
Nadia masih saja enggan bangun walaupun matahari sudah menyinari bumi secara sempurna. Bahkan suaminya sengaja membuka tirai agar ia bisa melihat sinar itu, namun kepala Nova makin terasa berat untuk diangkat. Vino harus bolak balik memesan makanan yang dipinta Nova dalam keadaan mata terpejam karena semua makanan terasa bau saat ia menciumnya.
"Aku tidak mau makan Daddy!"
"Lantas kamu mau makan apa? bisanya kamu semangat mengerjakan apapun usai sholat subuh," imbuh Vino.
"Harusnya begitu. Tapi kepalaku rasanya sangat berat. Aku maunya tiduran saja," ujar Nova tanpa ingin membuka matanya.
"Kalau begitu minum susu saja, mau nggak?"
"Hmm!"
"Tunggu sebentar! Aku buatkan ya." Vino beralih ke dapur membuat susu coklat hangat untuk istrinya. Sesaat kemudian dia kembali lalu mengangkat tubuh istrinya dan meminum susu itu. Baru setengah teguk, perut Nova seakan sedang di aduk membuat ia harus memuntahkan isi perutnya tadi.
Ia membekap mulutnya dan berlari ke kloset diikuti Vino yang begitu cemas lihat keadaan istrinya." Tuh kan kamu jadi masuk angin karena tidak mau makan," omel Vino sambil memijit punggung istrinya.
"Kenapa Daddy jadi cerewet seperti ibu-ibu sih?" keluh Nova yang merasa mata-matanya kunang-kunang.
"Kita ke rumah sakit saja ya sayang!" Vino menggendong tubuh Nova yang sudah lemas.
"Aku tidak ingin melihat matahari. Tolong tutup tirainya Daddy!" Pinta Nova.
"Ya Allah. Kenapa istriku tiba-tiba aneh begini?" batin Vino makin kuatir.
"Panggil saja dokternya ke mari Daddy! Kalau mau ke rumah sakit nanti malam saja," pinta Nova manja.
"Baiklah. Aku hubungi rumah sakit kita dulu agar mereka mengirimkan dokter ke sini," Vino menghubungi CEO rumah miliknya.
"Apakah kamu bisa mengirim dokter terbaik rumah sakit kita? maksud saya dokter wanita saja," ucap Vino.
"Emang Nova sakit apa Vino?" tanya Hendro sahabat Vino.
"Sepertinya masuk angin karena tidak mau makan," ujar Vino sambil menjelaskan secara terperinci apa yang dialami istrinya barusan.
__ADS_1
"Istrimu mungkin hamil, Vino," ujar Hendro.
"Apa, hamil?"
"Ya hamil. Apa lagi yang diderita seorang pengantin baru kalau bukan hamil. Tiap saat kamu nyetorkan?" ledek Hendro begitu frontal.
"Sial...! Cepat kirim dokter perempuan atau besok aku gantung kamu di Monas!" bentak Vino langsung mengakhiri pembicaraannya.
Walaupun begitu, wajahnya terlihat berbinar karena ia sangat berharap tebakan Hendro adalah sebuah doa dan kebenaran. Tapi, ia tidak mau memberitahukan Nova sebelum dokter memastikan sendiri kalau istrinya benar-benar hamil saat ini.
"Daddy..! Nova mau mandi terus dandan dan pakai dress yang satu tali seperti seorang putri raja," pinta Nova dengan gaya manjanya.
"Putri raja pakainya gaun dan tidak pakai dress dengan satu tali di pundaknya," tegas Vino.
"Nova kan putrinya Daddy," timpal Nova sambil mengerlingkan matanya nakal dengan senyum menggoda.
"Baby. Dokter sebentar lagi datang. Tolong jangan pancing aku saat ini karena saat kamu nakal seperti itu, aku tidak akan berhenti menghajarmu dengan kenikmatan," ancam Vino sambil menahan sesuatu yang mengencang di bawah sana.
"Aku mau Daddy. Ayo kita bercinta," pinta Nova semangat sambil mengangkat gaun tidurnya.
Vino membuka pintu utama dan mempersilahkan dokter itu masuk." Assalamualaikum Tuan! Saya dokter Elsa ditugaskan untuk memeriksa keadaan Nona Nova," ucap dokter Elsa santun.
"Silahkan ke kamar saya dokter! Istri saya lagi kurang sehat," imbuh Vino.
