Mantan Sugar Baby

Mantan Sugar Baby
34. Mengabaikannya


__ADS_3

Jerit Novia tertahan sambil menangis memegangi pergelangan tangannya. Sahabatnya Seza mengambil saputangan miliknya mengikat ke pergelangan tangan Novia agar darah gadis itu tidak deras mengalir.


Pria yang mendorongnya ingin menolong namun di semprot Seza.


"Pergi loe dari hadapan kita! sekarang puas kamu, hah? senggol sedikit saja kaya dunianya mau runtuh. Cih...! dasar banci..!" umpat Seza lalu membawa Nova keluar dari cafe.


"Kita harus ke rumah sakit karena pecahan beling itu menancap di telapak tanganmu!" pinta Seza.


Boy yang melihat wajah Novia yang meringis kesakitan hanya menatapnya sesaat namun ia memilih mengabaikan keadaan Novia yang jelas-jelas sangat parah dan butuh perhatiannya.


Novia yang melihat Boy berlalu pergi tanpa menghiraukannya, membuat gadis ini merasa sangat sakit. Bahkan lebih sakit diabaikan oleh Boy daripada tangannya yang terluka.


"Astaghfirullah. Segitu bencinya dia pada keluargaku hingga tidak punya hati sedikitpun padaku. Dasar lelaki egois!" umpat Novia.


Seza yang membawa mobilnya Novia menuju rumah sakit milik Vino, ayah kandungnya Novia sendiri. Tangan Novia segera di jahit oleh dokter muda nan tampan yang tidak berhenti mencuri pandang pada Novia.


Tatapan Novia yang kosong hingga tidak memperdulikan tatapan dokter Rafly padanya. Hingga jahitan itu selesai, Novia masih tenggelam dalam lamunannya. Sebenarnya dokter Rafli tidak mengetahui siapa Novia sebenarnya. Memang Vino sengaja meminta para staff tidak boleh memperlakukan keluarganya seistimewa mungkin di rumah sakit miliknya.


"Nona...! Jahitan lukanya sudah rapi. Mau istirahat di sini dulu atau mau pulang?" tanya dokter Daffa.


Novia masih saja melamun dengan wajah terlihat sendu membuat dokter Daffa harus mengulangi lagi kata-katanya.


"Nona Novia....nona Novia...!" panggil dokter Daffa membuyarkan lamunan Novia.


Novia tersentak lalu tersenyum samar pada dokter Daffa."' Eh, sudah selesai ya? terimakasih dokter. Maaf aku jadi melamun," ucap Novia.


"Melamun pacarnya ya nona?" goda dokter Daffa yang usianya tujuh tahun lebih tua dari Novia.


"Melamunkan seseorang yang tidak lagi ku anggap manusia. Aku sangat membencinya. Apakah ada obat untuk bisa melupakan orang yang kita cinta, dokter?" tanya Novia dengan polosnya.


"Ada," jawab dokter Daffa serius.


"Berikan kepadaku!" pinta Novia.


"Apakah kamu mau menerima cintaku, Nona Novia?" tembak dokter Daffa.

__ADS_1


Novia baru sadar kalau saat ini, dokter Daffa sedang naksir berat padanya.


"Sudah. Lupakan saja..! Jangan di dengarkan racauanku tadi. Aku sedang membenci seseorang. Terimakasih dokter. Setahu saya, rumah sakit ini melarang dokter jatuh cinta pada pasiennya apa lagi sesama rekan dokternya," ucap Novia lalu turun dari brangkar.


"Kalau kamu sudah di luar, kamu bukan pasienku lagi. Berarti aku punya kesempatan untuk bisa mendapatkanmu," ucap dokter Daffa.


"Aku belum kepikiran lagi untuk berpacaran. Jangan terlalu memaksaku. Sudahlah dokter. Kenapa dokter jadi mendadak genit seperti ini," ucap Novia lalu menemui sahabatnya Seza.


Dokter Daffa hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Novia yang masih labil." Aku bersumpah akan mendapatkanmu, nona Seza. Aku harus mencari tahu alamat gadis itu," ucap dokter Daffa penuh percaya diri.


"Bagaimana, tangan lo nggak apa, via?" tanya Seza.


"Masih pengaruh obat bius. Aku sudah nggak apa," ucap Novia.


"Tapi Vi, kenapa kamu tidak mau dirawat saja?"


"Aku mau di rumah saja. Dokter Daffa terlihat genit. Malas aku ladenin dokter genit," ucap via masuk ke mobilnya.


Setibanya di rumah, Nova sangat kaget melihat tangan putrinya sudah dibalut kain kasa." Astaghfirullah..! tangan kamu kenapa Novia?" tanya Nova.


