
Nathan masih menundukkan kepalanya. Ia tak berani walau hanya sekedar menyela ucapan papanya.
“Papa, tidak mengerti. Kenapa kau sampai seperti itu, bahkan, mamamu, Sampai gemetaran saat menunggu di luar kamarmu.”
“Apa yang terjadi? Apa, ini karena wanita itu lagi!”
“Tidak, Pah. Ini karena, Sakha, bukan karena siapapun. Sakha hanya takut, karena…”
Sakha bingung, apa iya dia harus menceritakan kecemburuannya yang tak beralasan hingga membuatnya marah tanpa alasan.
“Karena, apa?”
Sakha menghela nafas. Dia menarik kursi yang ada di depannya dan duduk disana.
“Aku hanya merasa cemburu, pada pria lain yang mengagumi istriku, hanya itu,” cicitnya.
“Cemburu? Siapa?”
“Farid, Pah.”
Tuan Banu mengerutkan dahi mendengar nama asisten sang anak.
“Ada apa, dengannya?”
“Aku tahu, bahwa dia adalah teman SMA, si Mahardika itu. Tapi aku tidak tahu jika Farid juga mengenal, Sasi, bahkan dia dulu juga menyukai istriku.”
Tuan Banu yang mendengar itu hanya bisa menggeleng. Tak habis pikir dengan sikap konyol anaknya.
“Lalu, kau marah karena takut jika, Sasi, bertemu dengan, Farid, dan akan kembali membina hubungan, begitu? Apa kau anak remaja kemarin sore, Sakha!”
Nathan kembali menutup kedua matanya saat sang ayah kembali berteriak padanya. Ia dia tahu jika sikapnya sungguh kekanak - kanakan.
“Papa, tahu. Semua kekalutan mu. Tapi, apakah kau tak bisa memberi sedikit saja, ruang untuk istrimu? Apa, kau akan selamanya mengurung dan menjauhkan dia dari dunia luar, hanya karena ke egoisan mu itu?”
“Bukan, begitu, Pah…”
__ADS_1
“Stop! Sakha.”
“Papa, tahu. Bagaimana ketakutanmu, tapi cobalah percaya pada, istrimu. Beri dia kepercayaan, agar dia tahu bahwa kamu sungguh - sungguh menerima dia dengan segala masa lalunya. Seperti halnya dia menerimamu dengan segala kekuranganmu.”
Nathan kembali menghela nafas. Apa ia mampu membiarkan sang istri bebas untuk kembali melakukan segala aktivitasnya. Sedangkan ia tahu betul, di Jakarta ini tak menutup kemungkinan Sasi akan bertemu dengan teman - teman lamanya.
“Maaf, Pah. Aku belum siap, untuk membiarkan istriku keluar rumah tanpa aku ada disisinya.”
Sang ayah menghela nafas sambil menutup kedua matanya. Pembicaraan ini sudah terjadi dari awal Sasi di bawa kemari oleh mereka dan jawaban Nathan masih tetap sama. Kadang, tuan Banu merasa kasihan pada Sasi. Namun, jika melihat sang menantu yang sangat penurut pada anaknya membuat ia juga cukup bernafas lega.
Bukan berarti tuan Banu membenarkan dan membiarkan sifat anaknya yang seperti itu. Tapi, dia benar - benar merasa beruntung karena Sasi lah yang menjadi menantu dan istri dari anaknya yang labil ini.
“Oke, terserah padamu. Papa, cuma minta satu padamu. Kontrol emosi, jangan membuat, mamamu, khawarir tentang rumah tangga kalian.”
Nathan mengangguk dan berterima kasih pada papanya, karena mau sekali lagi percaya padanya.
Jika orang lain yang menjadi orang tuanya Nathan tak tahu apakah ia akan sangat disayang walau sudah banyak menyusahkan kedua paruh baya itu.
Pembicaraan itu akhirnya selesai. Dia pamit kepada papanya untuk beristirahat. Nathan melebarkan langkahnya agar segera sampai di kamarnya dan ikut mengarungi mimpi bersama sang istri.
“Mas, kenapa, mengendap - ngendap gitu?”
“Aku pikir kamu belum tidur, Sayang.”
Sasi mengulas senyum mendengar ucapan suaminya, “Aku memang berencana tidur, tapi aku teringat dengan buku yang aku ambil di ruang baca.”
“Buku, apa?”
