
Pernikahan putri kedua pasangan Nova dan Vino, berjalan dengan lancar. Malam ini pesta pernikahan mereka di adakan sangat meriah. Bukan hanya kolega kedua kelurga ini yang hadir, namun juga yang datang dari kalangan pejabat dan artis ibu kota.
Gaun pengantin yang dikenakan oleh sang mempelai wanita adalah hasil rancangan dari nyonya Mona sendiri disamping kebaya pengantin untuk ijab qobul. Begitu pula sang putra yang terlihat tampan dengan tuxedo yang dikenakannya.
"Baby! Kamu terlihat sangat cantik malam ini. Bahkan dari tadi pagi hingga saat ini," puji Kenzo pada sang istrinya saat para tamu mulai berkurang yang datang menyalami mereka.
"Kamu juga sayang. Sangat tampan dan gagah," Viona memuji balik suaminya.
"Baby. Udahan yuk berdiri di sini. Kita langsung ke kamar saja ya. Biar kedua orangtua kita saja yang menerima tamunya!" pinta Kenzo.
"Jangan begitu! Waktu untuk kita sangat panjang. Tidak perlu terburu-buru. Nanti juga kita bisa melewatinya dengan penuh kenikmatan. Ini adalah pesta kebanggaan kedua orangtua kita. Menikahkan anak-anak mereka adalah tujuan utama mereka. Kapan lagi membuat mereka bahagia. Jadi, biarkan kita menyenangi orangtua kita hari ini!" bujuk Viona agar suaminya mau mengerti.
"Ok, Baby! Aku bangga memilikimu karena kamu sangat bijak padahal usiamu lebih muda dariku," puji Kenzo.
"Usia tidak menjamin orang berpikiran dewasa. Banyak belajar mengenali orang lain yang lebih banyak menghadapi kekurangan dalam hidupnya, itu lebih memancing empati kita untuk bisa merasakan apa yang mereka rasakan. Itu yang selalu dinasehati oleh mami. Hidup yang kita jalani bukan untuk kita nikmati sendiri tapi kita harus bisa banyak memberi dan mendengar orang-orang yang membutuhkan uluran tangan kita dan bersedia mendengarkan keluhan mereka," lanjut Viona.
Untaian kata-kata Viona yang menggambarkan bahwa rasa kepedulian terhadap kalangan masyarakat bawah jauh lebih penting dari pada terbuai dengan kebahagiaan sendiri karena bukan kebahagiaan yang dicari manusia yang ingin bahagia. Tapi, kebahagiaan sebenarnya adalah bagaimana kita bisa berbagi dengan sesama. Itulah nilai kebahagiaan sesungguhnya.
Setelah melakukan pemotretan bersama dengan sahabat-sahabatnya, baik Kenzo dan Viona turun ke lantai dansa saat para tamu undangan mulai berkurang. Vino mendekati putrinya untuk menawarkan diri sebagai teman dansanya.
"Bisa aku pinjam Cinta keduaku, Kenzo?" tanya Vino pada menantunya.
"Tentu saja daddy!" ujar Kenzo mengijinkan Viona berdansa dengan ayah mertuanya.
"Baby. Mau berdansa bersama daddy?" tawar Vino sambil menahan rasa harunya.
__ADS_1
"Tentu saja kekasihku!" ucap Viona menerima tangan ayahnya lalu melingkarkan tangannya ke leher ayahnya sambil tersenyum.
"Malam ini putri Daddy sangat cantik hingga sinar bintang di luar sana meredup mengalahkan kecantikan putihnya Daddy," ucap Vino.
"Terimakasih Daddy karena selalu ada untuk Viona. Mohon maaf jika Viona belum menjadi putri yang sempurna untuk Daddy," ucap Viona dengan air mata yang sudah tercekat di kerongkongannya.
"Jadilah Istri yang patuh untuk suami. Lihatlah bagaimana cara mami mendidik kalian dan menyayangi juga menghormati ayah. Dia mami yang sempurna untuk kalian dan istri yang hebat untuk ayah," ujar Vino sambil menekan perasaannya.
"Insya Allah Dady. Viona janji akan membuat rumah tangga Viona menjadi surga untuk keluarga Viona," ucap Viona sambil terisak.