"Kenapa bisa kena pecahan beling?" tanya Vino yang sudah ada dibelakang punggung istri dan putrinya.


"Tadi aku jatuh sambil pegang gelas. Nah, gelasnya terlepas terus tangan aku tertancap belingnya," ujar Via.


"Berarti lukanya sudah dijahit? kenapa tidak dirawat saja, sayang?" tanya Vino.


"Tidak mau ayah. Nova cukup minum obat saja. Sudahlah, Nova mau ke kamar dulu ayah," ucap Nova lalu masuk ke kamarnya karena hatinya sedang sakit.


"Nanti kalau mau makan biar mama yang suapin kamu ya sayang," ucap Nova.


"Terimakasih mami. Tapi sekarang Nova mau tidur dulu. Nova masih kenyang karena sudah makan dikafe tadi," ucap Via.


"Baiklah. Kamu istirahat saja," ucap Nova.


Vino terlihat bingung dengan keadaan putrinya. Ia berencana mengetahui sendiri di mana Nova kecelakaan. Ia meminta Hilman untuk menyelidiki kecelakaan Novia di cafe tersebut.

__ADS_1


Sementara Novia sedang menangis pilu dikamarnya mengingat kejadian tadi di mana dirinya dicuekin Boy saat dirinya terluka." Kenapa kamu begitu jahat Boy? kenapa hatimu tiba-tiba mati seperti itu padahal aku sedang terluka parah. Apakah aku harus mati dulu atau anggota keluargaku yang mati dulu baru kamu merasa bahagia, hah?" Bentak Novia sambil menatap wajah tampan Boy lima tahun yang lalu.


Nova meminum obatnya lalu memejamkan matanya. Ia sudah terlalu banyak menangis. Ia tidak ingin lagi memikirkan Boy. Walaupun Boy belum pernah menyatakan cintanya pada Novia, namun gadis itu sudah menyimpan benih-benih cinta pada pria itu sejak lama.


Sementara Boy, masih tidak ingin menghubungi Novia walaupun jauh di dalam hatinya terselip rasa bersalah karena sudah meninggalkan gadis itu dalam keadaan tangannya terluka dan berdarah.


"Ternyata dia makin cantik dan wajahnya itu mirip. sekali dengan ibunya. Aku tidak suka wajah itu," gumam Boy namun tidak dengan hatinya yang merasa rindu pada Novia.


Ucapannya jelas tidak sejalan dengan hati dan pikirannya. Ia ingin mengingkari perasaannya pada Novia karena saat bertemu lagi dengan Novia, gadis itu terlihat sangat cantik menjadi gadis remaja yang sangat mempesona.


Saat malam beranjak larut, tiba-tiba saja Nova mengalami demam tinggi. Ia tidak bisa bangun dan berteriak meminta tolong saja begitu sulit karena suaranya serasa tidak bisa keluar.


Nova yang ingin memastikan keadaan putrinya langsung masuk ke kamar putrinya itu. Nova mendekati Novia yang terdengar sedang mengerang kesakitan dengan tubuh menggigil.


"Novia... Novia...! Astaga. Kenapa tubuhnya sangat panas?" Nova segera memanggil suaminya.


"Daddy...Daddy...! bangun sayang! Keadaan Novia mengalami demam tinggi!" ucap Nova sambil mengguncangkan tubuh suaminya yang sedang terlelap.


Vino bangun sambil mengucek matanya berusaha mengumpulkan kendaraannya dulu." Ada apa baby?" tanya Vino.


"Novia sedang demam tinggi, Dady!" Ulang Nova langsung kembali ke kamarnya Novia.


"Astaga!" Vino berlari menghampiri kamar putrinya. Vino menggendong tubuh putrinya membawanya ke rumah sakit bersama istrinya. Vino membawa sendiri mobilnya.


Setibanya di rumah sakit, Vino disambut oleh dokter jaga di ruang IGD. Dokter senior yang mengetahui Vino sebagai pemilik rumah sakit itu langsung menangani putrinya Vino.


Dokter Daffa yang belum tahu siapa Vino karena ia dokter baru di rumah sakit itu nampak kaget melihat wajah Novia." Lho, bukannya ini Nona Novia yang tadi aku jahit tangannya?" tanya dokter Daffa pada seniornya.


"Kenapa kamu ceroboh sekali, dokter Daffa. Mengapa kamu tidak meminta gadis ini dirawat?" tanya dokter Rian.


"Kenapa kamu sangat marah dan gugup begitu, dokter Rian?" tanya dokter Daffa.


"Karena gadis ini adalah putrinya tuan Vino, pemilik rumah sakit ini," sahut dokter Rian.


Deggggg....

__ADS_1


__ADS_2