“Sastra Inggris.”
Nathan mengernyit, untuk apa istrinya membaca buku itu.
Sasi terkekeh melihat ekspresi sang suami pun berkata kembali.
“Dulu, aku ingin sekali melanjutkan kuliah ambil sastra, tapi sayangnya nggak kesampaian.”
__ADS_1
Nathan mengangguk, “Apa, kamu mau lanjut kuliah?”
Sasi terdiam sesaat, lalu dia menggeleng. “Aku, mau jadi, Ibu rumah tangga saja, biar bisa melayani suamiku sepenuhnya.”
Nathan mendekat ke arah istrinya. Dia mengambil buku yang Sasi baca lalu merebahkan kepalanya di kedua paha istrinya. Nathan mengambil tangan Sasi dan meletakkan tangan itu di kepalanya.
“Jika kamu, ingin melanjutkan lagi belajarmu, bilang sama, Mas. Jangan sungkan, ya?”
Usapan lembut tangan Sasi di surai Nathan membuat pria itu memejamkan kedua matanya. Ia tak tahu jika suatu saat perempuan ini pergi darinya, entah apa yang akan terjadi pada hidupnya. Dia tahu bahwa sikapnya cukup membuat siapapun akan mencapnya laki - laki bucin, posesif dan sebagainya. Tapi baginya, cukup Sasi tetap nyaman dengan sikapnya yang aneh itu baginya pendapat orang lain tak ingin ia dengar ataupun berguna baginya
“Sayang.”
“Hem.”
“Apa, jika selamanya kita tak memiliki anak, kau akan baik - baik saja? Kau, tak akan meninggalkanku, ‘kan?”
Sasi seketika menghentikan usapannya. Kenapa harus hal ini yang dibahas. Padahal jauh - jauh Sasi sudah mengatakan jika tak akan mempermasalahkan hal ini, karena baginya yang penting sekarang adalah bagaimana Natan bersikap dan mau setia hanya padanya saja. Baginya itu sudah cukup. Bukan karena ia sudah memiliki Aslan, namun jika dengan permasalahan yang menimpanya dahulu, anak bukan segalanya dalam rumah tangga. Karena terbukti setelah memiliki Aslan ia tetap saja dibuang oleh suami dan keluarganya.
“Aku sudah mengatakan bukan, jangan lagi bahas itu, Mas. Cukup kita, jika memang dengan segala usaha yang kita lakukan ternyata, Allah, memang tak memberikan rezeki itu pada kita. Kita, bisa apa?”
“Maaf, Sayang. Mas, hanya takut.”
“Takut, Sasi, akan meninggalkan, Mas. Hanya demi sebuah keturunan? Begitu? Sebegitu rendahnya, Sasi, di mata, Mas!”
Sasi kesal. Hampir berulang kali Nathan selalu meragukan kesetiaannya. Bahkan hanya karena ia tahu tentang Farid, laki - laki ini marah seolah - olah Sasi telah berselingkuh.
“Maaf, Sayang. Bukan begitu,” Nathan bangun dari posisinya dan langsung menggenggam kedua tangan Sasi.
Sasi yang tak habis pikir dengan olah pikir lelakinya ini hanya bisa memalingkan wajahnya. Dia sungguh kesal karena terus di curigai. Padahal semua keinginan yang Nathan mau darinya sudah seluruhnya Sasi turuti.
“Jangan marah, ya? Maaf, Sayang.”
Sasi masih diam, dia tak ingin luluh. Sasi hanya ingin, Nathan mengerti posisinya dan percaya jika dia selalu memegang teguh kesetiaan. Bahkan jika dulu Galih memintanya tetap tinggal dan berusaha meminta maaf atas segala kesalahannya, Sasi akan tetap memilih mempertahankan rumah tangganya. Karena baginya di poligami akan tetap membuatnya jadi terhormat daripada menjadi janda karena lelakinya direbut oleh orang lain.
Tapi sayangnya, Galih memilih mendengar kata - kata kedua orang tua serta wanita itu untuk mengusirnya. Bahkan Galih memberikan penawaran yang tak mungkin untuk ia pilih. Mendapat harta gono - gini namun harus menyerahkan Aslan dan tak lagi boleh melihat anak semata wayang yang dilahirkannya dengan susah payah atau pergi dari rumah itu membawa Aslan namun dengan tangan kosong.
__ADS_1
Bersambung..