
Ciuman penuh kasih diberikan Boy pada wanitanya yang belum pernah ia nyatakan cintanya sama sekali. Namun Boy berharap ciuman darinya mewakili perasaannya pada Novia.
Ciuman itu seperti obat mujarab untuk Novia. Tubuhnya yang tadi mengalami demam tinggi, kini berangsur menurun. Hanya mulutnya masih terasa hangat dibibirnya Boy. Ini adalah ciuman pertama yang dilakukan Boy untuk pertama kalinya dalam hidupnya.
Amerika tidak mendidiknya untuk berani mencoba menyentuh wanita karena ia tahu bahkan akan ketagihan dan dia tidak ingin mengawali kenakalannya dengan mencium wanita sembarangan hanya untuk memenuhi syahwatnya. Cukuplah almarhum ayahnya saja yang selalu bergonta-ganti pasangan hingga berakhir pada ibu kandungnya tanpa ada pernikahan walaupun ia hadir diantara mereka. Hanya uang sebagai penyelesaian moral. Itu yang sedang dihindari Boy. Belajar dari kesalahan ayah dan ibunya.
Boy melepaskan ciumannya setelah Novia merasakan ketenangan. Senyum Novia dalam tidurnya mampu merontokkan hati Boy yang beku.
"Kamu sangat cantik Novia. Aku harap kedatanganku tidak akan sia-sia kalau tidak membuat kamu sembuh. Jika kamu belum siuman juga, ini terakhir kalinya aku bertemu denganmu!" bisik Boy setengah mengancam.
Tidak lama kemudian, Nova masuk dan tersenyum pada Boy. Boy hanya menarik kedua sudut bibirnya dengan perasaan canggung.
"Apa kabarmu, boy!" tanya Nova.
"Baik Tante," ujar Boy sekenanya.
"Terimakasih sudah menengok Via. Beberapa hari ini, Via selalu mengigau memanggil namamu. Tante bingung harus bagaimana untuk menghubungimu. Tante tahu kalau kamu masih marah bahkan sakit hati atas kepergian ayahmu karena melindungi Tante. Sumpah demi Allah, Tante tidak punya perasaan apapun pada ayahmu selain rasa sayang sebagai sahabat bahkan seperti saudara bagi Tante. Hati dan cinta Tante hanya untuk Daddy-nya Novia seorang. Atas nama kesetiaan itu, Tante tidak bisa berbagi hati untuk pria lain termasuk almarhum ayahmu," ucap Nova mengklarifikasi kesalahpahaman Boy padanya.
"Iya Tante. Tidak usah kuatir. Aku belajar menerima keadaan. Tapi aku tetap butuh waktu mencerna setiap peristiwa yang terjadi pada ayah dan Tante. Biarkan waktu yang menyembuhkan perasaanku hingga aku siap untuk menjalin kasih dengan Novia," ucap Boy penuh keyakinan.
Vino dan Hilman yang baru saja pulang dari cafe rumah sakit, melihat keberadaan Boy yang duduk di samping Novia yang masih tertidur. Suasana kembali memanas. Vino menatap tajam wajah Boy yang persis fotocopy ayahnya Recky, tidak menyukai kehadiran Boy untuk melihat keadaan putrinya.
"Ada urusan apa kau ke sini?" tanya Vino masih dalam intonasi sedang.
"Menjenguk Novia," ujar Boy tetap tenang.
__ADS_1
"Putriku tidak membutuhkan kehadiranmu. Sekarang pergilah! Jangan menganggu hidup kami, terutama putriku!" usir Vino.
"Tuan. Aku yang meminta Boy ke sini. Aku yang memohon kepadanya agar nona Novia cepat pulih," ungkap Hilman.
"Putriku tidak meminta rasa empati darinya. Apakah putriku sadar setelah kedatanganmu, hah?" bentak Vino lalu menarik tangan Boy untuk menyeretnya keluar.
Boy menghempaskan tangan Vino yang mencengkram pergelangan tangannya.
"Lepaskan aku! Kehadiranku sedikit mengobati Novia karena demamnya mulai turun walaupun saat ini dia masih belum....-"
"Boy....!" panggil Novia lagi seakan tidak ingin Boy meninggalkannya.
Boy dan Vino sama-sama tersentak saat melihat Novia berhasil membuka matanya." Kak Boy...!" panggil Novia lagi dengan suara melemah hingga jumlah saturasnya tiba-tiba turun bersamaan tekanan darahnya.
"Novia. Sayang....! istighfar nak," pinta Nova sambil membelai rambut putrinya karena manik hitam mata Novia sudah mengarah ke atas.
