
Dokter Daffa merasa sangat gugup saat mengetahui siapa Novia. Nyalinya ciut seketika yang sebelumnya sudah sangat menggebu-gebu untuk bisa mendapatkan Novia.
"Hei..! kenapa kamu tiba-tiba bengong? bukankah kamu yang menangani lukanya tadi siang? sekarang kamu harus tanggungjawab dengan pengobatanmu," ucap dokter Rian.
"Aku hanya tidak menyangka saja. Gadis ini terlalu keras kepala untuk menerima perawatan intensif di sini malah menolaknya. Ia lebih memilih meminum obat saja daripada dirawat.
Dua suster membantu dokter Daffa dan Rian dalam menangani Novia. Beberapa menit kemudian, Novia segera di pindahkan ke ruang perawatan pribadi di rumah sakit milik ayahnya.
Dokter Daffa menyampaikan hasil pemeriksaannya pada kedua orangtuanya Novia." Sepertinya lukanya Mona Novia baik-baik saja dan itu bukan menjadi alasan nona Novia bosa demam. Mungkin ada yang menganggu pikirannya yang membuat ia jatuh sakit. Mungkin nyonya atau tuan bisa mencoba melakukan pendekatan padanya untuk menggali informasi darinya sebagai kedua orangtuanya," ucap dokter Daffa.
Nova dan Vino saling berpandangan. Mereka tidak mengerti apa yang disampaikan oleh dokter Daffa pada mereka barusan.
"Maksud dokter apa ya?" tanya Vino.
"Tadi siang, keadaan nona Novia terlihat tidak baik-baik saja. Sepanjang saya menjahit lukanya, nona Novia tampak melamun dengan raut wajah sendu. Hingga pada akhirnya dia mengatakan kepadaku bahwa ia ingin melupakan seseorang hingga ia tidak ingin mengaggap orang itu lagi manusia karena sakit yang ia rasakan pada lukanya tidak begitu terasa dibandingkan sakit di hatinya. Mungkin saat ini nona Novia sedang jatuh cinta pada seseorang yang telah melukai hatinya," ucap dokter Daffa panjang lebar sesuai persepsinya.
"Terimakasih dokter Daffa. Sedikit informasi dari anda sangat membantu kami untuk mengatasi masalah putri sulungku," ucap Vino.
"Dengan senang hati tuan. Silahkan temani putri anda. Saya permisi Tuan, nyonya," ucap dokter Daffa.
Nova membelai lembut pipi putrinya. Ia menatap wajah cantik Novia yang terlihat sangat pucat." Siapa pria yang telah menyakiti hatimu, sayang?" tanya Nova lirih.
Nova mengerang lalu meracau penuh kepedihan." Aku membencimu. Aku menyesal mengenalmu. Cintamu telah membuatku sedih dan tak berdaya. Namun aku cinta padamu," ucap Novia bicara dengan alam bawah sadarnya.
Sontak ucapan Novia membuat kedua orangtuanya ikut merasakan sakit apa yang saat ini putrinya alami." Siapa yang telah menyakiti hatimu, sayang? beritahu Daddy. Daddy akan membunuhnya," ucap Vino penuh amarah.
"Daddy....! apa-apaan sih. Putrimu itu sudah terlanjur cinta pada pria itu. Kalau Daddy membunuhnya, Novia cari di mana lagi pemuda seperti itu yang telah membuatnya jatuh cinta," imbuh Nova.
"Tapi dia telah membuat putri kita menderita mami," ucap Vino.
__ADS_1
"Yang namanya cinta itu nggak harus bahagia terus. Pasti ada saatnya mereka berselisih paham. Kayak nggak pernah muda saja," sungut Nova.
"Hmm...! ingat masa lalu ya, mami? Perasaan dulu mami lebih kejam daripada pria yang nyakitin Novia," ucap Vino.
"Kalau Daddy sakit hati masih bisa bekerja. Masih bisa makan dan minum bahkan bisa tidur nyenyak. Beda sama wanita kalau sakit hati sulit move on," balas Nova.
"Jadi curhat sama daddy kalau mami nggak move on dari Daddy akhirnya balikan sama Daddy lagi, gitu ya?" tanya Vino menggoda istrinya.
"Daddy gimana sih. Putrinya lagi sakit karena cinta, kok malah godain mami sih," gerutu Nova.
