
Dua hari berlalu. Boy baru menemui bundanya dan berharap agar bundanya mau mendengarkan dirinya dan merestui pernikahannya dengan Novia.
Boy datang sendiri tidak membawa Novia karena ia tidak mau istrinya menjadi sasaran empuk dari makian ibunya yang membuat mental Novia kembali terpuruk.
"Akhirnya kamu datang juga sayang. Apakah kamu sudah melupakan bunda sejak pulang dari luar negeri dan tidak mau menemui bunda dulu di Bali?" tanya Jesicca setengah merajuk.
"Maafkan Boy, bunda! Boy harus memeriksa keadaan perusahaan ayah selama Boy tinggalkan. Walaupun tidak ditemukan kendala apapun di perusahaan ayah, setidaknya Boy harus memastikan sendiri keadaannya," ucap Boy memberikan alasan.
"Baiklah. Tunggu sebentar! Bunda mau kenalkan kamu dengan putrinya sahabatnya bunda," ucap Jesicca hendak masuk ke kamarnya namun sudah dicegah oleh Boy.
"Tidak usah repot-repot bunda! karena Boy sudah menikah," ucap Boy tegas membuat tubuh Jesicca hampir ambruk kalau tidak berpegangan pada sandaran sofa.
"Apa katamu..? kamu sudah menikah? tidak. Kamu pasti becandakan?" tanya Jesica sambil menggelengkan kepalanya dengan suara lirih.
"Demi Allah bunda aku sudah menikah karena aku sangat mencintai Novia," jelas Boy dan Jesica memilih duduk sambil mengusap-usap dadanya yang sangat nyeri saat ini.
"Kenapa kamu berbuat semaumu Boy? apakah kamu tidak lagi menganggap aku adalah ibumu, hah?" bentak Jesicca yang tidak terima putranya mengambil keputusan sendiri tanpa meminta pendapatnya.
"Semuanya serba mendadak bunda. Boy tidak ingin kehilangan Novia yang hampir mati karena Boy," ucap Boy terus terang pada ibunya walaupun tidak semuanya ia ungkapkan rahasia ayahnya yang mencintai Nova hingga akhir hidupnya.
"Astaga. Boy. Itu bukan cinta. Kamu menikahinya karena kasihan dan takut dikejar rasa bersalah," cecar Jesica dengan penilainya pada pernikahan putranya.
"Boy mengenal Novia bukan setahun dua tahun, bunda. Kami tumbuh dan besar bersama walaupun sempat berpisah karena Boy sedang menempuh pendidikan di Amerika. Lagi pula saat itu Novia masih kecil dan Boy sudah bertekad akan menikahinya suatu saat nanti. Jadi, pernikahan kami masih pernikahan secara agama karena sakitnya Novia. Insya Allah bulan depan pernikahan kami akan digelar lagi biar sah secara hukum negara," ucap Boy.
"Baiklah. Kalau begitu bawa istrimu ke hadapan bunda. Biar bunda menilai sendiri dia layak untukmu atau tidak. Walaupun dia itu putri relasi ayahmu," pinta Jesica.
__ADS_1
"Baik bunda. Boy akan membawanya kepada bunda. Tapi Boy harap jangan sakiti istrinya Boy atau Boy tidak akan pernah mau bertemu dengan bunda lagi!" ancam Boy hanya menggertak ibunya saja.
"Kita lihat saja nanti Boy!" ucap Jesicca entah apa maksudnya.
"Baiklah Bunda. Kalau begitu Boy pulang dulu," ucap Boy membuat bundanya heran.
"Kamu tinggal di rumah mertuamu Boy?" tanya Jesica.
Boy cepat tanggap dengan pertanyaan ibunya. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, iapun mengiyakan pertanyaan bundanya.
"Iya bunda. Boy masih tinggal di rumah mertua. Jadi mertuanya Boy masih mengurus putrinya karena Novia baru sembuh dari sakit.
"Oh begitu. Baiklah. Kalau begitu besok pertemukan bunda dengan besan. Bunda ingin tahu seperti apa keluarga istrimu dan mengapa ayahmu begitu tergiur ingin menjodohkan kamu dengan putrinya," ujar Jesicca.
"Boy. Dia itu putri sahabatnya bunda...-"
"Kalau begitu suruh dia menginap di hotel dan bayar sendiri. Aku tidak punya hubungan dengannya," sarkas Boy membuat Jesicca tidak bisa lagi menolak.
