
Walaupun keadaan Novia belum begitu sadar, kelurga memutuskan untuk menikahkan Boy dan Novia secara sirih agar Boy tidak main nyelonong untuk melakukan sentuhan pada Novia seenak jidatnya.
"Boy kamu sudah menyentuh putriku. Aku minta kamu menikah putriku secepatnya. Aku tidak mau kejadian semalam terulang lagi," imbuh Vino.
"Iya paman. Aku memang ingin meminang Novia pada paman. Aku ingin mengurus Novia sendiri. Hanya aku yang bisa membuatnya nyaman. Aku sudah nazar, jika Novia kembali pada kita, aku ingin menikahinya. Dan untuk kejadian semalam, Boy minta maaf karena kejadian semalam dalam keadaan darurat. Aku hanya ingin mencegah Novia agar tidak meninggalkan kita," ucap Boy.
"Baiklah. Untuk itu paman maafkan. Saat ini Hilman dan Jack sedang menjemput pak penghulu. Jadi, kita segerakan acara pernikahannya. Apakah kamu sudah siapkan maharnya, Boy?" tanya Vino.
"Sudah paman. Sesuai permintaan paman. Aku akan memberikan sertifikat rumah atas nama Novia dan seperangkat perhiasan berlian," ucap Boy.
Nova hanya bisa mengucapkan syukur pada Allah karena Boy mau menikahi putrinya." Novia. Apakah kamu dengar sayang? Boy akan menikahimu sebentar lagi. Kamu harus sadar ya, nak! jangan tidur terus!"pinta Nova sambil mencium tangan putrinya.
"Boy. Apakah kamu benar-benar ingin menikahi Novia dalam keadaan ia masih sakit seperti ini?" tanya Nova saat melihat Vino keluar dari kamar menuju balkon kamar inap putrinya untuk menerima telepon.
"Iya Tante. Aku tidak peduli keadaan Novia seperti ini. Aku hanya ingin selalu bersama Novia. Aku ingin menebus kesalahanku. Karena aku Novia jadi jatuh sakit dan enggan mau hidup," ucap Boy.
"Jadi kamu menikahi Novia karena iba dan merasa bersalah saja?" tanya Nova tegas.
"Tentu saja aku sangat mencintainya Tante," tutur Boy dengan cepat takut kalau Nova salah paham dengan niatnya.
"Terimakasih Boy. Kalau begitu Tante lega mendengarnya. Tapi tolong jaga Novia dan jangan sia-siakan Novia. Sejak kecil sampai dewasa, Novia belum pernah merasakan beban kehidupan yang begitu berat. Kalau bisa jagalah Novia dan bimbing dia jika dia khilaf atau salah dalam membina rumah tangga denganmu," ucap Nova.
"Insya Allah Tante," ucap Boy.
Tidak lama kemudian, pak penghulu dan Hilman serta Jack sudah masuk ke kamar inap VVIP yang ditempati oleh Novia. Di susul Viona dan Alviano untuk melihat prosesi pernikahan kakak sulung mereka. Ada juga CEO dokter Hendra dan beberapa dokter lain serta Anggi istri dari Hilman yang ikut hadir di acara pernikahan itu.
Boy yang sudah mempersiapkan dirinya untuk menikah dengan gadis pujaannya itu duduk dengan tenang menghadap pak penghulu dan juga Vino yang menjadi wali hakim untuk putrinya Novia.
__ADS_1
"Apakah kamu sudah siap Boy?" tanya pak penghulu setelah menuliskan nama kedua mempelai dan juga kedua saksi.
"Insya Allah. Saya siap pak Toyib," ucap Boy tegas.
"Apakah pak Vino sudah siap?" tanya pak penghulu lagi.
"Insya Allah. Saya siap pak," ucap Vino mantap.
"Baik. Kita akan melakukan ijab qobul antara ayah kandungnya Novia yang akan menikahkan putrinya Novia dengan Mohammad Rafky Boy Bin Recky putra Dirga.
Hilman dan Jack menjadi saksi pernikahan Boy dan Novia. Boy membaca istighfar dan juga selawat beberapa kali baru siap untuk mengucapkan ijab qobul. Vino menjabat tangan Boy dengan erat lalu menikahkan putrinya dengan Boy..
