
Recky memegang kepalanya yang terasa berat. Ia berjalan menuju kamar mandi dan Jesica bingung menghadapi sikap Recky yang berubah dingin padanya. Walaupun semalam pria itu tidak menyentuhnya sama sekali.
Recky hanya ingin ditemani tidur. Bahkan Recky menangis dalam tidurnya seakan beban hatinya begitu berat melanda jiwa pria tampan itu.
"Ada apa dengan Recky? Apakah penjahat kelamin itu benar-benar jatuh cinta pada seorang wanita yang tidak bisa ia sentuh? ahh...! itu urusannya. Aku bukan siapa-siapa baginya. Aku ke sini hanya memperjuangkan nasib putraku," gumam Jesica lirih.
Recky keluar dari kamar mandi. Ia melihat Jessica hanya sibuk memperhatikan ponselnya. Entah apa yang dilakukan Jesica dengan ponselnya, Recky tidak mau tahu. Jesica memang cantik, tapi hati Recky tidak tersentuh dengan kecantikan Jesica. Di hatinya hanya ada Nova, Nova dan Nova.
Sekarang Recky bisa mengendalikan perasaannya. Menyembunyikan kesedihannya dan kembali memperlihatkan mode datarnya. Recky berusaha mengingat sedikit obrolannya dengan Jesica semalam, tapi tidak semuanya dia ingat.
"Maaf...! aku semalam mabuk. Aku lupa apa yang kamu bicarakan semalam. Apakah kamu bisa mengulangnya lagi?" tanya Recky sambil membuka pintu balkon karena ia ingin merokok. AC kamar itu di matikan olehnya dan dia mengajak Jesica untuk ngobrol di balkon kamarnya.
Jesica menarik nafas panjang lalu menghembusnya dengan lembut. Ia mengumpulkan lagi kekuatannya dan berharap Recky mau menerima putranya. Jesica mengulangi lagi ucapannya semalam dan Recky mendengarkan ucapan gadis itu sambil mengisap rokoknya.
Ia menyerahkan foto pria kecil yang sangat tampan dan sangat mirip dengan Recky. Recky mengamati putranya itu dan tidak ada yang bisa ia ingkari karena wajah putranya Jesica adalah copyan wajahnya yang tidak terbuang sama sekali.
"Jadi kamu menginginkan aku mengasuhnya?" tanya Recky.
"Baiklah. Aku akan mengambil putraku. Darah daging ku. Aku hanya membayar kamu selama mengurusnya dan kamu tidak boleh menemuinya. Hiduplah seperti biasa dan semoga kamu mendapatkan laki-laki baik yang akan menikahimu suatu saat nanti. Saya rasa uang satu miliar itu cukup untuk kamu melanjutkan hidupmu dan jangan pernah mengakui putraku adalah putramu. Jika kamu berani menemuinya maka kau akan berurusan denganku," sarkas Recky yang merasa Jesica datang untuk meminta dirinya menikahi ibu dari anaknya itu.
__ADS_1
"Tidak akan tuan. Ambillah putramu dan aku tidak bermimpi untuk menjadi milik anda," ucap Jesicca sambil meremas pinggir roknya.
Entah mengapa penolakan Recky membuat hatinya sangat sakit. Jika tidak menginginkannya tidak perlu diungkapkan. Dengan begitu tidak akan terasa sakit saat ini. Jesica berdoa agar kelak putranya tidak mengikuti jejak Ayah kandungnya.
Jesica mengambil cek yang sudah ditulis oleh Recky. Ia memberikan alamat rumahnya agar Recky bisa mengambil putranya dan Jesica ingin pergi ke luar kota untuk tidak lagi berurusan dengan Recky dan putranya.
"Permisi Tuan. Aku pulang dulu. Aku tunggu kedatanganmu untuk mengambil putraku. Datanglah saat ia tidur siang pukul satu siang dengan begitu ia tidak melihatku dan akan membuatnya sedih. Jika ia menanyakan aku, rayulah ia dengan es krim dan permainan game karena itu kesukaannya dengan begitu, pikirannya teralihkan dariku," ucap Jesicca lalu beranjak pergi dari unit kamar apartemennya Recky.
