
Usia kandungan Nova memasuki enam bulan membuat tubuhnya lebih berisi saat ini. Selera makan yang makin meningkat membuat Vino ekstra tegas dan tega pada istrinya jika Nova sudah meminta makanan yang manis-manis.
Saat berkunjung ke restoran, hal yang disukai Nova adalah es krim yang diatas toppingnya ada lelehan coklat.
Dan ada lagi cake rainbow tabur kacang Almon. Semuanya sangat membuatnya tergiur. Sudah dua potong kue dan dua cup es krim yang di habiskan Nova tapi gadis ini tidak merasa kenyang sedikitpun.
"Daddy! Aku mau lagi es krimnya," pinta Nova membuat Vino menggeleng dengan keras.
"Tidak sayang. Itu sudah cukup!" sergah Vino.
"Bayimu yang menginginkannya bukan aku," rengek Nova.
"Tapi kamu ibunya, kamu harus mengendalikannya bukan makin menambahnya gemuk di dalam. Bukankah kamu ingin melahirkan bayi kita secara normal?" tanya Vino.
"Iya aku tahu itu tapi aku dipaksa bayimu untuk nambah lagi," gumam Nova lagi dan kali ini dengan setengah memelas.
Vino menatap dalam wajah Nova yang terlihat sangat tersiksa dengan keinginannya yang tidak ingin berhenti makan es krim. Mata Nova yang menahan bulir beningnya agar tidak sampai mengembang dipermukaan bola matanya.
"Sebegitu besarkah keinginanmu untuk makan es krim?" selidik Vino membuat Nova mulai tersinggung.
"Baiklah. Kalau kamu tidak mau membelikannya untukku, aku tidak masalah." Nova kemudian berdiri seraya mengambil tasnya.
Vino tidak ingin terlihat lemah dihadapan Nova sekalipun gadis itu kini mulai ngambek. Maafkan aku sayang, karena sudah melarang kamu untuk makan banyak es krim. Jika diteruskan bukan tidak mungkin berat bayi akan bertambah dan itu tidak baik untuk kesehatanmu," batin Vino yang sudah masuk ke dalam mobilnya.
Nova yang penuh dengan akal licik sengaja meredam keinginannya saat ini karena ia bisa melakukan sesuatu keesokan harinya. Yaitu meminta sahabatnya Anggun ke rumah sambil membawa es krim.
"Sayang. Nanti lagi ya makan es krimnya!" pinta Vino sambil mengusap perut istrinya dengan lembut.
"Iya. Sekarang aku mau tidur," ucap Nova sambil selonjoran tubuhnya dengan merendahkan jok kursi mobilnya.
Vino hanya menarik nafas panjang berulang kali karena tidak tega melihat Nova tidur dalam keadaan sakit hati. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Nova yang terlihat kekenyangan nampak pulas dengan suara dengkuran yang begitu halus.
__ADS_1
Dalam keadaan santai seperti itu, Vino tidak tahu ada yang berusaha mendekati mobil mereka dari arah kiri, kanan dan belakang. Setiap pergerakan mobil Vino, mobil yang sama itu terus mendekati mobilnya. Tidak lama Vino menerima panggilan dari Recky.
Vino mengenakan handset sambil menyetir mobilnya." Ada apa Recky?"
"Vino. Saat aku bicara padamu tolong jangan panik dan bersikap seperti biasa di depan Nova," ucap Recky.
"Nova sedang tidur, emangnya ada apa?" tanya Vino.
"Perhatikan mobil dari arah belakang dan juga berada di antara mobil kamu saat ini. Mobil itu bergerak stabil hingga menunggumu memasuki wilayah yang agak sepi karena arah menuju apartemenmu sedikit sepi jalanannya," ucap Recky.
Vino melakukan apa yang dikatakan oleh Recky dengan mengamati tiga mobil yang di maksudkan oleh Recky.
"Apa yang harus aku lakukan Recky? aku tidak mau terjadi sesuatu kepada istri dan calon bayi kami," ucap Vino yang akhirnya panik karena berada dalam situasi yang sulit saat ini.
