
Sejak melamar secara personal pada Nova, kini gadis itu tidak lagi tidur bersama dengan Vino seperti yang sudah-sudah. Vino ingin melakukan hubungan intim dengan Nova saat mereka resmi menjadi suami istri. Nova tetap tinggal di unit apartemen yang sama dengan Vino, hanya berbeda kamar.
Gadis itu melakukan kesepakatan dengan Vino yang sekarang sudah menjadi kekasihnya. Di tengah-tengah, mereka sedang sarapan pagi, Vino menyampaikan sesuatu kepada Nova tentang rencananya yang akan pergi ke luar negeri.
"Sayang. Hari ini aku mau berangkat ke Singapura. Pulang dari Singapura aku akan melamarmu pada kedua orangtuamu. Tolong sampaikan kepada mereka tentang hubungan kita ini agar mereka mempersiapkan segala sesuatunya karena aku akan membawa ibu dan adikku Hanna untuk melamarmu" ucap Vino antusias.
"Baik daddy. Aku akan segera memberitahukan kepada mami dan papiku tentang niat baik Daddy."
"Kalau begitu, aku berangkat dulu ya sayang. Hilman sudah menungguku. Hati-hati kamu di rumah baby," ucap Vino sembari mengecup bibirku.
"Hati-hati daddy!"
Sekitar satu jam Vino meninggalkan Nova, tiba-tiba saja ponsel Nova berdering. Gadis itu segera mengambilnya dari meja makan. Nova melihat ada panggilan dari ayahnya.
"Hallo papi!"
"Hallo Nova. Sayang. Sekarang kamu harus pulang nak! karena mami kamu sedang kritis di rumah sakit."
"Apa..!"
"Baik papa. Nova akan pulang sekarang juga dengan pesawat." Ucap Nova tanpa banyak ngomong.
Ia mengambil pakaiannya dan langsung masukin ke koper kecil milik Vino. Nova bergegas menelpon taksi untuk mengantarkan dirinya ke bandara. Nova memesan tiket melalui aplikasi online dan ia sudah mengantongi tiketnya.
"Mami. Aku mohon tunggu Nova. Jangan pergi, mami!" Gumam Nova lirih sambil menangis di dalam pesawat.
Nova yang lupa mengabari Vino karena saking paniknya, mendengar ibunya kritis. Setibanya di kota Solo, Nova langsung menuju ke rumah sakit yang sudah disebutkan ayahnya tadi.
Beruntunglah, Nova masih bisa melihat ibunya yang masih dalam keadaan kritis. Nova menghamburkan tubuhnya ke perut ibunya." Mama. Maafkan Nova baru datang." Ucap Nova sangat menyesal.
"Nova. Papi tinggal sebentar ya sayang. Papi mau ke kantin dulu. Papi belum makan apa-apa dari semalam karena sibuk mengurus mami kamu."
"Baik papi."
Ketika Tuan Reinaldi sudah berada di kantin, nyonya Ayesha sudah mulai siuman. Ia mengerjapkan matanya melihat wajah cantik sang putrinya sambil menangis sendu. Ia juga membuka cup oksigennya untuk bicara dengan Nova. Putrinya langsung menciumnya bertubi-tubi sambil menangis.
"Nova."
__ADS_1
"Iya mami!"
"Nova. Mami ingin bertanya padamu dan mami harap kamu harus menjawab pertanyaan mami dengan jujur."
"Iya mami. Tanya saja. Nova akan menjawabnya dengan jujur."
"Apakah kamu adalah seorang sugar baby, nak?"
Duarrrr...
Mata Nova membelo dengan mulutnya setengah terbuka. Ia tidak menyangka ibunya akan mengajukan pertanyaan itu." Kenapa diam Nova? Apakah kabar itu benar?"
"Tidak mami. Siapa yang memfitnahku?"
"Jika tidak benar, apakah pantas kamu tinggal dengan seorang laki-laki di apartemennya itu, hah? Ambil ponsel mami! Ada semua bukti di dalam ponsel mami tentang kelakuanmu dan mami harus merahasiakan dari papi kamu. Sekarang mami tanya, apakah kamu melakukan itu? Kamu menjual harga dirimu karena selama ini kamu sudah terbiasa hidup enak dan nyaman?"
"Tidak seperti itu mam," Ucap Nova dengan linangan air mata dan mulut bergetar hebat.
"Lantas kamu mau apa? kalau bukan tujuan kamu seperti itu?"
"Mami...mami...mamiiiii!" Pekik Nova histeris saat melihat keadaan ibunya yang sudah tidak bernyawa lagi.
Nova segera memencet tombol nurse call. Dokter dan suster berlarian menuju kamar inap nyonya Ayesha di ikuti ayahnya yang nampak panik melihat rombongan dokter masuk ke kamar istrinya.