"Karena kamu pantas di goda, baby," ucap Vino," ucap Vino makin membuat wajah Nova bersemu merah.
Tidak terasa, waktu sudah memasuki subuh. Kumandang Azan menggema dari mesjid yang ada di area rumah sakit itu menyusup masuk ke kamar rawat Novia.
"Daddy. Kita sholat berjamaah saja sayang," pinta Nova.
"Kak Boy...kak Boy. Via cinta sama kak Boy," Racau Nova dalam rintihan hatinya.
Nova yang baru mengucapkan salam terakhirnya mendengar nama pria yang disebutkan putrinya." Apa...? jadi Via sakit karena memikirkan Boy?" batin Nova namun ia tidak berani bicara pada suaminya yang tidak begitu mendengar ocehan putrinya yang mengigau nama Boy.
Vino membalikkan tubuhnya memberikan tangannya untuk disalim oleh istrinya. Dan Vino mengecup kening dan bibir istrinya. Kini keduanya berdoa sebentar lalu beralih menghampiri Novia. Rupanya demam Novia kembali tinggi.
Vino memencet tombol nurse call dan dokter jaga yaitu dokter Andien dan dua suster menghampiri kamar Novia.
"Iya Tuan. Ada apa?" tanya dokter Andien.
"Putri saya demam lagi dokter," ucap Vino terlihat frustasi.
Dokter memeriksa keadaan Novia dan meminta suster untuk menyuntikkan obat penurun panas pada Novia.
__ADS_1
"Novia. Buka matamu sayang. Jangan buat mami ketakutan," cicit Nova.
"Maaf nyonya. Nona Novia dibawah pengaruh obat penenang. Biarkan dia istirahat. Sepertinya jiwanya yang bermasalah karena reaksi obat sulit diterima olehnya. Apakah ada seseorang yang sangat penting dalam hidupnya, selain keluarga?" tanya dokter Andien.
"Putrinya selama ini belum pernah memiliki kekasih, kecuali seorang pria yang menjadi sahabat masa kecilnya dan itupun mereka sudah lama berpisah karena sahabatnya itu sekarang menetap di Amerika," jelas Nova.
"Mungkin saja beberapa hari ini mereka sempat bertemu dan terjalin komunikasi yang kurang baik menyebabkan nona Novia sakit hati dan fisiknya tidak kuat menanggung beban pikirannya ditambah luka ditangannya," ucap dokter bagian penyakit dalam ini.
"Sejauh ini kami belum tahu kedekatan keduanya. Kami akan mencoba mencaritahu sumber permasalahannya agar menemukan benang merahnya," ucap Nova.
"Itu lebih baik nyonya. Luka fisik bisa diobati. Namun luka hati karena patah hati, hanya cinta itu sendiri yang akan mengobatinya," timpal Dokter Andien.
"Terimakasih dokter Andien untuk nasehat bijaknya," ucap Nova.
"Kalau begitu kami permisi dulu," ucap dokter Andien.
Vino menarik tangan Nova bermaksud ingin menanyakan pria yang ada dalam pikiran putrinya.
"Apa maksud mami dengan sahabat masa kecil Novia? Apakah kamu mau bilang kalau pria itu adalah putranya Recky?" tanya Vino.
"Benar Daddy. Hanya Boy yang saat ini Novia rindukan. Tapi yang buat aku bingung kenapa Novia tiba-tiba meracau nama Boy? sementara kita belum dengar kalau Boy sudah berada di Indonesia," ucap Nova.
"Masalahnya, Boy sudah ada di Jakarta mami. Mungkin putri kita sudah bertemu dengannya," ucap Vino.
"Aku akan menanyakan sahabatnya Seza. Apakah dia tahu sesuatu saat Novia bertemu dengan Boy tanpa sepengetahuan kita?" ucap Nova.
"Baiklah. Sekarang mami istirahat dulu. Nanti mami sakit. Biar Daddy yang menunggu Nova," ucap Vino menggendong tubuh istrinya lalu di rebahkan tubuh Nova diatas ranjang yang ada di ruangan itu.
Beberapa menit kemudian, Vino meminta Hilman untuk menyelidiki kejadian di cafe di mana tangan putrinya terluka.
__ADS_1