
Nova merasa sangat bingung menghadapi situasi yang cukup membuatnya setress. Vino yang begitu takut kehilangan Nova harus tega pada gadis itu untuk tidak hidup bersama kedua orangtuanya.
Nova sedang memikirkan alasan terbaik yang akan ia berikan pada kedua orangtuanya untuk bisa bersama dengan Vino." Andai saja Vino mau melamarku mungkin aku tidak akan bingung seperti ini. Tapi, dia hanya menganggap aku Babynya selama setahun, setelah itu akan meninggalkan aku."
Nova menarik nafas panjang lalu berangkat ke sekolah menggunakan sepeda motornya. Nova menemui Anggun dan menceritakan apa yang saat ini sedang ia hadapi.
"Jadi, Daddy loe nggak mau lepasin loe?" Tanya Anggun.
"Iya say. Padahal aku sudah berusaha untuk menjelaskan kepadanya kalau aku masih punya orangtua yang selalu menunggu aku di rumah usai pulang sekolah. Kemarin aku berani menginap di apartemennya karena mami dan papiku masih berada di rumah sakit."
"Astaga. Kenapa si Vino jadi egois begitu?"
"Tau lah say. Aku pusing di buatnya. Setiap kali protes pasti dia nyebutin poin perjanjian kontrak kami. Sudah kayak pengacara aja, deman banget keluarin pasal." Keluh Nova.
"Asal dia nggak keluarin dalil saja sama kamu." Ucap Anggun membuat Nova terkekeh.
"Bantu pikirkan solusinya, say! Pikiranku sudah mentok."
"Apa kamu ingin mengorbankan perasaan orangtuamu demi dia?"
"Terus, aku harus bagaimana?"
"Coba saja ngomong sama orangtuamu kalau saat ini kamu ingin tinggal di rumah teman dekat sekolah biar bisa kerja kelompok. Lagian SIM motor kamu sudah habis tenggang waktunya. Daripada kena tilang mending ikutin saran teman." Ucap Anggun.
"Wih... keren juga solusi loe, say. Ayo kita ke kantin!" Ajak Nova.
"Yang lagi banyak duit nih," ledek Anggun.
"Ya begitulah. Aku kan sudah punya sugar Daddy." Canda Nova.
Keduanya menuju ke kantin diikuti tatapan mata Raihan yang saat ini sedang mengincar Nova.
Sepulangnya dari sekolah, asisten Hilman mengawasi lagi Nova yang pulang buru-buru menemui kedua orangtuanya. Namun setibanya di mansion utama mereka, banyak para debkolektor yang meminta tuan Reinaldi membayar hutang entah apa lagi yang dilakukan ayahnya Nova.
"Saya akan menjual rumah ini dan membayar hutang-hutang saya. Saya mohon pergilah dari sini. Beri saya kesempatan untuk menjual rumah ini." Ucap tuan Reinaldi.
Nova mendengar perkataan ayahnya kembali sedih. Nova tidak membuka helmnya yang memiliki kaca gelap agar tidak mudah di kenali para debkolektor.
__ADS_1
Setelah debkolektor itu meninggalkan rumah mereka, Nova menemui kedua orangtuanya yang tidak habis dirundung masalah. Rupanya di dalam sana ibunya sedang mengamuk dengan ayahnya yang selalu merahasiakan hutang-hutangnya dari mereka.
"Apa lagi yang kamu lakukan Rei? Apakah kamu ingin membuat aku mati? Belum cukupkah kamu membuat putri kita menderita, hah?"
"Maafkan papi, mami? Papi saat itu sudah tidak tahu harus berhutang ke mana lagi."
"Baiklah. Jual rumah ini dan kita pulang kampung. Mending jadi petani dari pada jadi pengusaha, yang pada akhirnya akan bangkrut. Aku sudah lelah melewati semua ujian ini. Nanti kalau aku sakit, tidak usah lagi membawa aku ke rumah sakit. Lebih baik aku mati." Ucap nyonya Ayesha.
"Mami...! Jangan berkata seperti itu. Papi tidak bisa hidup tanpa mami. Kalau memang kita mau pulang kampung mami, papi mau saja. Tapi bagaimana dengan putri kita, Nova? Sebentar lagi dia mau lulus SMA. Tidak mungkin kita pindahkan sekolahnya."
"Tidak apa papi. Nova bisa tinggal di rumah Anggun. Lagi pula tinggal tiga bulan lagi aku mau ujian akhir." Ucap Nova membuat keduanya tersentak.
"Sayang...!" Nyonya Ayesha memeluk putrinya.
"Apa kedua orangtuanya tidak keberatan kamu tinggal di sana?" Tanya nyonya Ayesha.
