
Kepergian Boy ke luar negeri tanpa meninggalkan pesan apapun pada keluarga Vino membuat suami Nova ini memaklumi sikap Boy yang enggan berurusan lagi dengan pemuda itu.
Bagi Vino kehidupan keluarganya lebih penting daripada mengurus putra dari Recky itu yang menyalahkan istrinya atas meninggalnya Recky.
Tanpa terasa, waktu bergulir dengan cepat hingga usia Novia sudah menginjak 17 tahun. Gadis cantik ini makin terlihat dewasa dalam tindakannya. Ia yakin masih duduk di bangku SMA Daan tentunya di boarding school hendak melanjutkan perkuliahannya di wilayah Jakarta saja karena tidak ingin jauh dari kedua orangtuanya.
Wajah Novia yang persis seperti Nova membuat orang yang sudah mengenal Nova akan mengira Novia adalah Nova.
"Daddy. Nova mau mengenakan cadar saat masuk kuliah nanti. Novia ingin seperti mami," ucap Novia.
"Nanti saja sayang. Kalau kamu sudah berkeluarga, jangan sekarang. Nikmati dulu masa mudamu dengan cukup mengenakan hijab saja," ucap Vino.
"Baik ayah." Novia meninggalkan meja makan lalu kembali ke kamarnya.
Nova mendekati suaminya. Ia menyayangkan sikap suaminya yang tidak mendukung permintaan putrinya.
"Daddy. Bukankah permintaan putrimu itu adalah sebuah kebaikan untuk dirinya kelak? kenapa menghalanginya? " tanya Nova lembut.
"Sayang. Biarlah dia merasakan proses kehidupan yang tidak membatasi segala aktifitasnya. Dia bisa berkenalan dengan pria lajang yang mungkin naksir dengannya," ucap Vino.
"Cukup satu orang saja yang menjadi korban untuk mendapatkan satu wanita Daddy. Lagi pula, Novia sudah punya jodoh sendiri yaitu putranya Recky, Boy," ucap Nova.
"Lupakan pria berengsek itu. Aku tidak sudi memilihnya menjadi menantuku. Mungkin sampai saat ini dia menyimpan dendam kepada kita karena kematian ayahnya. Jangan pernah berurusan lagi dengan pemuda cengeng itu!" ucap Vino lalu meninggalkan Nova yang hanya bisa menarik nafas panjang.
Sementara itu di dalam kamar, Novia hanya menatap wajah tampan Boy. Wajah Boy yang versi Recky ini mampu meluluhkan hatinya yang kian hari kian merindu pada pria yang pernah menjadi sahabat masa kecilnya hingga memasuki usia remaja. Hanya saja, sampai saat ini Novia tidak mengerti mengapa Boy menjadi antipati pada keluarganya hanya karena Recky menolong ibunya.
"Apa kabar dia sekarang! apakah kak boy mengingat aku sampai saat ini? ah mana mungkin. Kami tidak punya komitmen apapun. Mungkin dia di sana sudah punya banyak wanita cantik yang dia dapatkan dengan mudah. Mau model seperti apa juga, tidak menjadi masalah buat kak Boy. Semoga kamu bahagia bang. Walaupun sebenarnya aku sudah jatuh cinta padamu, entah itu kapan mulai timbul perasaan suka padamu," gumam Novia lirih.
Sementara di Amerika sana, tepatnya di las Vegas, Boy tidak seperti dibayangkan Novia. Pria tampan ini agak tertutup pada sosok wanita manapun. Apa lagi dia tidak begitu menyukai gadis bule. Hal itu memicu kecurigaan para staf perusahaannya yang ada di Amerika menganggap kalau boy adalah seorang pria gay.
__ADS_1
Tapi saat pria gay nekat mendekatinya, Boy tidak segan menghardik pria-pria pelangi itu.
"Jangan coba-coba mendekatiku dengan perilaku aneh kalian itu! dasar manusia sampah!" umpat Boy.
Wajah pria pelangi itu langsung pias saat Boy mengeluarkan pistolnya siap meledakkan kepalanya. Sementara anak buahnya Boy yang tersebar di klub malam itu siap menghadang anak buah para hombereng itu.
Boy meninggalkan klub malam itu untuk kembali ke apartemennya. Seorang gadis cantik yang sangat mengenal Boy sejak mereka masih kuliah nampak heran dengan sikap Boy. Pasalnya dia yang menyuruh para pria gay itu menggoda Boy hanya untuk memastikan Boy itu memiliki kelainan se*ksual bukan.
