
Hilman meretas CCTV cafe yang didatangi Nova dua hari yang lalu. Ia melihat sekitarnya dan nampak terkejut melihat putranya Recky ada di cafe itu. Hilman menonton adegan demi adegan sesuai dengan pergerakan waktu hingga terjadi pada penabrakan Novia yang terburu-buru mengejar Boy hingga tubuhnya di dorong pria yang tampak marah pada Novia hingga Novia terluka. Dan lebih menyayat hati, Hilman melihat Boy memilih pergi meninggalkan Novia yang sedang terluka parah.
"Pantas saja Novia jatuh sakit lihat pria berengsek ini sangat cuek dengan Novia. Tapi, tunggu. Apakah mereka pacaran? setahuku Boy pergi ke luar negeri, umur Novia masih bau kencur. Apakah gadis itu diam-diam mencintai Boy?" gumam Hilman dengan argumennya sendiri.
Hilman menutup laptopnya. Ia juga tidak ingin memperkeruh suasana hingga memilih merahasiakan kepada Vino sebelum bertemu dengan Boy. Setibanya di perusahaan Boy, Hilman disambut oleh sahabat dekatnya Jack.
"Tumben mau datang ke perusahaan ini.Lagi kangen ya sama aku?" ledek Jack membuat wajah Hilman kelam.
"Iihhh.. najis. Kangen sama Lo. Mau minta gue," cicit Hilman.
"Lantas kenapa Lo tiba-tiba ke sini. Ada yang bisa aku bantu?" tanya Jack yang mulai dengan percakapan serius.
"Aku mau ketemu dengan Boy. Ada yang harus aku sampaikan kepadanya. Ini mengenai masalah hidup matinya putri majikan gue," ucap Hilman.
"Emang kenapa Hilman. Apa yang terjadi dengan Novia?" tanya Jack dengan kening berkerut.
"Loe lihat ini, Jack! anak almarhum Recky itu benar-benar berhati batu. Nggak punya rasa kemanusiaan," umpat Hilman seraya menyerahkan rekaman CCTV pada Jack.
Jack mengamati sebentar rekaman itu dan ia juga ikut marah seperti Hilman. Semarah apapun boy pada keluarga Vino, tidak jadi pria pengecut seperti ini.
"Baiklah. Ikut denganku. Kita ke ruangannya sekarang," ucap Jack berjalan menuju ruang kerjanya Boy.
"Permisi Boy. Ada tamu mencari kamu," ucap Jack sambil menyuruh Hilman masuk.
"Siapa om?"
__ADS_1
"Saya Boy," ucap Hilman.
"Oh, om Hilman. Silahkan duduk, om. Apa kabar! Apakah ada yang bisa saya bantu, om?" tanya Boy tanpa basa-basi.
"Kabarku, seperti yang kamu lihat saat ini. Biasa saja hanya usiaku yang bertambah tua. Tapi bertambahnya usiaku, aku belajar bagaimana bersikap mendewasakan pikiranku. Jadi bukan hanya terlihat dewasa karena usia. Bertambah usia harus lebih peka terhadap orang lain yang ada disekitar kita apalagi orang itu sangat kita kenal dan pernah menjadi bagian dalam hidup kita," sindir Hilman.
"Langsung to the point aja om. Nggak usah berbelit-belit seperti itu," sungut Boy.
"Novia jatuh sakit badan dirawat di rumah sakit," ucap Hilman.
"Lantas apa hubungan aku dengan sakitnya Novia, om?" tanya Boy pura-pura tidak mengerti dan hal itu membuat Hilman dan Jack saling menatap wajah tengil Boy yang pura-pura cuek.
"Keadaan Novia tidak baik-baik saja. Boy. Demamnya tidak turun-turun. Ia terus meracau menyebut namamu. Sampai saat ini ia tidak sadarkan diri. Jika tubuhnya tidak bereaksi dengan obat apapun, bagaimana gadis itu bisa bertahan hidup? kamu berniat membalas dendam kepada siapa? pada ibunya Nova? Bagaimana kamu balas dendam pada Nova yang selama ayahmu hidup, sedikitpun Nova tidak pernah memberikan harapan pada almarhum ayahmu Recky.
Karena Recky datang di saat Vino dan Nova sudah terikat hubungan asmara," ucap Hilman memberikan fakta agar Boy menyadari kesalahannya.