"Aku harap kamu tetap bersikap tenang, Vino dan jangan sampai Nova terbangun. Aku sudah mengerahkan anak buahku untuk menghalau ketiga mobil yang sedang menguntit mobilmu. Sepertinya saat ini mereka sedang mengincar Nova," ucap Recky membuat Vino terperanjat.
"Apa...? Apa salahnya Nova, Recky?"
"Apakah kamu masih ingat dengan pria yang pernah melecehkan Nova beberapa bulan yang lalu di salah satu tempat parkir di swalayan?" tanya Recky.
"Saudaranya ingin membalas sakit hati adiknya yang kita lukai dan Nova adalah targetnya. Mereka hanya mengenali Nova jika jalan berdua denganmu," ucap Recky.
"Astaghfirullah! kenapa mereka harus menyakiti istriku saat dia sedang hamil? kenapa mereka tidak membalas langsung padaku atau padamu?" tanya Vino tidak mengerti.
"Nanti saja aku jelaskan kepadamu, Vino. Yang penting kamu saat ini menjaga keselamatan Nova dengan cara menambah kecepatan mobilmu agar ketiga mobil itu akan di hadang oleh saya dan ketiga mobil anak buahku," ucap Recky.
" Terimakasih Recky! aku berhutang banyak padamu. Aku akan membalas kebaikanmu di kemudian hari," ucap Vino lalu menginjak gas mobilnya dengan kecepatan tinggi untuk menjauhi mobil mereka dari incaran para penjahat.
"Ada apa daddy?" tanya Nova yang merasa kecepatan mobilnya yang sedari tadi di luar batas kewajaran tidak seperti biasanya.
"Sayang! Ambil bantal di belakang jok mobil dan lindungi perutmu. Cepat!" Titah Vino dengan intonasi suara keras membuat Nova gelagapan.
__ADS_1
"I...iya Daddy." Nova meraih bantal kecil lalu melindungi perutnya.
"Ada apa daddy?" tanya Nova penasaran.
"Ada yang ingin mencelakai kita. Jangan panik dan tetap berdoa!" ucap Vino sambil bicara pada Recky.
"Bagaimana Recky? Apakah situasi sudah aman?" tanya Vino.
"Anak buahku sudah menghadang mereka. Kamu di mana sekarang?" Tanya Recky.
"Sedikit lagi kami tiba di gedung apartemen. Nova baik-baik saja. Apakah kamu mau ke apartemen kami?" tanya Vino.
"Iya. Nanti aku mampir. Aku ingin bicara banyak dengan kalian mengenai penjahat itu," ucap Recky.
"Baiklah. Aku tunggu." Vino membelokkan mobilnya ke area apartemen dan berhenti di depan lobi.
"Perketat keamanan. Tidak boleh menerima tamu yang sedang mencariku kecuali yang bernama Recky dan Hilman," ucap Vino pada tiga orang satpam apartemen itu.
"Baik Tuan. Kami akan waspada," ucap salah seorang satpam.
"Kamu tidak apa, baby?" Tanya Vino yang sedang menggenggam tangan Nova yang terasa sangat dingin.
"Aku takut daddy. Apakah mereka akan menyakiti kita?" tanya Nova.
"Selama kita masih bisa berhati-hati, kita akan aman dan terutama dirimu," ucap Vino.
"Nova. Apapun yang terjadi padaku suatu saat nanti, mintalah perlindungan pada Recky," ucap Vino membuat Nova tercekat.
"Apa maksud permintaanmu, daddy?" tanya Nova.
"Karena aku tidak selamanya bisa mendampingi dirimu. Aku pasti akan mengalami hal buruk dan tidak bisa melindungi kamu lagi," ucap Vino.
__ADS_1
"Kalau begitu, ayo kita mati sama-sama Daddy! Aku tidak akan bisa hidup tanpa kamu. Aku sangat mencintaimu, Daddy," ucap Nova yang sudah mulai menangis.
"Kamu harus bertahan hingga perang ini berakhir. Kamu harus menjaga buah cinta kita. Aku ingin anak keturunanku yang akan mewariskan apa yang aku miliki. Tolong jangan menolak permintaanku ini, Baby!" ucap Vino sambil menggendong tubuh istrinya melangkah menuju unit kamar mereka.