Mantan Sugar Baby

Mantan Sugar Baby
15. Tangisan Kerinduan


__ADS_3

rr4u selesai mandi hanya mengenakan baju bathtub. Tanpa melihat monitor CCTV, Vino membuka pintu utama itu. Wajah Vino mendadak tegang. Matanya melebar menatap tak percaya dengan apa yang ia lihat kini.


Saking bahagianya, tubuhnya sampai gemetar. Vino menarik tangan Nova yang terlihat tertunduk sambil berurai air mata karena begitu takut menatap wajah Vino saat ini.


Grepp...


Tubuh Nova langsung di bawa dalam pelukannya. Keduanya menangis haru dengan pertemuan ini. Nova sudah menyingkirkan pikiran warasnya karena merindukan pria tampan yang sangat ia cintai itu.


"Baby." Tangis Vino makin pecah hingga tidak segan memeluk Nova dengan posesif. Ia menjatuhkan tubuhnya di sofa hingga tubuh Nova jatuh dalam pangkuan Vino hingga gadis itu berkoala di pinggang Vino.


Vino seakan menemukan anaknya yang sudah lama menghilang. Ia tidak menyangka masa pencariannya yang sudah memakan waktu tiga bulan terakhir hampir membuatnya frustasi, malah tidak dicari datang sendiri.


Saat tangisan keduanya mulai mereda dan hanya menyisakan Isak tangis keduanya, Vino baru merenggangkan pelukannya pada wanita yang membuat nya gagal move on.


"Ke mana saja kamu, baby? bolehkah aku membuka cadarmu?"


Nova mengangguk dengan rela. Ia tidak mengapa jika Vino hanya melihat wajahnya. Vino sempat mengepalkan kedua tangannya karena gugup. Tangannya cukup gemetar hanya ingin melihat wajah Nova setelah lima tahun berpisah dengannya.


Saat wajah itu terlihat jelas, Vino mengagumi kecantikan Nova yang sekarang sudah menjelma menjadi wanita dewasa. Bukan lagi gadis belia menjelang 18 tahun yang menghiasi hari-harinya.


"Oh, jantungku. Rasanya jantungku sudah tidak aman saat ini," batin Vino tidak lepas menatap wajah Nova yang semakin cantik. Ia seakan malu sendiri dan tidak kuat menatap mata indah Nova. Apa lagi bibir Nova yang membuatnya tergoda.


"Baby. Apakah kamu mau minum?" tawar Vino untuk mengalihkan kegugupannya.


"Biar Nova yang akan mengambil sendiri, Daddy. Apakah boleh?" Tanya Nova.


"Apapun yang aku miliki adalah milikmu Nova, termasuk jiwa ragaku." Ucap Vino membuat Nova sedikit tersipu.


"Ahhh... senyumnya. Rasanya ingin aku bungkus dan simpan di hatiku." batin Vino tersenyum sendiri.


Nova beranjak dari pangkuan Vino lalu menuju kulkas milik Vino yang sudah berganti model terbaru. Ada juga perabotan dapur yang sudah banyak di ganti mengikuti gaya interior sesuai kebutuhan jaman.


Nova menyiapkan minuman untuk mereka berdua. Minuman kemasan itu Nova bawa untuk Vino yang menerimanya dengan suka hati. Vino menjadi salah tingkah sendiri setiap kali Nova tersenyum padanya.


Dulu ia selalu bersikap seenaknya pada Nova. Tapi, saat melihat Nova dengan penampilan berbeda membuatnya bingung harus bersikap pada wanita yang terlihat makin cantik dengan ucapan yang terdengar lembut dan diatur sedemikian rupa hingga terkesan berwibawa. Jantung Vino seakan sedang meronta-ronta di dalam sana hingga mengisap habis energinya saat ini.


"Daddy nggak mau pakai baju?" tanya Nova membuat Vino tersenyum malu karena pahanya yang terekspos.

__ADS_1


"Sebentar ya baby!" Vino berlalu ke kamarnya dan mencari baju santai untuk ia pakai.


Di dalam kamar, Vino berjingkrak-jingkrak sendiri seperti anak kecil yang dapat mainan.


"Ya Allah. Jantungku. Aku hampir saja menciumnya tadi. Kalau bisa malam ini aku ingin menikah dengannya agar dua tidak ke mana-mana lagi. Setidaknya menikah secara agama dulu. Tapi, apakah Nova mau menikah dadakan saat ini. Ahkk...! Lebih baik mengatakannya dari pada aku tidak bisa menyentuhnya sama sekali."