"Dokter berupaya keras untuk menyelamatkan Novia yang seperti sedang sakaratul maut. Nova menjerit ketakutan melihat keadaan putrinya. Vino gelagapan hingga tubuhnya terhuyung ke belakang beberapa langkah. Dokter mundur seakan angkat tangan karena keadaan Novia tidak bisa lagi diselamatkan.
"Tidak baby. Jangan pergi seperti ini....!" pinta Nova yang terus saja menangis.
Seperti mendapatkan hantaman batu besar didadanya, Boy tidak ingin lagi kehilangan orang yang dicintai. Ia segera mendekat ke tubuh Novia walaupun Vino berkali-kali menarik tubuhnya untuk menjauhi putrinya yang sedang menghadapi ajalnya.
"Keluar kau dari sini, bodoh. Tidakkah kamu lihat putriku sedang menghadapi ajalnya, hah!" bentak Vino makin geram dengan ulah Boy yang terlihat sok pahlawan di hadapan mereka.
"Jadi, paman menyerah begitu saja tanpa ingin memanggilnya kembali pada kalian, hah?" bentak Boy tidak kalah sengitnya.
__ADS_1
"Emang kamu bisa?" sindir Vino meremehkan Boy yang terlihat makin frustasi melihat nafas Novia yang sudah tersendat sambil mengikuti kalimat tahlil yang diucapkan oleh ibunya dengan terbata-bata.
"Aku bisa. Aku bisa. Biarkan aku memanggilnya kembali sebelum aku merasa menyesal seumur hidupku," ucap Boy meyakinkan Vino.
"Omong kosong!" sinis Vino lalu membiarkan Boy dengan tubuh gemetar mendekati wanitanya.
"Tante. Ijinkan aku mengajaknya bicara!" pinta Boy namun Nova melihat ke arah suaminya yang hanya memberi isyarat dengan matanya agar Nova memberi ruang untuk Boy agar bisa mengembalikan Nova pada mereka.
"Novia. Apakah kamu tidak ingin mendengarkan kata cinta dariku, baby? tahukah kau bahwa aku sangat mencintaimu, hmm! bangunlah! Kembalilah padaku. Apakah kamu tidak ingin berumahtangga denganku? hidup bersamaku dan melahirkan anak-anak untukku? aku mencintaimu Novia. Aku mencintaimu Novia..!" ucap Boy sambil merangkul tubuh Novia dalam pelukannya.
"Hei! bukalah matamu! Siapa yang menyuruhmu pergi? aku bahkan belum pernah jadian denganmu. Bagaimana aku mau mengijinkan kamu pergi? tidak. Jangan pergi Novia. Aku mencintaimu. Aku melamarmu pada ayahmu. Tolong jangan pergi, baby! Comeback, baby. I love you.. honey!" Boy nekat memagut bibir Novia di depan semua orang termasuk Vino yang tidak terima sikap kurangajar boy pada putrinya dan tindakannya yang ingin meleraikan Boy dari Novia di cegah oleh Hilman.
"Bos. Anda juga pernah muda. Nova adalah korban eksploitasimu dulu dengan menjadikannya sugar baby mu tanpa diawali cinta. Sepasang anak muda itu baru saja mulai menjajaki cinta mereka. Hidup mati putrimu ada pada ketulusan cinta Boy," ucap Hilman membuat Vino hanya mendengus kesal.
"Lepaskan tanganku!" Vino menepikan tangan Hilman dari pergelangan tangannya.
Dokter dan perawat memperhatikan lagi detak jantung dan saturasi di monitor dan jari Novia yang kembali meningkat ke arah stabil. Ciuman Boy yang tidak berhenti hingga bisa merasakan tubuh Novia kembali menghangat padahal sebelumnya keringat dingin membasahi pelipis dan juga tubuh gadis itu. Baju Novia terasa lembab karena menghasilkan keringat yang berlebihan seakan baru habis menempuh perjalanan jauh.
Ciuman Boy yang menenangkan Novia seperti obat morfin untuk wanitanya itu. Itulah hormon cinta Boy yang mengembalikan keadaan Novia yang hampir mau meninggalkan mereka.
Nafas Novia kembali teratur dan Boy melepaskan pagutannya dari bibir Novia yang sedikit sensual. Namun ia tetap membawa Novia dalam pelukannya.
"Tuan. Ijinkan saya memeriksa keadaanya!" Pinta dokter Nia.
"Silahkan!" Boy membaringkan lagi tubuh Novia di kasurnya. Namun kakinya tidak beranjak dari tempatnya berdiri.
__ADS_1