
Tiga bulan berlalu, kini kandungan Novia sudah mencapai lima bulan. Keduanya tidak bisa melakukan bulan madu, karena Novia baru melewati masa trisemester pertamanya mengalami ngidam parah dan baru bisa memulihkan kondisi tubuhnya yang beberapa bulan kemarin selalu drop.
Keduanya ingin melakukan bulan madu setelah bayi mereka sudah bisa ditinggal dengan Oma dan opanya, tentu saja Oma Nova dan opa Vino. Nova dan Vino selalu memperhatikan kehamilan Novia. Apa saja keinginan gadis ini selalu saja ia penuhi, selain Boy selaku suaminya Novia.
Jika Novia sedang menjalani masa kehamilannya, tidak dengan Viona yang sedang melakukan pendekatan dengan calon mertua yang super sibuk. Sulit sekali untuk mempertemukan Viona dengan orangtuanya Kenzo. Hingga suatu waktu, Kenzo yang baru pulang dari rumah Viona mendapati kedua orangtuanya ada di rumah bersamaaan.
"Tumben. Keduanya ada di rumah? apakah sebentar lagi mau kiamat?" batin Kenzo yang langsung menghampiri kedua orangtuanya sambil mengucapkan salam dan menyalami tangan keduanya penuh takzim.
"Wah ..! putra kita kelihatan sudah hijrah nih. Apakah sudah dapat hidayah atau lagi ada misi tertentu, nih?" tanya nyonya Mona curiga.
"Paling mau minta kawin bunda," tebak tuan Akmal.
"Tahu aja ayah kalau Kenzo pingin nikah. Berarti kalian mau Kenzo segera berumah tangga?" tanya Kenzo.
"Yang penting bukan perempuan miskin dan wanita jal*Ng yang akan mendampingi hidup kamu," pukas nyonya Mona.
"Iya bunda. Insya Allah. Kali ini aku tidak salah pilih calon istri. Semuanya memenuhi kriteria bunda. Cantik, kaya, Sholihah dan jenius. Ayahnya pemilik beberapa perusahaan Real estate dan produksi minyak kelapa sawit. Mungkin masih banyak perusahaan lainnya," ujar Kenzo penuh semangat.
"Siapa nama ayahnya kalau memang dia seorang pengusaha ternama?" tanya tuan Akmal penasaran.
"Alviano Hermawan," ucap Kenzo membuat tuan Akmal dan nyonya Mona tercengang.
"Apaaa. .?" Sentak kedua orangtuanya Kenzo bersamaan.
"Ada apa dengan kalian? kenapa kalian bisa sekaget itu?" tanya Kenzo.
"Karena kamu terlalu hebat jadi putra kami, sayang. Kamu sudah membangun bisnis raksasa dengan perusahaan milik tuan Vino," ucap tuan Akmal.
"Ayah. Sebaiknya kita siapkan waktu khusus untuk melamar putrinya tuan Vino sebelum tuan Vino berubah pikiran, ayah," ucap nyonya Mona terlihat bahagia karena kali ini Kenzo tidak lagi mencari pacar yang selalu memanfaatkan kekayaan mereka.
__ADS_1
"Ayah hanya punya waktu Minggu depan. Tepatnya malam Minggu," ucap tuan Akmal.
"Baiklah. Bunda tidak akan mengambil job show untuk peluncuran rancangan baru. Bisa di tunda bulan depan saja," ucap nyonya Mona..
"Terimakasih ayah, bunda. Sudah mau meluangkan waktu untukku. Kalian tidak akan menyesal dengan pilihanku karena kelurganya om Vino sangat damai. Mereka sangat solid dan religius," ucap Kenzo.
"Sampaikan niat ayah dan bunda untuk melamar putrinya. Siapa nama kekasihmu itu, nak?" tanya tuan Akmal.
"Viona ayah."
"Salam untuk Viona. Apakah kamu memiliki fotonya, Kenzo?" tanya nyonya Mona.
"Tentu saja bunda. Ini dia foto gadisku," Kenzo menyerahkan ponselnya, di mana foto wajah cantik Mona menghiasi wallpaper layar depan ponsel miliknya.
Suami istri melihat wajah cantik calon menantu mereka. Mereka makin senang melihat Viona berhijab.
"Sudah beberapa kali dia ingin bertemu dengan ayah dan bunda. Hanya saja ayah dan bunda sulit untuk ditemui," keluh Kenzo.
