MAHLIGAI KEDUA

MAHLIGAI KEDUA
Bab 16 - Menantu Keluarga Suryabrata


__ADS_3

Pak Yudi yang datang tidak hanya dengan tangan kosong pun menjadi pembantu dadakan karena bertugas menyiapkan segala keperluan acara ijab kabul dari penghulu, sajian dan minuman. Pria yang tak lain adalah kepala bengkel dimana Sasi membetulkan motornya itu hanya bisa patuh. Karena jika mandat itu datang dari sang nyonya besar dia tidak bisa membantah bahkan mengeluh. Bukan apa - apa, jika semua berjalan baik dan mulus upah yang akan didapatkannya pun tak main - main. Bisa - bisa dia akan mengajak anak dan istrinya liburan lagi bulan depan.


Keluarga Suryabrata yang tidak ingin pernikahan anaknya dan calon menantu mereka menjadi bahan gunjingan akhirnya memutuskan mengundang beberapa tetangga Sasi untuk menjadi saksi. Bahkan wanita yang bernama Dewi yang sering menggunakan jasa ojek ibu dari Aslan ini cukup terkejut, mendengar si janda kembang cantik nan alim itu dipersunting seseorang.


Tak pernah terdengar jika Sasi memiliki pacar atau dekat dengan seseorang tiba - tiba seluruh tetangga dibuat menganga melihat siapa yang mempersunting wanita itu. Dari mobil hingga tampilan nyonya Anggi dan tuan Banu saja bisa mereka lihat jika keluarga calon mertua Sasi bukan dari kalangan sembarangan.


Penghulu yang telah siap dan sudah mencatat dengan benar nama Sasi dan Nathan serta nama ayah mereka pun siap. Bahkan meja kecil yang ada di kamar Sasi pun juga disulap menjadi meja untuk acara ijab kabul. Penghulu itu mulai menyapa para tamu dan memberikan sepatah dua patah mengenai apa itu pernikahan lengkap dengan segala hak dan kewajiban yang ada didalamnya.


Nathan yang menikah hanya karena ingin menyempurnakan ibadahnya tanpa berpikir akan hadirnya seorang anak tertunduk dan meremas kedua tangannya. Bukan inginnya namun kenyataanya memang harus seperti itu. Setelah selesai Penghulu pun menjabat tangan Nathan dan merapalkan doa sebelum ijab kabul. Setelah seluruh keutaman ijab disebut barulah Nathan menjawab dengan lantang.


“Saya terima nikah dan kawinnya Aryani Sasmitha binti Yunus. Dengan seperangkat perhiasan dan cincin berlian dibayar tunai.”


Kata Sah menggema di ruang tamu Sasi. Sedangkan Aslan yang terharu akan sang ibu yang sudah mendapat jodohnya kembali, menangis terharu sambil menutup wajah dengan kedua tangannya.


Tuan Banu serta sang istri juga sangat berbahagia. Akhirnya setelah sekian lama sang anak bisa memiliki pendamping yang baik. Mereka juga berharap semoga Sasi betul - betul bisa menerima kondisi Nathan dengan bijak, karena mereka tidak menginginkan sang anak kembali mengalami perpisahan yang justru akan menambah luka dihati sang anak semata wayang.


Sasi yang telah Sah dan Halal menjadi istri dari seorang Nathan Arsakha Suryabrata mengucap syukur dan berdoa semoga pernikahan ini menjadi ibadah berumah tangga yang terakhir hingga nafas terakhir.


“Silahkan Mas Nathan pasang cincin dan baca doa, sentuh ubun - ubun istrinya, ya!” pinta pak penghulu.


Nathan dan Sasi saling berhadapan. Nathan mengambill cincin pasangan yang sudah dipersiapkan dan menyematkan ke jari manis milik Sasi begitupun sebaliknya. Setelahnya Sasi mencium punggung tangan Nathan bersamaan dengan Nathan menyentuh ubun - ubun sang istri dan mulai merapalkan doa.


“Allahumma inni as'aluka min khairiha wa khairi maa jabaltahaa 'alaih. Wa a'udzubika min syarri haa wa syarri maa jabaltaha 'alaih."


(Artinya : "Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikan dirinya dan kebaikan yang Engkau tentukan atas dirinya. Dan Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekannya dan kejelekan yang Engkau tetapkan atas dirinya.")


“Terima kasih sudah mau menikah denganku,” bisik Nathan membuat wajah Sasi seketika merona.

__ADS_1


“Kita bisa jalani ini perlahan, biarkan semua mengalir begitu saja, ya?” pinta Nathan Sasi pun mengangguk mengiyakan pernyataan pria yang telah sah menjadi suaminya itu.


Ucapan selamat silih berganti mengalun satu persatu dari para tetangga dan kedua orang tua Nathan. Namun dalam sekejap, rona wajah bahagia Sasi berubah pucat tatkala nyonya Anggi memintanya untuk langsung ikut kembali ke jakarta esok hari.


“Kenapa, Sayang?” tanya nyonya Anggi yang melihat wajah gelisah menantunya.


