
Sebenarnya hati Novia saat ini sangat berbunga-bunga. Namun rasa kecewanya pada Boy tidak pupus begitu saja dengan kebaikan Boy padanya.
Untuk menjaga hatinya tetap konstan. dari irama cinta yang baru di mulai tentu saja Novia tidak ingin merusak nada-nada indah itu yang melambungkan angannya saat ini. Semarah apapun dirinya pada Boy ia punya cara untuk menghukum pria tampan ini.
Keduanya sudah berbaring di tempat tidur yang sama. Bahkan Boy melingkarkan tangannya ke atas perutnya Novia dengan tubuhnya miring menghadap ke tubuhnya Novia. Keduanya mulai menonton film yang disukai Novia.
Karena merasa sangat lelah, Boy akhirnya tertidur di samping Novia. Gadis ini menatap wajah tampan suaminya sekejap lalu mengecup kening Boy dengan lembut. Boy yang masih punya sedikit kesadaran, merasa sangat bahagia mendapatkan kecupan manis dari istrinya.
"Cepatlah sembuh Baby! aku ingin melewatkan malam pengantin kita yang pastinya sangat hot nantinya," ucap Boy lalu masuk ke dalam alam mimpinya.
"Maafkan aku Boy! mungkin ada adalah istri kurangajar bagimu. Tapi hatiku belum bisa memaafkan kamu seutuhnya," Batin Novia.
Novia masih terjaga menyaksikan film itu hingga selesai. Saat ingin melanjutkannya lagi, hatinya sudah tidak kuat merayu matanya untuk terus terjaga. Ia akhirnya memejamkan matanya menyusul suaminya ke alam mimpi untuk bertemu di sana.
Beberapa jam kemudian, dokter dan suster yang ingin memeriksa keadaan Novia harus keluar lagi karena tidak ingin menganggu pengantin baru itu sedang tidur.
"Dasar pengantin baru! apakah tidak bisa menunggu sampai pulang ke rumah mereka untuk bisa bermesraan?" gerutu dokter Apta membuat para suster tersenyum.
"Yah, namanya juga pengantin baru dokter. Pastinya mau nempel terus. Masih mending itu hanya tidur pelukan saja tanpa bercumbu. Ada malah yang nekat bercinta di kamar pasien saking nggak tahannya," celetuk suster Rike.
"Masa sih sampai segitunya?" tanya dokter Apta tidak percaya pada suster Rike.
"Benar lah dokter. Masa aku bohong sih ," ucap suster Rike yang sudah lama kerja di rumah sakit milik Vino itu.
"Setidaknya mereka melakukan itu di kelas VVIP jadi tidak menganggu orang lain. Kalau kelas biasa, apa nggak panas dingin tuh tetangga sebelah mendengar keriuhan yang menantang jiwa," canda dokter Apta lalu mereka terkekeh bersama.
Malam semakin larut Boy yang merasa pegal tidur di ranjang sempit segera bangkit dan melihat istrinya sedang terlelap sambil menggenggam ponselnya.
Iapun beralih ke kamar mandi untuk mengambil wudhu karena belum sempat menunaikan sholat isya.
...----------------...
__ADS_1
Dua hari kemudian, Novia sudah diperbolehkan pulang oleh dokter. Luka ditangannya sudah mulai mengering. Novia diboyong langsung oleh Boy ke rumah baru mereka yang menjadi mahar untuk Novia.
Pasangan itu disambut hangat oleh para pelayan Boy dan tentu saja ada keluarganya Novia yang menunggu kepulangan Novia. Kebetulan Nova dan Anggi yang memasak sendiri makan malam untuk menyambut pengantin baru itu. Mereka sengaja membuat syukuran kecil di rumah baru itu atas persetujuannya Boy.
"Selamat datang di rumah barumu. Masa depanmu ada bersamaku. Semoga Allah melindungi rumah tangga kita dari badai yang siap menerpa kapan saja ia ingin datang menyambangi kita," ucap Boy pada Novia sambil merengkuh pinggang istrinya posesif.
"Terimakasih kak Boy. Rumah ini sangat indah dan bagus," kilah Novia.
"Rumah ini masih kosong sayang. Aku harap kamu mengisinya nanti," ucap Boy.