"Apapun masalahmu dengan suami. Selesaikan di kamar tidurmu sebelum keluar dari kamar itu. Dan tetap tersenyum sekalipun permasalahan yang kalian hadapi sangat sulit. Jangan biarkan semua orang lain tahu apalagi kedua mertuamu. Jangan mudah mengadu kekurangan suamimu pada keluargamu, apalagi temanmu. Jangan terhasut dengan omongan orang lain. Bisa jadi, mereka menginginkan kejatuhanmu. Bukan mereka yang menentukan kebahagiaanmu, tapi kamu dan suamimu yang menguatkan cinta kalian," nasehat Vino bijak pada putrinya.
"Insya Allah daddy. Viona akan ingat selalu nasehat daddy. Terimakasih untuk kado terindahnya malam ini," Viona memeluk ayahnya dan menangis di dada Vino. Vino mengecup kepala putrinya dan adegan itu mampu membuat hati Nova, Viona, nyonya Mona terenyuh. Walaupun mereka sebenarnya tidak mendengar apa yang sedang dibicarakan oleh ayah dan anak itu, namun mereka bisa merasakan makna mendalam dari adegan itu.
...----------------...
"Sayang. Kenapa tidak menginap saja di rumah sakit? supaya lebih mudah untuk ditindaklanjuti oleh dokter? ini adalah pengalaman pertama kita sebagai orangtua," bujuk Boy.
"Aku tidak betah kalau di suruh berbaring terus di tempat tidur," ucap Novia memberi alasan.
"Kam bisa jalan-jalan di taman kalau kamu bosan," ujar Boy.
"Besok saja ya. Jangan sekarang! ini saja belum ada tanda-tanda untuk melahirkan. Tidak ada kontraksi apapun diperutku kecuali tendangan baby-nya," ucap Boy.
"Baiklah. Janji ya, besok kita ke rumah sakit!" tegas Boy.
__ADS_1
"Hmm!"
Keduanya memilih tidur lebih awal waktu. Saat ini sudah pukul delapan malam. Sekitar pukul dua pagi, Novia mulai merasa gelisah. Kadang mendesis dan selalu menarik nafas. Bolak-balik dengan pinggul terasa sangat panas.
Boy merasa terganggu tidurnya, akhirnya terbangun. Ia mengelus perutnya Novia dengan mata yang terasa masih berat.
"Apakah perutmu sudah terasa sakit?" tanya Boy.
"Sakitnya tidak begitu intens. Hanya saja pinggangnya terasa sangat panas," adu Novia. Kita berangkat ke rumah sakit sekarang saja ya sayang!" ajak Boy.
"Baiklah. Tolong kabarin daddy dan mami, ya kak!" pinta Novia sambil meringis menahan kontraksi.
"Iya sayang. Yang penting kita ke rumah sakit dulu. Aku tidak mau kamu melahirkan di tengah jalan," timpal Boy.
Setibanya di depan teras, sang sopir membuka pintu mobil untuk Novia dan Boy. Mobil itu meluncur dengan cepat menuju rumah sakit milik Vino. Beruntunglah saat ini jalanan lengang hingga mereka tiba lebih cepat. Maklumlah, mansion milik Boy lebih jauh dari rumah sakit milik Vino.
Di ruang bersalin, sebagai putri pemilik rumah sakit, pelayanan untuk Novia diprioritaskan oleh tim dokter. Novia dipersiapkan oleh dokter untuk melakukan persalinan karena pembukaan jalur lahirnya sudah sempurna. Boy juga mendampingi istrinya.
"Nona Novia. Tolong ikuti instruksi dari saya saat saya menghitung mundur dari angka tiga untuk meminta anda mengejan," ucap dokter Bella.
"Baik dokter." ucap Novia sambil menganggukkan kepalanya dengan semangat.
"Tiga, dua, satu, tarik nafas lalu mengejan!" titah dokter Bella yang langsung di ikuti Novia yang mengerahkan tenaganya untuk melahirkan putra pertamanya.
"Bismillahirrahmanirrahim. Allahuakbar!" ucap Novia lalu mengejan.
__ADS_1
Tiga kali berjuang untuk mengejan, akhirnya terdengar suara menggema di dalam ruang bersalin itu.
"Alhamdullilah. Bayinya laki-laki, Tuan!" ucap dokter Bella yang langsung membaringkan bayinya Boy dan Novia di atas dada sang ibu untuk mendapatkan ASI pertamanya.