Mantan Sugar Baby

Mantan Sugar Baby
9. Ngambek


__ADS_3

"Maafin Nova ya dad! Nova tidak mau lihat kalian berantem. Jika Raihan mati gara-gara dianiaya oleh Daddy, bukannya nanti Daddy akan terlibat dengan urusan hukum dan Daddy harus masuk penjara, itu yang Nova takutkan. Bukan mau membela dia.


Terutama Raihan itu siswa yang berpengaruh di sekolahku. Aku takut dia akan menyebarkan rumor tentang Daddy dan itu akan berimbas pada pada perusahaan Daddy." Ucap Nova memberi alasan logis pada Vino sambil mengompres lebam di pipi Vino.


"Kenapa kamu tidak memikirkan nama baikmu sendiri? Kenapa kamu malah memikirkan aku?"


"Jika namaku yang hancur, aku tidak masalah Daddy karena hidupku memang sudah terlanjur hancur. Aku tahu rasanya seperti apa hanya gara-gara sebuah rumor. Yang jelas hanya karena sebuah rumor, maka reputasi yang selama ini kita bangun susah payah akan berakhir dengan sebuah penderitaan.


Jadi, reputasi Daddy itu sangat penting di jaga. Jangan terlalu memikirkan hidupku. Hubungan kita ini kan hanya sekedar Sugar baby dan sugar Daddy tidak lebih dari itu. Bukankah di dalam peraturan perjanjian bahwa tidak boleh diantara kita ada yang melibatkan perasaan satu sama lain. Itulah sebabnya Nova tidak pernah bisa membangkitkan hasrat untuk bercinta dengan Daddy." Ucap Nova yang sudah menyelesaikan mengoles krim obat anti bengkak pada pipi Vino yang lebam.


"Benar juga apa yang dikatakan Nova. Jika tidak melibatkan perasaan bagaimana orang merasakan gairah? Pantesan saja gadis itu tidak merespon apapun saat aku ingin bercinta dengannya kecuali saat kami berciuman.


Tapi, tidak. Aku tidak mau merusak kehormatannya karena itu adalah hartanya yang tak ternilai baginya. Tapi, bagaimana dengan perasaanku? Aku sudah terlanjur mencintainya. Tapi kalau dia tidak mencintaiku, aku harus apa?" Keluh Vino.


"Daddy mau makan? Nova suapin ya?"


"Hmm!" Vino tersenyum samar saat mendapatkan perhatian dari Nova.


Nova menyuapi Vino sambil mengajak Vino ngobrol. Vino menatap wajah cantik Nova tanpa berkedip. Rasanya ia ingin menyatakan perasaannya pada Nova, namun ia begitu takut gadis ini akan menolaknya. Begitu pula dengan Nova.


"Ngomong-ngomong apa pekerjaan orangtuamu, Nova?" Tanya Vino pura-pura tidak tahu tentang Nova.


"Tidak usah mencaritahu kehidupan latar belakang keluarga kita. Itu ada di poin nomor enam lho."


"Iya juga. Aku minta maaf. Tapi kita mau bicara apa?"


"Apakah aku boleh menanyakan sesuatu pada Daddy?"


"Apa?"


"Boleh tidak?"


"Silahkan!"


"Apakah setelah hubungan kita selesai, Daddy akan menikah?"


"Iya."


"Apakah sudah ada calonnya?"

__ADS_1


"Lagi di cari."


"Gadis seperti apa yang Daddy inginkan?"


"Yang jelas tidak seperti kamu."


"Tidak usah di ulang terus dad, aku juga tahu diri ko. Nih, Daddy makan saja sendiri ya. Aku juga mau makan. Sudah lapar. Habis ini aku mau pulang ke Jakarta. Aku mau ngerjain tugasku."


"Besok saja kita pulang. Apakah kamu tidak lihat aku sedang sakit?"


"Aku bisa pulang sendiri tanpa Daddy."


"Oh, mau pulang dengan Raihan? Ya sudah sana pulang sama dia."


"Tanpa dia ataupun Daddy, aku bisa pulang sendiri." Sungut Nova.


"Kembalikan black card ku. Kamu punya uang sendiri kan?"


"Selama ini, aku tidak pernah menggunakan black card milik Daddy. Kalau hari ini Daddy minta aku pulangin lagi uang Daddy, aku juga bisa transfer kembali uang Daddy. Tenang saja, uang Daddy masih utuh. Aku tidak gunakan uang Daddy karena Daddy tidak pernah mengambil hak Daddy dariku sampai detik ini." Ucap Nova sambil menahan air matanya yang hampir menetes.