Keduanya langsung menemui Nova yang sedang berbaring dengan wajah pucat. Dokter memeriksa keadaan Nova sambil bertanya sesuatu pada Nova." Kapan terakhir menstruasinya, nona Nova?"
"Sepertinya tiga bulan yang lalu dokter, tapi nggak tahu juga sih, lupa," ucap Nova bingung sendiri karena seringnya dia bercinta hingga lupa dengan masa haidnya.
Dokter Elsa tersenyum melihat wajah Nova dengan gaya imutnya. Saat memeriksa dengan alat perekam jantung bayi, ternyata detak itu sangat kuat." Alhamdulillah, selamat, anda sedang hamil nona. Usia kandungannya sudah memasuki lima belas Minggu. Untuk lebih jelasnya kita bisa lakukan USG di rumah sakit," ucap dokter Elsa.
"Aku lagi tidak ingin ke mana-mana dokter. Aku mau di rumah saja. Bawa saja alatnya ke sini ya!" pinta Nova sambil menatap wajah suaminya.
"Iya Baby. Nanti aku akan meminta mereka membawa alat USG ke sini," sambar Vino yang tidak ingin melihat istrinya cemberut.
__ADS_1
"Ya sudah. Dokter pulang ya! Aku mau mandi," ucap Nova yang tidak terlalu suka melihat dokter Elsa yang suka curi-curi pandang dengan suaminya.
"Sebentar sayang. Aku antar dokter Elsa ke depan dulu," Vino menarik nafas dalam-dalam melihat tingkah istrinya yang jadi aneh dengan kehamilannya.
"Iya, jangan lama-lama ngobrolnya. Nanti dia naksir Daddy," pinta Nova.
"Hmm!"
"Tuan Vino. Anda jangan kaget melihat perubahan sikap istri anda karena hormon wanita hamil sangat berbeda. Emosinya tak stabil dan terkesan lebih labil. Turuti saja apa yang ia inginkan, karena perhatian yang kecil dari anda akan membuat hatinya sangat bahagia," ucap dokter Elsa.
"Maafkan sikap istri saya dokter. Tadi dia ingin mandi karena dokter mau datang akhirnya aku menahannya untuk menunggu sampai pemeriksaan selesai," imbuh Vino.
"Tebus saja resep ini di apotik obat dan siapkan susu untuk ibu hamil dengan varian rasa agar dia tidak bosan," ucap dokter Elsa.
"Daddyyyy! Nova mau mandi!" teriak Nova dari dalam kamar.
Dokter Elsa langsung beranjak dari tempat itu. Vino segera menutup pintu dan kembali ke kamar istrinya.
"Ayo kita mandi sayang!" ucap Vino yang membuka selimut istrinya dan ternyata Nova tidak lagi mengenakan baju tidurnya.
"Aku mau bercinta dulu dengan Daddy, setelah itu kita mandi," pinta Nova membuat Vino yang sedari tadi menahan hasratnya langsung menyambar bibirnya Nova dengan ciuman yang terlihat rakus.
"Kamu sangat menggodaku, baby!" lirih Vino yang sudah beralih pada puncak dada Nova yang terlihat lebih membesar dan tidak lagi muat dengan telapak tangannya.
"Kenapa dadamu berubah jadi pepaya California Baby? Ini membuat aku makin gila," desis Vino makin memperdalam hisapannya hingga Nova melenguh nikmat.
"Daddy....Akkhh! Ini lebih mengenyangkan daripada makanan." Nova beralih memegang tongkat sakti milik Vino yang membuatnya ketagihan setiap saat untuk menghisapnya.
Vino ikut mengerang nikmat saat Nova mengambil kendali permainan panas mereka pagi itu. Nova terus memanjakan miliknya hingga Vino tidak bisa lagi menahan sesuatu yang hampir meledak kini.
"Sayang....! Bersiaplah..Aku akan membuat kamu lebih kenyang lagi," ucap Vino yang mengarahkan miliknya di pusat gairah istrinya.
Erangan nikmat itu makin menggema diantara keduanya dengan bunyi benturan kedua bagian sensitif tubuh mereka yang saling memberikan kenikmatan.
__ADS_1
"Milikmu lebih nikmat baby saat hamil seperti ini," ucap Vino sambil menatap wajah cantik Nova yang menatapnya dengan tatapan sayu.