Setibanya di dalam kamar tersebut, dokter segera memeriksa keadaan nyonya Ayesha. Dokter menggelengkan kepalanya dan menentukan waktu kematian nyonya Ayesha.
Tuan Reynaldi sangat syok mendengar ucapan dokter hingga ia memegang dadanya yang terasa sangat sakit dengan tubuh terhuyung ke belakang. Melihat keadaan ayahnya, Nova langsung terkesiap.
Dokter langsung menolong tuan Reinaldi yang tiba-tiba jatuh pingsan. Saat diperiksa keadaan tuan Reinaldi juga sudah tidak bernyawa lagi.
"Dokter. Apa yang terjadi dengan papiku?"
"Ayahmu juga telah meninggal dunia, nona."
"Tidak....tidak...!" Tubuh Nova gemetar hebat. Ia seperti tidak bisa bernafas saat ini bahkan air matanya langsung mengering di tempatnya karena rasa sakit yang lebih mendera di dalam hatinya.
"Nona. Tolong sadarlah. Kami hanya butuh nona untuk mengurus jenasah kedua orangtuanya, nona." Ucap salah suster membuat Nova segera sadar dalam kegelapan yang sesaat membawa pergi jiwanya.
__ADS_1
"Aku minta tolong suster agar rumah sakit ini mau mengurus prosesi pemakaman kedua orangtuaku hingga pemakamannya. Aku akan membayar semua administrasinya." Ucap Nova pada suster itu.
"Baik nona. Kami akan melakukan yang terbaik untuk kedua orangtuanya, Nona."
"Terimakasih suster."
Nova menghampiri jenasah ibunya dan ayahnya lalu mencium kedua cahaya hidupnya itu." Selamat jalan papi, mami. Cinta kalian sungguh cinta sejati. Kalian tidak mau dipisahkan hingga kematian datang menjemput kalian bersama." Gumam Nova lirih.
Suster dan perawat pria menutupi tubuh kedua orangtuanya Nova dengan selimut hingga ke kepala mereka. Brangkar keduanya di dorong menuju kamar jenasah untuk di mandikan, dikafani dan disholatkan. Sementara Nova segera menyelesaikan administrasi rumah sakit dan siap mengantarkan jenazah kedua orangtuanya ke pemakaman dengan menumpang mobil ambulans.
Hanya ada beberapa tetangga dan juga kerabat yang ikut mengantarkan kedua orangtuanya Nova ke pemakaman. Wajah Nova terlihat sendu dengan busana putih serta jilbab yang saat ini ia kenakan. Kaca mata hitam yang bertengger di hidung mancungnya serta masker yang menutupi sebagian wajahnya untuk melindunginya dari tatapan para pelayat.
Hampir sepekan, Nova berada di rumah kedua orangtuanya yang ada di kampung tanpa ingin menyalakan ponselnya. Ia tidak ingin mengabari Vino tentang keadaannya karena masih syok berat.
Setiap hari ia hanya mendatangi makam kedua orangtuanya dan bicara pada keduanya sambil menangis.
"Nova baru merasakan keberadaan papi dan mami di dunia ini setelah kehilangan papi dan mami. Selama ini Nova terlalu terlena dengan nafs*u duniawi hingga melupakan kalian sesaat. Maafkan Nova papi, mami. Nova berjanji tidak akan menjadi gadis bandel lagi karena Nova akan menikah dengan pria yang Nova cintai. Nova ingin menjadi istri yang sholehah untuk Vino.
Maafkan Nova mami karena harus membohongi kalian hanya untuk menyelamatkan keluarga kita dari jeratan hutang. Nova tahu ini salah. Tapi, hanya ini yang bisa Nova lakukan untuk membebaskan ayah dari penjara." Gumam Nova lirih.
Puas curhat di makam kedua orangtuanya, Nova pamit untuk kembali ke Jakarta. Di area bandara kota Solo, Nova baru menyalakan lagi ponselnya untuk mengabari Vino. Baru saja ia nyalakan ponselnya tiba-tiba ada panggilan dari Recky dan Nova segera mengangkatnya.
"Hallo Nova!"
"Hallo Abang!"
"Nova. Apakah kamu tahu kabar terbaru tentang kekasihmu Vino yang sangat kamu cintai itu?"
"Kabar apa bang?"
"Aku akan memperlihatkan kepadamu melalui video call supaya kamu bisa melihat sendiri karena saat ini apa sedang dilakukan oleh kekasihmu itu." Ucap Recky membuat Nova terlihat gugup.
Sesaat kemudian sambungan video call kembali terjadi namun Recky mengarahkan kameranya ke arah Vino.
Jantung Nova seakan mau berhenti berdetak saat menyaksikan apa dilakukan Vino saat ini.
"Astaga Daddy!"
__ADS_1