Ia mengeluarkan black card milik Vino dan meletakkan kartu itu di depan Vino. Setelah itu ia mengambil tasnya dan keluar dari hotel itu tanpa mempedulikan Vino yang masih bengong mendengar ucapan Nova barusan.


"Apa...? Dia sama sekali tidak menggunakan uangku? Baik di kartu ini maupun uangnya yang aku transfer satu triliun itu? Jadi selama ini dia pakai uang siapa? astaga, aku lupa kalau orangtuanya sudah mendapatkan uang hasil dari mereka menjual rumah itu yang aku beli." Vino menepuk jidatnya sendiri karena lupa akan hal itu.


Hilman segera melihat saldo terakhir milik Vino yang tidak berkurang satu sen pun. Ia bergegas menghubungi lagi Vino.


"Tuan. Pengakuan nona Nova benar adanya. Gadis itu tidak melakukan transaksi apapun dengan kartu milik anda Tuan. Bahkan uang yang satu triliun yang anda kirimkan sudah masuk lagi ke kas perusahaan." Ucap Hilman membuat wajah Vino menegang.


"Emang, apa yang terjadi Tuan?" Tanya Hilman namun sudah ditutup secara sepihak oleh Vino..


"Bagaimana caraku mengejarnya dengan wajah memar begini? aku harus meneleponnya. Mungkin dia masih dalam perjalanan menuju stasiun kereta." Gumam Vino.


Sementara itu di jalan Nova berjalan sambil melamun. Iapun ingin menyeberang tanpa mau melihat ke arah datangnya kendaraan yang sedang melaju kencang. Mobil itu harus mengerem mendadak namun sudah menabrak tubuh Nova yang sudah terlanjur pingsan duluan dengan jidat membentur aspal.


"Mampus! aku sudah menabrak orang." Ucap pria tampan yang langsung turun untuk melihat keadaan Nova.


Orang-orang di sekitar itu berkerumun di sekitar tempat itu dan mulai berspekulasi dengan kecelakaan itu.


Tanpa menggubris perkataan orang-orang itu, pria tampan itu menggendong tubuh Nova lalu membawanya masuk ke mobilnya.

__ADS_1


Dalam sekejap Nova sudah berada di ruang inap di temani pria tampan yang bernama Recky. Pria tampan itu memperhatikan wajah Nova yang sangat cantik yang membuat jantungnya berdegup kencang.


"Apakah aku sedang menabrak seorang bidadari. Kenapa wajah dan tubuhnya begitu sempurna dan dadanya? Astaga...? Kenapa aku jadi mesum begini?" Gerutu Recky sambil mengamati wajah Nova.


Tidak lama kemudian, Nova mengerjapkan matanya dan dia merasa sedang berada di surga." Apakah aku sudah mati dan bertemu dengan malaikat tampan." Gumam Nova sambil meringis kesakitan karena dahinya terluka dengan menatap wajah tampan Recky.


"Hei.. Cantik! Maafkan aku karena sudah membuat kamu terluka."


"Apakah aku sudah mati? Apakah kamu malaikat penjaga surga?" Tanya Nova terdengar konyol.


"Kamu masih hidup Cantik." Ucap Recky sambil mencubit lengan Nova.


"Aduh..! Sakit tahu." Nova menepis tangan Recky.


"Berarti kamu masih ada di dunia ini."


"Oh iya di surga tidak ada yang merasa sakit." Ucap Nova sambil cengengesan.


"Aku ada di mana?"


"Rumah sakit."


"Kalau begitu aku mau pulang."


"Tunggu dulu. Kamu mau pulang ke mana? Lukamu saja belum sembuh dan kamu masih lemah."


"Aku bukan anak cengeng."


"Istirahat dulu! jangan buru-buru pulang. Kamu sangat cantik, siapa namamu?"


"Nova."


"Namaku Recky."


"Apakah kamu sudah punya pacar?" Tanya Recky sambil berharap Nova menjawabnya belum.


"Aku ...-"


Cek..lek

__ADS_1


Pintu di buka dengan cepat membuat Nova dan Recky melihat ke arah siapa yang datang.


"Baby...! Apakah kamu baik-baik saja?" Tanya Vino yang langsung memeluk Nova membuat hati Recky seketika kecewa.


__ADS_2