Vino meraih ponselnya. Ia meminta Hilman untuk menjemput pak penghulu dan satu orang saksi lagi untuk pernikahan mereka.


"Hilman."


"Iya Tuan."


"Tolong dengarkan aku dan jangan banyak tanya. Tolong jemput penghulu atau kyai siapa saja yang mau menikahkan aku malam ini. Jangan pakai tanya dan waktumu hanya satu jam dari sekarang. Dan tidak pakai tapi," Titah Vino. Vino langsung mengakhiri pembicaraan secara sepihak.


Hilman terlihat kesal dengan ulah Vino yang sangat membuatnya kesal." Dia mau menikah dengan siapa? apakah dia mau melupakan Nova dan saat ini sedang setress dan memilih menikah dadakan di malam ini juga? gue jadi takut itu bos mulai eror otaknya."


Himan merinding sendiri dan tetap mencari informasi tentang keberadaan penghulu. Vino mempersiapkan satu set berlian yang pernah ia belikan untuk Nova lima tahun yang lalu sebagai mahar. Walaupun impiannya itu langsung kandas di tengah jalan.


Vino membuka pintu kamarnya dan menemui lagi Nova yang terlihat sedang melakukan chatting dengan seseorang sambil tersenyum sendiri. Saking seriusnya, Nova tidak sadar Vino sudah berada di belakangnya dan ikut mengintip apa yang sedang di tulis Nova.


"Eh, gimana sih Vino? Lo sudah bertemu dengan dia?" tanya Anggun.


"Terus bagaimana dengan reaksi dia lagi pertama lihat Lo?"


"Tentu saja dia syok berat. Mungkin hampir pingsan. Kami terbawa suasana akhirnya berpelukan."


"Tapi, kalian nggak ciuman kan, Nova?"


"Walaupun kepingin banget, tapi otak kami masih waras."


"Terus dia masih mau nikahin loe nggak, Nova?"


"Kalau itu aku belum tahu. Apa dia masih punya rasa sama gue atau nggak. Walaupun dia nggak mau nikahin gue, gue tetap cinta mati sama dia, Anggun."


"Tapi, loe pulangkan malam ini?"


"Insya Allah. Nanti gue minta Daddy yang mengantar gue."

__ADS_1


Vino segera kembali ke depan pintu kamarnya dan menutup pintu kamarnya dengan kencang agar Nova segera mengakhiri chating-nya dengan sahabatnya Anggun.


"Eh, Daddy." Ucap Nova malu-malu.


"Nova. Apakah aku boleh bertanya kepadamu?"


"Boleh Daddy."


"Apakah kamu menikah denganku malam ini?"


Duarrrr.....


Nova menelan salivanya dengan gugup mendengar pertanyaan Vino yang saat ini sedang melamarnya lagi.


"Kenapa sangat mendadak, Daddy?"


"Agar aku tidak mau kamu tinggalkan aku walaupun hanya sebentar."


"Tapi, aku butuh banyak penjelasan dari Daddy tentang banyak hal."


"Iya sayang, aku mengerti. Tapi aku tidak bisa cerita kalau belum menikahi kamu."


"Tapi, sudah malam begini, mana ada Penghulu yang siap menikahi kita. Lagi pula kita perlu menyiapkan dokumen pribadi."


"Tidak usah yang terlalu ribet dulu, Nova. Setidaknya kita sah secara hukum agama dulu baru setelah itu kita akan menikah lagi secara hukum negara. Bagaimana? Apakah kamu mau Baby?"


"Baiklah. Terserah Daddy saja." Ucap Nova masih terlihat malu-malu.


"Kenapa dia berubah jadi seperti kucing begini sih? makin menggemaskan saja." Batin Vino.


Tidak lama terdengar suara bel berbunyi. Vino segera membuka pintu itu dan Nova segera memakai lagi cadarnya. Vino melihat ada bapak penghulu dan juga satu orang saksi.


"Silakan masuk pak!" Vino membuka pintu selebar-lebarnya.


Hilman yang penasaran dengan gadis yang ingin dinikahi bosnya itu, langsung syok begitu melihat Nova.


"Astaghfirullah. Apakah ini nona Nova?" Tanya Hilman gugup.

__ADS_1


"Iya bang Hilman. Saya Nova." Ucap Nova malu-malu.


__ADS_2