"Baiklah. Setidaknya biarkan kalian berkenalan dulu. Anaknya sangat cantik Boy. Siapa tahu kamu berubah pikiran dan mau menikahinya dan meninggalkan...-"
"Istriku lebih cantik karena dia pilihan hatiku bukan mataku, bunda. Dan jangan coba-coba mengatur hidupku. Aku menghormatimu karena bunda adalah ibu yang telah melahirkan aku. Demi uang satu miliar, ibu rela menyerahkan aku pada ayah. Jadi, apapun pilihan Boy, suka tidak suka, tolong bunda terima Novia dalam keadaan apapun. Dan jangan coba-coba memisahkan aku dengan Novia karena kelurganya bukan orang sembarangan," ucap Boy lalu menyambar jaketnya.
Jesicca hanya bisa tercengang dengan sikap putranya yang sangat mirip dengan Recky yang ketus dan datar. Apapun yang menjadi keinginannya tidak boleh ada yang bantah dengan dalih apapun. Niat ingin mengatur hidup putranya untuk menguasai kekayaan putranya, kini amblas sudah. Rupanya Boy sangat sulit di sentuh hingga tidak bisa didoktrin otak putranya itu sesuai keinginannya yang selama ini sudah ia persiapkan.
"Sialan. Siapa gadis itu? hingga menghalangi semua rencanaku. Aku tidak bisa memanfaatkan putraku untuk menguasai kekayaan pria berengsek yang sekarang sudah di makan cacing tanah. Walaupun sudah mati masih saja menyusahkan. Harusnya aku tidak menyerahkan Boy semudah itu. Malangnya nasibku," gerutu Jesicca makin kesal.
__ADS_1
Setibanya di mansionnya, Boy harus merubah ekspresi wajahnya yang sempat gusar karena ibunya. Ia tidak ingin membuat banyak pertanyaan dari istrinya nanti ketika sudah bertemu. Betapa Boy sangat menyayangi Novia hingga tidak membuat gadis itu sakit hati. Ia sudah menyaksikan sendiri bagaimana Novia hampir mati karena putus asa atas dirinya yang pernah mengabaikannya. Apalagi mengetahui kalau Boy akan dijodohkan dengan wanita pilihan ibunya.
"Apakah sudah bertemu dengan bunda, sayang?" tanya Novia sambil membukakan jaket suaminya.
"Sudah. Kami sudah banyak membahas hal-hal yang remeh temeh termasuk pernikahan kita," ucap Boy.
"Apakah pernikahan kita remeh temeh, kak?" tanya Novia.
"Bukan begitu, Baby! Hal lainnya yang dibahas bunda yang ku anggap itu adalah yang remeh temeh," ralat Boy.
"Baiklah. Apa yang bunda katakan tentang aku saat kamu menceritakan tentang aku?"
"Tidak ada. Bunda ingin bertemu denganmu dulu baru ia bisa memberikan penilaian kepadamu. Sayang. Aku tidak memberitahukan kita tinggal di rumah kita sendiri. Aku bilang kita tinggal dirumahnya Daddy karena kamu baru sembuh dari sakit. Aku sengaja melakukannya hingga bunda benar-benar menerimamu dengan tulus," ucap Boy apa adanya.
"Bagaimana kalau bunda tidak suka padaku dan meminta kita untuk berpisah?" tanya Novia.
"Apa yang telah dipersatukan Allah berarti tidak bisa dihalangi oleh siapapun termasuk bundaku. Jika kita tidak jodoh, semuanya akan dipersulit. Andaipun kedepannya nanti ada yang menganggu ketenangan rumah tangga kita, anggaplah itu bentuk ujian. Jadi jangan mudah terprovokasi karena itu yang dinginkan orang lain untuk membuat kita berpisah. Apakah kamu mengerti, sayang?" tanya Boy.
"Insya Allah my hubby. Aku akan jaga keutuhan rumah tangga kita mulai dari orang yang terdekat kita termasuk ibu mertuaku tersayang. Terimakasih, hubby sudah menjadi suami hebat untukku!" ucap Novia yang sudah duduk berkoala di pangkuan suaminya hingga membuat si junior bangkit.
"Kamu sengaja membangunkannya, baby?" tanya Boy dengan suara serak.
"Bukankah dia juga ingin mengunjungi sangkarnya dulu?" goda Novia membuat Boy tersenyum.
"Dasar nakal!"
__ADS_1