
Tujuh bulan sudah usia putranya Novia dan Boy yang saat ini sudah belajar duduk. Sementara Viona sedang menantikan kelahiran putri pertamanya yang di sudah diprediksi berjenis kelamin perempuan. Karena kelahiran bayinya hanya menunggu hari saja, membuat kedua mertuanya saat ini menghentikan aktivitas mereka sementara waktu agar bisa melihat wajah cucu mereka.
"Ayah. Bunda sudah tidak sabar untuk menggendong cucu," ucap nyonya Mona saat keduanya sedang joging pagi.
"Sama bunda, ayah juga. Ayah merasa sudah waktunya mengurangi aktivitas ayah agar bisa lebih menikmati peran ayah menjadi seorang kakek," timpal tuan Akmal.
"Nanti saja ayah, kalau cucunya sudah bisa di ajak main. Kita gantian saja menjaga cucu kita karena Viona pasti ingin berkarir mengurus perusahaan ayahnya," ucap nyonya Mona.
"Iya sayang. Lagi pula, mbak Nova sudah mengurus bayinya Novia, pasti dia tidak bisa menghandle kedua cucunya dalam waktu bersamaan karena mereka tidak ingin menggunakan jasa baby sitter," imbuh tuan Akmal.
"Ayo sayang kita pulang. Ayah sudah capek lari pagi," ucap tuan Akmal berjalan dengan cepat menuju mansion miliknya.
Setibanya di mansion, terlihat Kenzo sedang menggendong Viona membawa ke mobilnya. Sontak saja kedua suami istri itu sangat syok.
"Kenzo. Apa yang terjadi pada Viona sayang?" tanya Nyonya Mona melihat wajah Viona tampak sangat pucat.
"Ketubannya Viona sudah pecah diikuti darah yang terus mengalir bunda," ucap Kenzo.
"Astaga. Bisa-bisa Viona brojol di jalan, Kenzo. Viona. Kamu masih kuat sayang?" tanya nyonya Mona yang sudah berada di dalam mobil bersama putra dan menantunya. Ia tidak sempat lagi untuk mengganti baju maupun mandi.
Beruntunglah kediaman mereka dekat dengan rumah sakit milik Vino. Jadi bisa dijangkau dengan cepat. Viona segera ditangani dokter spesialis kandungan. Kenzo juga menemaninya di dalam sana. Sementara kedua mertuanya menunggu di ruang tunggu khusus untuk keluarga Vino.
Tidak lama kemudian Vino dan istrinya menyusul. Mereka hanya bersalaman dan tidak terlalu banyak berkomentar karena suasana terasa tegang.
"Apakah Viona tidak merasakan kontraksi sebelumnya?" tanya Vino cemas karena Viona adalah putri kesayangannya.
"Viona tidak mengeluh sakit apapun saat kami tinggalkan joging. Ia masih sempat makan sarapannya. Dan ketika kami pulang joging melihat Viona yang sudah terlihat pucat karena ketubannya pecah dan darah mengalir begitu saja," tutur nyonya Mona.
Cek.. lek...
Pintu ruang bersalin terbuka. Terdengar suara tangis bayi di dalam sana sangat keras. Hati keluarga Vino terasa lega. Sementara dokter mengabari keadaan Viona dan bayinya selamat dari proses persalinan yang cukup menegangkan karena Viona mengalami pendarahan namun semuanya bisa di atasi dengan baik. Dokter menemui keluarga Vino.
"Alhamdullilah tuan, nyonya. Cucu kalian telah lahir dan berjenis kelamin perempuan.
"Terimakasih dokter Bella. Kapan kami bisa melihat cucu kami?" tanya Nyonya Mona tidak sabaran.
"Mungkin setengah jam lagi karena baby-nya sedang dirapikan susternya. Permisi saya tinggal dulu," ucap dokter.
__ADS_1
"Terimakasih dokter Bella!" ucap mereka bersamaan.
"Mbak Nova. Akhirnya aku juga punya cucu sendiri. Nanti kita besarkan cucu kita bersama-sama ya!" pinta nyonya Mona yang tak mau egois.
"Iya jeng. Atur saja bagaimana baiknya," ucap Nova.
"Mami ..!" panggil Novia menghampiri kedua orangtuanya dan mertua adiknya.
"Sayang. Viona sudah melahirkan dengan selamat. Bayinya perempuan," ucap Nova.
"Alhamdullilah. Pasti cantik seperti Tante Mona," puji Novia sambil tersenyum pada Tante Mona.