“Apa tidak bisa jika hidup disini saja, Ibu?” tanya Sasi pada ibu mertuanya itu.


Nathan yang melihat raut wajah Sasi yang sendu pun mendekat dan merangkul pundak wanita itu.


“Semua pekerjaanku sebenarnya seluruhnya ada di Jakarta. Disini aku hanya sedang melarikan diri untuk pengobatan serta membantu teman sekaligus anak dari sahabat Papa, untuk mengurus rumah sakit milik keluarganya yang sedang bermasalah. Karena seluruh pekerjaan itu dan pengobatan yang aku jalani sudah selesai. Maka aku harus kembali ke Jakarta. Itu mengapa kemarin aku tidak bisa segera menghubungi setelah pertemuan kita, dan inilah alasannya.”


Nathan menjelaskan panjang lebar mengapa dan kenapa Sasi harus ikut mereka kembali ke Jakarta. Sasi yang tidak bisa berkata apa - apa lagi hanya bisa mengangguk, setuju akan permintaan suami dan mertuanya.


“Lalu, sekolah Aslan bagaimana, Mas?” tanya Sasi.


“Itu gampang, dia anak yang cerdas sudah tentu mudah untuk mencarikannya sekolah, kamu tenang saja.”


Aslan yang sedang mencicipi kue dengan eyang barunya itu tiba - tiba saja melupakan sang ibu yang kini sedang menatapnya dengan bahagia. Dia tidak mengira ibu mertuanya bisa sesayang itu kepada Aslan. Padahal mereka baru saja bertemu.


“Jika setelah sampai di Jakarta waktu mainmu dengan Aslan berkurang karena kedua orang tua itu, maklumi saja ya?” Sasi tersenyum menanggapi ucapan Nathan. Kini rasa bahagia di hatinya tak lagi bisa tergambar walau hanya dengan kata bahagia saja.


Para tamu yang terdiri hanya 5 orang itu pamit setelah mendapat bingkisan dari mertua Sasi.


“Sasi, kita pamit ya?” ucap mbak Dewi mewakili.


“Iya, Mbak. Terima kasih ya. Dan minta doanya agar langgeng.”

__ADS_1


“Tentu Sas. Semoga pria ini bisa selalu memperlakukanmu dengan baik, tidak seperti mantanmu yang arogan itu,” bisiknya.


Sasi mengulum senyum menatap Nathan yang beralih menyalami pak penghulu yang pamit untuk pulang.


Kelima tetangga Sasi keluar dari kontrakan milik Sasi bersama - sama. Namun tetangga mereka yang kemarin melihat Sasi keluar bersama Nathan beberapa waktu lalu membuka suara.


“Aku yakin, pasti Sasi udah di apa - apain sama Mas - mas itu. Nggak mungkin nggak ada hujan tiba - tiba menikah. Apa jangan - jangan Sasi hamil lagi!” serunya.


Mbak Dewi yang sudah hafal dengan tabiat tetangganya yang satu ini langsung meremas mulut ibu - ibu tukang ghibah itu keras - keras.


“Dewi, sakit!” pekiknya.


“Diem Nggak! Dasar Ibu - ibu mulut lemes! Kamu boleh menggunjing aku bahkan menceritakan keburukanku ke seantero komplek dan desa tapi jangan pernah sebut Sasi begitu!” tegasnya.


“Jangan menghina wanita yang jelas - jelas baik akhlaknya. Baik tutur katanya. Kena azab baru tahu!” sarkas kak Dewi.


Para tetangga lain yang sudah hafal akan tabiat ibu - ibu satu ini hanya bisa menggelengkan kepala dan menepuk dada mereka. Heran dengan mulut yang tidak pernah bisa mengontrol apa yang dikatakan.


“Sudahlah Bu, kita semua tahu Sasi itu bagaimana, ya ‘kan Pak?” tanya ibu yang lain pada suaminya.


“Iya benar kata istri saya. Selama tinggal di kontrakan itu Sasi tidak pernah macam - macam walau dia bergaul dengan Dewi.”


Wanita bernama Dewi itu mengangguk setuju namun sedetik kemudian..


“Maksud Pak Farid, apa?” ujar Dewi menatap nyalang pada pria disisinya itu.


“Ya maksud saya kan, kamu bergaulnya bebas. Tapi Sasi yang akrab denganmu tidak pernah mengikuti apa yang kamu kerjakan kan? Iya, apa nggak?”

__ADS_1


Wanita bernama Dewi itu mengangguk tegas. Membenarkan ucapan pria paruh baya itu. Dari awal Sasi datang dan hidup dalam kesusahan dia sama sekali tidak mau mencari jalan pintas hanya untuk mensejahterakan hidupnya serta anaknya.


“Ya sudah. Kita pulang saja. Nggak enak ngobrol disini. Nanti dikira apa yang dikasih ke kita ini kurang lagi. Yuk!” Dewi menggiring para ibu dan bapak - bapak itu untuk beranjak dari depan kontrakan Sasi.


__ADS_2