Hati Recky begitu mati dengan wanita manapun. Ia tidak peduli dengan Jesica yang nota Bene ibu putranya sekalipun. Toh ia tidak meminta wanita manapun hamil anaknya. Tapi, yang membuat ia kecolongan adalah tidak menggunakan pengaman saat berhubungan dengan Jesica karena gadis itu masih perawan.
...----------------...
Jesica tidak tersenyum sama sekali pada Recky karena hatinya sudah mulai sedikit berdarah karena akan berpisah dengan Recky nama putranya.
"Baby! baik-baiklah dengan ayahmu dan jangan nakal. Cukup Tuhan saja yang mempertemukan kita kembali dengan caraNya," bisik Jesica.
Recky melihat putranya yang sedang tidur dalam pangkuan Jesica. Wajahnya persis seperti wajahnya. Recky tersenyum bahagia melihat ada pewarisnya." Boy. Apakah kamu begitu takut tidak diakui olehku hingga wajahmu mencetak jelas dari wajahku," batin Recky.
Recky menggendong balita empat tahun itu dan pamit kepada Jesica yang menahan tangisnya saat melepaskan putranya." Jangan ganti nomor teleponmu. Jika ada apa-apa dengan aku atau putraku, aku gampang menghubungimu. Terimakasih sudah mengandung dan melahirkan anakku. Lupakan tentang kita karena aku tidak bisa men....-"
__ADS_1
"Tidak usah diucapkan tuan! Aku memang bukan apa-apa untukmu, tapi pernyataanmu itu sangat membuatku sakit walaupun diantara kita tidak saling melibatkan perasaan. Berilah cinta yang banyak untuk putraku karena kehadirannya tidak disertai cinta kecuali cintaku sebagai ibu kandungnya. Jika aku tidak mencintainya mungkin kamu tidak akan menggendongnya saat ini," sarkas Jesica membuat Recky terdiam.
Recky menyadari ucapannya keterlaluan, namun ia hanya bisa menyampaikan apa yang ia rasakan agar Jesica tidak berharap banyak darinya. Recky tidak lagi basa-basi pada Jesica. Ia langsung membawa putranya dan pergi secepatnya dari Jesica.
Tangis Jesica pecah saat mobil mewah Recky membawa pergi putranya. Ia berharap putranya hidup bahagia dengan ayah kandungnya." Maafkan bunda sayang! Bunda tidak berdaya untuk membesarkan kamu dengan keterbatasan bunda. Suatu saat nanti, bunda yakin kamu akan datang pada bunda. Selamat bahagia dengan kehidupan barumu bersama ayah kandungmu," ucap Jesicca sambil terisak.
Setibanya di apartemen, Recky membaringkan putranya di kamar yang sudah di sulap menjadi kamar yang didesain sebagai kamar anak cowok. Di dalam sudah ada televisi dan game agar putranya itu betah. Ada juga kulkas untuk menyimpan es krim dan cemilan lainnya agar putranya tidak perlu ke dapur untuk mengambilnya.
Semua fasilitas mewah berada di kamar putranya itu. Karena nama mereka sama, Recky ingin memanggilnya dengan sebutan Rafky atau boy. Tidak lama kemudian, putranya mengerjapkan matanya dan melihat sekitarnya. Recky tersenyum kepadanya sambil membelai pipi putranya.
"Apa kabar boy!" sapa Recky sambil tersenyum. Boy bangkit dan duduk sambil mengamati wajah ayahnya yang persis seperti dirinya.
"Apakah kamu adalah ayah angkatku yang dikatakan bunda?" tanya boy dengan polosnya membuat hati Recky begitu sakit.
"Aku bukan ayah angkatmu sayang. Aku adalah ayah kandungmu," ucap Recky menjelaskan statusnya pada putranya.
"Oh, berarti ayah sudah pulang dari luar negeri karena tugas ayah yang sedang berperang?" tanya boy lagi karena bundanya yang bercerita seperti itu.
Orang yang ada di medan perang tidak bisa pulang dengan sesuka hatinya. perkataan itu yang diingat oleh Boy.
__ADS_1