"Nanti biar Novia yang akan membelikan perabotannya," ucap Novia dengan polosnya.
"Bukan itu isi rumah yang aku maksud, baby," protes Boy.
"Lalu apa yang kak Boy mau?"
"Isinya harus penuh cinta dan kasih sayang kamu melalui anak-anak kita yang akan menghuni setiap kamar kosong di dalamnya. Ayo aku hamili kamu sekarang!" ucap Boy frontal membuat Novia tercengang.
"Ayo sayang! makan malam dulu!" pinta Nova pada keduanya.
"Iya mami," ucap Novia lalu duduk bersebelahan dengan suaminya.
Semuanya mengambil tempat mereka masing-masing di kursi itu dan mulai menikmati makan malam. Hanya Novia yang masih disuap suaminya karena tangan kanannya belum bisa bergerak leluasa secara lentur. Boy yang berinisiatif untuk menyuapi istrinya. Alhasil Novia sangat malu di depan kedua orangtuanya walaupun ia sering melihat ayahnya juga menyuapi ibunya saat ibunya jatuh sakit.
"Ya Allah. Apakah seperti ini rasanya disuapi suami depan orang banyak," batin Novia.
"Boy. Usai makan malam kami pulang ya. Karena Vian dan Viona sendirian di rumah," ucap Vino.
"Yah Daddy! kenapa tidak menginap di saja?" protes Novia.
"Kalian itu pengantin baru. Harus lebih fokus untuk meneruskan keturunan," canda Tante Anggi.
__ADS_1
"Ihhh... apaan sih Tante. Kita juga masih belum pacaran," sungut Novia.
"Pacaran setelah menikah itu lebih bebas. Mau nyentuh yang mana saja halal," timpal Hilman.
"Dasar kunyuk. Awas lho godaan putriku terus!" sergah Vino.
"Sorry tuan. Habis asyik saja sih godain pengantin baru. Jadi pingin kawin lagi," ucap Hilman membuat Anggi menatapnya dengan tatapan horor.
"Ayahhhh....! tidak ada jatah untuk seminggu!" ancam Anggi membuat Vino dan Jack tertawa geli.
"Mampus lo. Emang enak?" ledek Jack.
Makan malam itu berakhir. Mereka berkumpul sesaat dan saling mengobrol. Tidak lama kemudian pasangan yang sudah paruh baya itu pamit pulang pada pengantin baru. Boy dan Novia mengantar kedua orangtuanya Novia hingga mobil itu menghilang dari pandangan mereka.
Boy menggendong Novia tanpa aba-aba membuat gadis ini menjerit. Para pelayan membubarkan diri karena tidak ingin menyaksikan adegan itu yang membuat hati mereka iri.
Boy membawa istrinya ke kamar karena sejak tadi Novia belum melihat arena pertempurannya. Novia yang em siap untuk melakukan tugasnya sebagai istri menolak secara halus saat Boy ingin menyentuhnya.
"Jangan sekarang kak Boy! aku belum siap," pinta Novia membuat Boy hanya mengangguk pasrah.
Boy juga menyadari jika Novia belum sepenuh hati memaafkan dirinya. Mereka akhirnya memilih untuk berbincang dan menonton film. Boy sengaja memilih film semi untuk menggoda Novia.
Novia merasa panas dingin sendiri saat menyaksikan setiap adegan yang mengumbar syahwat itu menusuk masuk ke simpul syarafnya hingga miliknya dibawah sana mulai berdenyut.
Berulangkali ia harus menarik nafas dan mengendalikan perasaannya agar tidak tenggelam dalam suasana yang mulai membakar jiwanya sebagai wanita normal. Boy menarik sudut bibirnya karena merasa puas mengerjai istrinya.
"Apakah setelah menyaksikan film ini kamu masih menolakku baby?" tanya boy membatin.
Boy melirik istrinya yang sudah terlihat gelisah. Boy mendekati tubuh istrinya dan mulai memasuki tangannya ke perut Novia membuat bulu kuduk Novia mulai meremang.
"Apakah kamu mau mencoba adegan fulgar itu, baby?" bisik Boy sambil menjilati kuping Novia yang tidak bisa lagi berontak.
__ADS_1