"Mohamad Rafky Boy Bin Recky Putra Dirga, aku nikahkan dan kawinkan putriku Novia Putri Angelica binti Alviano Hermawan dengan mas kawin selembar sertifikat sebuah rumah dan seperangkat berlian dibayar tunai," ucap Vino dengan lantang sambil sedikit menghentakkan tangannya.
"Saya terima nikah dan kawinnya Novia Putri Angelica Binti Alviano Hermawan dengan mas kawin tersebut dibayar tunai," ucap Boy dengan mantap.
"Bagaimana dengan saksi, apakah sudah sah...?"' tanya penghulu.
"Sah...!" ujar Jack..
Doa meluncur penuh syukur diantara tamu undangan dan juga Nova yang merasa terharu dengan pernikahan putrinya dalam keadaan sakit dan belum sadarkan diri.
Pak penghulu membaca doa untuk kedua mempelai yang diamini oleh tamu undangan. Boy menyalami kedua mertuanya lalu pamannya Jack dan Hilman.
"Terimakasih daddy, mami sudah mengijinkan Boy menikahi Novia," ucap Boy dengan air mata berderai.
"Tolong jaga putriku dengan baik, Boy. Jika ada perasaan sakit hatimu pada Novia, sampaikan saja padaku dan maki aku sepuasmu asal jangan limpahkan kemarahanmu pada Novia," ucap Vino menasehati menantunya itu..
__ADS_1
"Insya Allah. Aku akan menjaga kepercayaan Daddy," ucap Boy.
Para tamu menyalami Boy dan keluarganya Vino. Jack dan Hilman mengantarkan lagi pak penghulu ke kantornya. Viona dan Alvian memberikan selamat pada kakak mereka seperti putri tidur. Wajah Novia terlihat sangat cantik setelah di rias wajahnya oleh ibunya sendiri, Nova.
Ditambah lagi Novia mengenakan gaun pengantin yang simpel dan saat ini, gadis itu seperti putri tidur.
"Mami...! kak Via cantik banget. Kalau di dandan seperti itu, kesannya kak via tidak sakit. Malah ia terlihat seperti Putri kerajaan yang sedang terbaring sakit dan menunggu pangeran tampan datang untuk menciumnya," ucap Viona.
"Mungkin sebentar lagi sang pangeran akan membangun putri rajanya dengan ciuman panas," goda Vian pada kakaknya.
"Sebaiknya kita pulang saja karena kak Boy ingin berdua saja dengan kak Via," ucap Nova yang tidak ingin menganggu Boy yang dari tadi hanya duduk di balkon untuk melihat hasil foto yang barusan dikirim fotografer yang ia sewa.
"Nak Boy. Mami pulang dulu ya. Mami titip Novia. Jika kamu lelah atau ada urusan, telepon saja mami untuk menggantikan kamu," ucap Nova lalu mengambil tasnya.
"Iya mami. Terimakasih dan hati-hati di jalan," ujar Boy.
Sesaat kemudian, kamar inap itu sudah mulai sepi. Sekarang hanya ada Boy yang menatap wajah cantik istrinya. Ia kemudian membuka jilbab istrinya dengan perlahan karena ingin melihat rambut Novia.
"Apa yang harus aku lakukan padamu agar kamu siuman, baby?" tanya Boy sambil mengelus pipi ranum Novia.
Sementara di luar sana hujan sudah mengguyur bumi. Boy merasa sangat kesepian saat ini.
"Novia. Di luar sana sedang turun hujan. Katanya pengantin baru itu sangat senang dengan hujan karena mereka akan berada di dalam selimut terus hingga bisa menghasilkan baby. Apakah kamu tidak ingin merasakannya?" tanya Boy sambil tersenyum membayangkan bisa menikmati percintaan panas mereka ditempat tidur.
Boy mengecup bibir istrinya dengan lembut. Lama kelamaan ia mulai memagut bibir Novia lebih lama dan kini bukan lagi ciuman kasih sayang tapi lebih kepada ciuman penuh gairah.
Nova mengerjapkan matanya. Ia merasakan nafasnya sedikit sesak dan baru menyadari kalau saat ini ada yang menciumnya. Dengan mengumpulkan tenaganya yang ada ia mendorong Boy untuk menjauhi wajahnya.
__ADS_1
Merasa tubuhnya di dorong oleh Novia membuat Boy begitu girang.
"Sayang...!"