"Ihh...kamu bisa saja deh Novia," balas nyonya Mona tersipu malu mendengar pujian Novia.
"Silahkan kalau mau melihat bayinya! Ibu dan bayinya sudah dipindahkan ke kamar inap pribadi," ucap dokter Bella.
Keluarga itu segera melangkah menuju lift. Mereka ke lantai kamar Viona di rawat. Boy datang dengan bayinya bernama Recky. Ia sengaja ingin anaknya dinamakan dengan nama ayahnya karena ia sangat mengidolakan mendiang ayahnya.
Kenzo dan Boy bersalaman. Rona kebahagiaan terlihat dari anggota keluarga itu. Tidak lama kemudian, Hani dan Vian datang bersamaan.
"Selamat sayang! kamu sudah menjadi ibu!" ucap Vino yang sempat syok mendengar putrinya pendarahan.
Keluarga itu mulai bebicang apa saja. Nyonya Mona sibuk memperhatikan wajah cucunya yang memang mirip sekali dengannya.
"Viona. Tebakanmu benar sayang. Cucuku sangat cantik karena mirip dengan wajahku," ucap nyonya Mona.
"Ihh...! bunda. Air laut siapa yang asinin, suka muji diri sendiri," sindir Hani membuat semuanya terkekeh.
...----------------...
Setahun kemudian, Boy memboyong keluarganya ke Bali. Ia ingin bertemu dengan ibunya yang selama ini masih saja ngambek padanya. Jesicca tidak pernah mau menerima telepon dari putranya apalagi menantunya Viona.
Saat itu, Jesicca sedang menyiram tanamannya yang ada di taman belakang. Seorang pelayan menerima kedatangan Boy yang menanyakan keberadaan ibunya. Pelayan itu sangat kaget melihat kedatangan Boy dan hampir memanggil Jesica namun dicegah oleh Boy.
"Tuan Boy....!" sambut pelayan Dea.
"Nyonya...tuan Boy...-"
__ADS_1
"Ssssttt...!" tolong jangan panggil bundaku, bibi Dea. Di mana bundaku? aku ingin memberinya kejutan," ucap Boy.
"Nyonya ada di belakang Tuan! sedang menyiram tanaman," ucap pelayan Dea.
"Biarkan aku dan keluargaku menemui bunda," ujar Boy sembari mengajak istrinya yang sedang menggendong putra mereka Recky.
"Omanya di mana, papa?" tanya Recky nggak sabaran ingin ketemu ibu kandung ayahnya.
"Itu sayang. Recky samperin Oma!" titah Boy.
"Iya papa."
Recky menghampiri Jesica yang sedang memakai handset sambil menyiram tanamannya memunggungi tamu istimewanya.
"Oma...!"
"Oma...!"
"Omaaaa!" teriak Boy lebih kencang lagi saat Omanya tidak begitu mendengar panggilannya.
Merasa ada suara anak kecil yang memanggilnya, Jesicca menghentikan kegiatan menyiramnya dan membalikkan tubuhnya secara perlahan. Wajahnya syok melihat melihat wajah Recky yang sangat mirip dengan Boy saat masih kecil. Matanya kembali beralih menatap kedua orangtuanya Recky, lalu menatap lagi Recky yang tersenyum padanya begitu manis. Jesica merentang kedua tangannya menyambut cucunya.
"Sayang. Peluk Oma!" pinta Jesicca sambil berlinang air mata.
Jesica mengendong cucunya Recky dan mencium pipi cucunya bertubi-tubi. Boy dan Novia saling menatap dan berpelukan penuh haru." Ternyata seorang nenek tidak bisa berbuat apa-apa jika bertemu dengan cucunya," ucap Novia.
"Itulah cara Allah mengetuk pintu hati orangtua yang sangat keras kepala seperti bundaku," ucap Boy.
"Ayo kita minta maaf sama bunda!" ajak Novia.
"Iya sayang." Menyalami bundanya dan mencium tangan lembut wanita yang telah melahirkan dirinya.
"Bunda. Maafkan Boy bunda!" ucap Boy sambil berurai air mata.
"Bunda sudah memaafkan kamu, sayang. Bunda yang salah. Maafkan bunda ya Novia!" pinta Jesicca pada Novia yang ikut menangis.
Novia memeluk ibu mertuanya, di mana Boy sedang memeluk bundanya kini. Keluarga itu terlihat sangat bahagia karena saling memaafkan satu sama lain.
__ADS_1
.....
TAMAT