"Itu gampang. Nanti bisa ketemu saat melakukan acara pinangan nanti. Yang penting kami sudah melihat wajahnya yang cantik dan meneduhkan," ucap nyonya Mona penuh pujian pada calon menantunya.
"Baiklah ayah, bunda. Kenzo mau rehat dulu," ucap Kenzo berjalan menuju anak tangga untuk mencapai kamarnya yang ada di lantai dua.
Kedua orangtuanya merasa sangat puas setelah impian mereka tercapai karena berbesan dengan keluarga yang juga kaya.
...----------------...
Tiba saatnya, Kenzo menyampaikan maksud baik kedua orangtuanya untuk datang melamar Viona sekitar empat hari lagi. Vino dan Nova sangat antusias mendengar kabar itu.
"Tante, om. Kalau tidak ada halangan, ayah dan bundaku ingin bersilaturahmi dengan keluarga ini. Mungkin mereka juga ingin melamar Viona untuk Kenzo om, Tante. Apakah kalian bersedia menerima keluargaku, Om?" tanya Kenzo.
__ADS_1
"Tentu saja nak Kenzo. Kami ingin Kenzo dan Viona menikah secepatnya agar tidak terjadi fitnah," ucap Nova.
"Kami tunggu kedatangan orangtuamu. Semoga mereka menepati janji mereka karena kami akan mempersiapkan menyambut kedatangan keluargamu, Kenzo," ucap Vino.
"Baik Om, Tante. Kalau begitu aku pulang dulu," ucap Kenzo berpamitan dengan calon mertuanya.
Viona mengantar Kenzo ke depan teras. Wajah gadis itu terlihat bersinar cerah, secerah cuaca hari ini. Walaupun kota Jakarta saat ini sangat panas hawanya, namun selimut kesejukan hatinya membuyarkan semua rasa itu saat ini.
"Kenzo. Apa yang paling di sukai bundamu dalam segi penampilan?" tanya Viona yang ingin tampil cantik saat acara lamaran nanti sesuai dengan selera calon ibu mertuanya.
"Tetaplah menjadi dirimu sendiri! dengan begitu kejujuran jiwamu terpancar jelas saat bundaku melihatmu. Tidak usah merisaukan bagaimana pendapat orang lain tentangmu walaupun itu adalah ibuku sendiri karena kamu adalah kamu karena itu aku menyukaimu apa adanya bukan ada apanya," ucap Kenzo bijak.
"Wow ..! ternyata kekasihku ini sangat puitis dan romantis. Terimakasih atas dukungannya Kenzo. Aku lebih percaya diri saat ini. Jadi nggak sabar pingin ketemu calon mertua," ujar Viona senyam-senyum sendiri.
Kenzo memencet hidung Viona sampai merah. Betapa gemasnya ia dengan Viona saat ini." Sayang. Aku pamit ya. Jaga dirimu kamu sampai hari di mana aku datang untuk menghalalkan kamu," ucap Kenzo sambil membuka pintu mobilnya.
"Hati-hati Kenzo. Salam untuk camer," bisik Viona.
Mobil Kenzo meninggalkan rumah Vino. Nova dan Vino begitu bahagia atas kabar baik itu." Daddy. Rumah ini akan sepi setelah Viona menikah nanti dan dibawa pergi oleh suaminya. Tinggal putra bungsu kita Vian yang akan membawa calon istrinya kesini nantinya," ucap Nova berkaca-kaca.
"Siapa yang bilang sepi sayang? bukankah sebentar lagi cucu kita dari Novia akan lahir?" tanya Vino sambil memeluk pinggang istrinya.
"Iya juga. Hampir lupa kalau bakal punya cucu," ucap Nova malu-malu.
"Apakah kamu masih pingin hamil lagi sayang? supaya tidak kesepian, hmm?" tanya Vino lalu membuka jilbab istrinya.
"Nggak ah. Aku hanya ingin merawat satu bayiku ini saja karena dia sangat membutuhkan kasih sayangku," ucap Nova.
"Kalau begitu, bayi besar ini ingin mendapatkan dua bukit ini," goda Vino sambil meremas dua gundukan Nova yang masih sangat kencang saat ini. Keduanya saling berciuman mesra hingga tidak sadar tubuh mereka sudah polos. Pergulatan panas di mulai.
__ADS_1