"Ya, aku tahu kamu tidak punya perasaan pada Novia. Tapi, perbuatanmu yang mengabaikan Novia sedang terluka parah saat pria lain menganiaya dirinya, mengapa kamu diam saja dan tidak menolongnya, hah?" bentak Hilman yang tidak sabar lagi menghadapi sikap angkuh Boy.
"Boy. Jika kamu tidak punya perasaan pada gadis itu, setidaknya bersikaplah peduli sebagai manusia yang beradab dan berjiwa sosial untuk membantu orang lain yang sedang musibah. Novia tidak punya salah apapun padamu.
Kesalahannya adalah terlahir dari wanita yang dicinta mati oleh ayahmu sekaligus wanita yang kamu benci karena menghalangi ayahmu menikahi ibumu.
Yah, semoga saja kamu benar-benar tidak menyukai Novia sedikitpun dengan begitu kisah cinta ayahmu yang tak terbalas tidak terulang lagi jika Novia mendapatkan cinta pria lain," ucap Jack dengan kata-kata menohok.
Glekkkk...
__ADS_1
Wajah tampan Boy terlihat syok mendengar ucapan asisten pribadinya itu malah lebih membela musuhnya. Namun penekanan kalimat tentang MENYUKAI Novia, membuat Boy berpikir keras akan sikap dan perasaannya, apakah saat ini dia benar-benar mencintai Novia atau ingin membalas dendamnya pada Nova.
"Sekarang, om datang ke sini meminta tolong kepadamu, Boy. Jenguklah Novia sebentar agar jiwanya tertolong. Jika ia sampai meninggal dunia karenamu, apakah kamu baru merasa menyesal?" Pinta Hilman penuh harap pada Boy.
"Sudahlah Hilman. Sebaiknya kita tinggalkan pemuda angkuh ini. Andai saja Recky masih hidup, anak ini pasti dihajar olehnya," ucap Jack.
Keduanya meninggalkan ruang kerjanya Boy dengan perasaan kecewa. Membiarkan Boy dengan pikirannya yang membuatnya cukup terganggu dengan sakitnya Novia. Perkataan kematian sangat membuatnya sakit. Tapi, ia tidak mau mendengarkan kata hatinya. Ia lebih memilih egonya yang yang terbesit di pikirannya hanya sebuah dendam.
Saat malam tiba, Nova dan Vino sudah kembali bersama menunggu putri mereka. Sementara Hilman hanya memberikan informasi pada Vino tidak sepenuhnya menyeluruh agar Vino tidak terpancing amarahnya dengan video rekaman CCTV yang ada di cafe tersebut.
Keadaan Novia masih tetap sama. Hilman mengajak Vino untuk ke kafe rumah sakit itu karena ada yang harus ia bahas tentang perusahaan. Sementara Nova menunggu sendiri putrinya. Saat Nova sedang mengaji karena baru habis sholat isya, tiba-tiba Boy mengetuk pintu kamar inap VVIP milik Novia.
Pintu itu dibukanya perlahan. Nova beringsut bangkit dari duduknya dan menyambut kedatangan Boy.
"Assalamualaikum Tante!" ucap Boy pada Nova membuat jantung Nova berdetak kencang melihat wajah Recky dalam diri Boy. Bahkan fisik Boy sama persis seperti ayahnya Recky.
"Waalaikumuslam Boy. Silahkan masuk Boy!" ucap Nova.
Boy mengalihkan perhatiannya ke wajah cantik Nova yang tergolek lemah dan hijabnya terlihat sedikit longgar hingga tidak membungkus penuh kepalanya. Setelah dilihat secara dekat, hati Boy bergetar hebat. Ada kerinduan yang mengalir dalam hatinya. Ia tidak bisa mengucapkan kalimat apapun selain mendekati Novia yang masih tertidur.
Ponsel Nova berdering. Putranya Alvian sedang menghubungi dirinya.
"Nak Boy, Tante terima telepon di luar saja. Titip Novia sebentar," ucap Nova sambil berlalu menjawab sapaan salam putra bungsunya. Sementara itu Boy berusaha mengusap pipi Novia yang masih terasa demam tinggi.
"Astaga..! Tubuhnya masih demam?" sentak Boy.
__ADS_1
"Boy....boy... boy...! Kenapa kamu tega padaku.. Mengapa cintamu membuatku sedih dan tak berdaya Boy. Aku tahu kamu ...-"
Bibir Nova langsung dipagut oleh Boy membuat gadis ini langsung diam seperti sedang berada dalam mimpinya.