinya terpengaruh.


“Bagus, dia marah. Dia percaya dengan kata - kataku.” Ungkap Galih dalam benaknya.


“Jika Anda tidak percaya, Farid adalah salah satu laki - laki yang dulu pernah digaet oleh, Sasi. Apakah, Anda tidak tahu itu?”


Wajah Nathan kini benar - benar merah padam. Jika bukan karena ia ingin mengetahui semua maksud dan tujuan pria di hadapannya ini sudah ia beri bogem mentah dan akan berakhir di rumah sakit sekarang juga.


“Jangan jelek - jelekan, istriku. Bagaimanapun dia sekarang adalah Nyonya muda Suryabrata. Anda tidak bisa menghinanya dengan bermacam - macam tuduhan tak berdasar.” Ucap Nathan berusaha membela Sasi tanpa berlebihan.


“Saya mengenal Sasi lama, Tuan Arsakha. Jadi saya tahu betul bagaimana dia, saya juga dulu tertipu dengan semua kelembutannya. Jadi saya sarankan, Anda, jangan tertipu.”

__ADS_1


Galih melebarkan senyumnya, dia merasa di atas angin. Yah, angin topan yang akan memporak - porandakan ia dan keluarganya.


Bersambung...


__ADS_2