"Sebenarnya dia itu pria seperti apa? sama perempuan dia tidak suka dan pria terlihat jijik. Apakah dia sudah punya kekasih? siapa perempuan hebat itu yang telah mengunci hati Boy?" tanya Kellen sambil meneguk wine miliknya.
"Apa yang terjadi padaku? kenapa wake Novia selalu menghiasi pikiranku? aku tidak menyukainya. Ibunya yang telah merampas semua kebahagiaanku. Ayahku tewas karena melindunginya. Ibuku dibiarkan begitu saja tanpa ayah menikahinya karena wanita yang bernama Nova itu. Andai saja Novia bukan putrinya Nova, aku pasti akan menikahinya," gumam Boy lirih.
Boy memejamkan matanya mengakhiri kesedihannya hari ini walaupun ia tidak pernah menyentuh alkohol di klab itu. Ia datang hanya untuk bertemu koleganya yang selalu minta janji temu di klab malam. Pria tampan ini tidak pernah mau minum di tempat itu karena begitu takut ada yang menjebaknya dengan obat-obatan terlarang. Walaupun sudah lama tinggal di Amerika tidak membuatnya lupa diri.
Tiga bulan kemudian, Boy memutuskan kembali ke Indonesia. Ia merasa lebih tenang menjalani kehidupannya di tanah kelahirannya Indonesia, walaupun sampai saat ini, Boy tidak bisa melupakan kematian ayahnya apalagi perasaan ayahnya yang mencintai Nova sampai mati.
"Baiklah tuan muda. Aku akan menunggu kepulangan anda," ucap Jack sumringah.
"Panggil aku tuan muda saat kita berada di depan orang saja. Lagi berdua, tidak perlu bersikap formal kepadaku," ucap Boy.
"Baiklah Boy. Maafkan Om," ucap Jack lalu mengakhiri obrolan mereka.
Setibanya Boy di Jakarta, Boy sedang duduk di salah satu kafe sambil memainkan ponselnya. Tidak lama kemudian dua temannya menghampirinya dan ketiganya mulai membuka obrolan.
"Apa kamu akan menetap di Jakarta Boy?" Tanya Akmal.
"Aku ingin meneruskan perusahaan ayahku di sini. Aku sudah capek berada di luar negri dengan bertemu orang-orang aneh," ucap Boy membuat temannya merasa ambigu dengan perkataan Boy.
"Maksud kamu apa Boy? bukankah di sana kehidupannya bebas dan mungkin kamu mudah mendapatkan gadis cantik dan seksi," imbuh Rey.
__ADS_1
"Mereka bukan tipikal aku. Aku tidak suka hanya mendapatkan wanita cantik saja. Aku memimpikan wanita yang punya karakter," ucap Boy.
"Maksudmu, kamu menyukai dua gadis yang berjilbab itu? sepertinya dua gadis itu sangat berkarakter," ucap Akmal membuat Boy membalikkan tubuhnya hendak melihat dua gadis yang di maksud Akmal.
Mata Boy mendelik melihat dengan seksama salah satu gadis yang sangat dikenalnya hingga membuat hatinya bergetar.
"Novia...!" batin Boy.
Tepat di saat yang sama, Novia menatap wajah Boy.
"Kak Boy...!" batin Novia hendak beranjak menghampiri Boy namun Boy langsung membalikkan tubuhnya.
Novia begitu ragu untuk menghampiri namun rasa rindunya membuat Novia nekat menghampiri Boy duluan. Boy yang tahu jika Novia akan mendatanginya segera berdiri dan mengajak kedua temannya untuk mampir ke apartemennya.
"Kak Boy...!" teriak Novia sambil berjalan cepat menuju ke arah boy hingga ia menabrak seorang pria tampan.
Prankkkk......
"Eh, sorry. Saya tidak sengaja Tuan," ucap Novia sambil mengatupkan kedua tangannya karena pria itu sedang membawa minumannya hingga gelas itu jatuh dari tangannya.
"Apakah kamu tidak punya mata, hah?" bentak pria itu membuat Novia tercekat.
"Maafkan saya. Tolong jangan marah! saya akan menggantikan minuman anda," ucap Novia ketakutan.
Boy yang melihat perdebatan itu tidak begitu peduli. Sementara pria itu mendorong tubuh Novia hingga jatuh mengakibatkan tangannya tertancap beling dari pecahan gelas itu.
"Auhhghtt....! astaghfirullah...!" pekik Novia kesakitan.
Langkah kaki Boy terhenti saat mendengar teriakan kesakitan Novia.
__ADS_1