"Anggun hanya tinggal sama ibunya. Ayahnya sudah meninggal. Lagian, Nova juga sebenarnya mau minta ijin tinggal di rumahnya sebelum papi dan mami tadi bertengkar." Ucap Nova.
"Baiklah. Kalau begitu mau kamu sayang." Ucap nyonya Ayesha.
"Iya papi." Jawab Nova sendu.
Sekitar sore hari Nova ijin ke orangtuanya mau kerja kelompok. Keduanya mengijinkan putri mereka pergi. Tapi yang sebenarnya, bukan ke rumah temannya tapi ke apartemennya Vino.
Nova masuk ke kamar Vino dan mendengar ada suara gemericik air dari dalam kamar mandi. Iapun menunggu Vino di tempat tidur hingga membuatnya tertidur.
Tanpa disadari Nova, rok gadis itu tersingkap hingga memperlihatkan paha mulusnya. Vino tersentak saat melihat Nova sudah tertidur di tempat tidurnya. Melihat paha mulus Nova membuat Vino tidak mampu menahan hasratnya. Iapun segera meraih segitiga tiga pengaman milik Nova dan membukanya secara perlahan.
Paha itu di buka dengan lembut hingga memperlihatkan warna pink segar jalur sempit kenikmatan Nova yang masih virgin itu. Vino membenamkan wajahnya di sana dan memainkan lidahnya sambil berselancar di surgawi nya Nova.
Nova merasa sedang bermimpi bercinta dengan Vino saat ini. Ia berkali-kali melenguh nikmat merasakan permainan nakal lidah Vino pada miliknya hingga ia mengeluarkan cairan kenikmatannya yang dihisap habis oleh Vino.
Setelah puas bermain dengan milik Nova, Vino tidak tega menjejalkan miliknya pada milik Nova. Ia ingin melakukannya setelah gadis ini lulus SMA.
Vino memasang lagi segitiga pengaman milik Nova dan kembali ke kamar mandi untuk bersolo ria di dalam sana. Beberapa menit kemudian, Nova segera bangkit dan melihat Vino belum keluar juga dari kamar mandi.
"Betah banget berada di dalam kamar mandi. Apa sedang bertapa dengan jin atau jangan-jangan dia pingsan lagi?"
__ADS_1
Nova buru-buru membuka pintu kamar mandi dan mendapati Vino sedang melakukan solo dengan miliknya yang sangat besar dan panjang seperti itu.
"Apakah kamu ingin membantuku untuk menjinakkannya, Baby?" Goda Vino sambil menyeringai mesum membuat jantung Nova seakan ingin berhenti berdetak.
"Tidak...!" Ujar Nova seraya menutup pintu lagi dengan kencang.
Vino keluar lagi menemui Nova. Sayang...! Tolong jinakkan ini karena semua ini gara-gara kamu." Ucap Vino.
Vino memagut bibir Nova dengan rakus lalu meminta Nova untuk mengelus senjata laras panjangnya itu. Nova memegangnya dengan gemetar mengikuti arahan tangan Vino hingga Vino bisa melepaskan lahar panasnya itu.
"Terimakasih Baby!" Ucap Vino lalu mengecup bibir Nova sekilas.
"Ya ampun. Kalau seperti ini terus, aku bisa-bisa jatuh cinta padanya." Batin Nova.
Usai membersihkan lagi tubuhnya, Vino baru mengajak Nova bicara." Apakah kamu sudah setuju dengan persyaratan dariku untuk tetap menemani aku tidur di sini?"
"Iya." Jawab Nova gugup.
"Bagaimana pendapat orangtuamu dan apa alasanmu pada mereka?"
"Daddy tidak perlu tahu. Yang jelas aku sudah menyanggupi untuk menemani Daddy tidur di apartemen ini."
"Baguslah. Aku suka dengan keberanian mu." Vino kembali mencium Nova hingga terdengar bunyi ponselnya.
"Sebentar! Aku terima telepon dulu. Pesan saja makanan yang kamu suka, baby!"
Vino keluar dari kamar dan bicara dengan Hilman." Ada apa Hilman?"
"Kedua orangtuanya Nova mau menjual lagi rumah itu untuk membayar hutang Tuan."
"Apakah belum selesai urusan hutangnya?"
"Belum Tuan. Tuan Reinaldi masih memiliki hutang yang tidak diketahui oleh anak dan istrinya. Apa solusi anda Tuan?"
"Beli saja rumah itu. Dan pastikan utangnya harus lunas semua. Sudah dulu ya. Aku mau peluk bantal hidup Aku."
"Cih... memalukan jadi bucin sama gadis itu." Gerutu Hilman.
__ADS_1