
Lekukan bibir Boy terukir indah namun tetap mengatup penuh rasa haru, saat melihat istri yang baru dinikahinya itu sudah sadar dari masa kritisnya. Mungkin Evoria jiwanya yang sudah mendapatkan kebutuhan batinnya yang selama ini ia rindukan tentang cinta pangeran yang menghiasi lamunannya kala sendirian dalam suasana sepi.
Wajah Novia yang awalnya sudah nampak marah karena merasa dilecehkan seseorang tiba-tiba terdiam menatap wajah pria tampan yang membuat ia berada dalam kepedihan karena sikap Boy yang tidak peduli pada dirinya saat telapak tangannya terluka parah.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" bentak Novia terlihat emosi yang mulai menguasai kesadarannya.
"Via...aku dan kamu sudah....-"
"Keluar...pergi dari hadapanku..! Kamu tidak peduli dengan hidupku bukan? untuk apa ke sini? mau membuatku makin sakit?" tanya Novia dengan suara terdengar parau.
"Novia. Aku datang untukmu ingin menebus kesalahanku padamu. Aku minta maaf sayang. Aku telah membuat kamu kecewa berat padaku karena keegoisanku yang sudah keterlaluan padamu," ucap Boy.
"Oh, jadi itu sebabnya kamu nekat masuk ke kamarku dan berani melecehkan aku ketika tidak ada kedua orangtuaku di sini, begitukah?" sarkas Novia membuat Boy hanya bisa menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Aku bukan hanya mau melecehkanmu saja bahkan aku ingin menidurimu. Dengan begitu aku akan menikmati tubuhmu yang molek itu," goda Boy dengan seringai liciknya.
Novia memeluk tubuhnya sendiri dengan rasa ketakutan lagi panik. Tetapi sesaat kemudian ia merasakan baju yang dikenakannya tidak seperti baju pasien atau bajunya sendiri. Dan aroma ditubuhnya terasa sangat wangi bahkan sangat menenangkan.
"Kenapa pakaianku seperti ini," tanya Novia sambil merasakan jilbabnya tidak lagi melekat di kepalanya.
"Apa yang terjadi padaku? di mana mami dan daddy? Mengapa aku ditinggal bersama dengan lelaki berengsek ini," umpat Novia dengan mengumpulkan tenaganya.
"Jangan mengumpat suamimu sendiri, baby!" ucap Boy membuat Novia tersentak.
"Suami...?" tanya Novia masih bingung dengan keadaan ini. Mengapa boy nekat mengakui dirinya adalah suami untuknya.
"Iya sayang. Kita baru saja menikah. Aku ingin mengurusmu sendiri. Aku ingin menyentuhmu dengan kedua tanganku dan juga bibir dan mulutku. Dan untuk itu kau harus aku halalkan terlebih dahulu," ucap Boy namun Novia merasa Boy sedang membohonginya.
Boy membuka rekaman video pernikahan mereka yang barusan saja terjadi dua jam yang lalu. Ia menyerahkan ponselnya dan Novia menerimanya dengan ragu.
__ADS_1
"Lihatlah sayang! Daddymu sendiri yang menikahkan kamu padaku," ucap Boy sambil berdiri di samping Novia dan membelai rambut istrinya dengan penuh kasih sayang.
Novia tidak sanggup menahan air matanya bagaimana Daddy-nya menasehati Boy untuk tidak menyakiti dirinya dan cukup Boy melampiaskan amarahnya pada sang ayah.
"Daddy," desis Novia sambil terisak.
"Maaf sudah membuat kamu terkejut. Apakah kamu mau menerima aku sebagai suamimu?" tanya Boy namun Novia masih terbungkam.
Boy menarik nafas berat. Ia bingung harus berkata apa pada Novia karena dirinya benar-benar canggung berhadapan dengan wanita secantik gadis yang ada dihadapannya saat ini.
"Baiklah. Kalau kamu masih meragukan cintaku padamu, aku akan menunggu kamu dan tidak mengusik kamu lagi. Tapi, aku boleh merawat kamukan?" tanya Boy.
Novia hanya terdiam. Ia bingung dengan perasaannya sendiri. Apakah harus senang ataukah sedih saat ini. Yang jelas ada perasaan yang meletup-letup didalam dadanya.
"Sayang. Aku pasang lagi jilbabnya ya! kamu harus di periksa dokter dulu supaya kamu bisa makan," pinta Boy lalu memasang hijab Novia yang sudah ia pelajari dari Nova.
Boy memencet tombol nurse call untuk memanggil dokter. Tidak lama dokter dan suster datang bersamaan. Mereka begitu senang melihat Novia sudah sadar.
"Terimakasih dokter!" ucap Boy yang tidak ingin dokter becanda dengan istrinya. Tampangnya juga 8kutan dingin seperti halnya Novia.
"Baik. Kami permisi dulu nona Novia, tuan," ucap dokter Gunawan.
"Cleaning servis!" teriak Yoga yang sedang mengantarkan makanan untuk Novia dan juga untuk Boy yang sudah memesan juz untuknya.
"Silahkan nona!" Yoga meletakkan piring makanan di atas meja kecil milik pasien.
Boy menyuapkan makanan untuk istrinya dan Novia membuka mulutnya malu-malu pada Boy. Rasanya seperti mimpi disiang bolong. Pria tampan ini yang baru saja kemarin mengoyak hatinya, tiba-tiba sekarang menjadi suaminya. Semuanya terasa mendadak untuknya saat dirinya belum mempersiapkan diri untuk menerima Boy kembali walaupun alam bawah sadarnya menginginkan Boy.
Hati dan mulutnya tidak sinkron sama sekali. Walaupun mulutnya menolak boy namun tidak dengan hatinya yang tidak bisa dibohongi. Beruntunglah, Boy lebih percaya alam bawah sadar Novia daripada mulut gadis cantik itu.
__ADS_1
"Sudah kak. Aku tidak mau lagi," tolak Novia yang merasa mulutnya masih terasa pahit.
"Baiklah. Yang penting kamu sudah makan biar bisa minum obat. Apakah kamu pingin ketemu mami dan daddy?" tawar Boy.
"Tidak usah. Nanti saja. Pasti mami dan Daddy juga kelelahan menunggu aku. Biarkan mereka istirahat karena usia mereka sudah tua," ucap Novia.
"Mami dan daddymu malah masih terlihat awet muda. Bahkan mereka menolak untuk tua. Aku berharap kita juga akan seperti mereka jika seusia mereka," ucap Boy sambil memberikan obat untuk Novia minum.
Novia meminum obatnya lalu minum air putih lebih banyak." Mmm..! pintarnya istriku. Semoga cepat sembuh ya sayang," ucap Boy lalu memeluk Novia penuh kelembutan.
Novia begitu bahagia. Rasa rasa kehangatan di dalam jiwanya. Rasa ingin disayang dan dilindungi. Rasa inilah yang selalu ada dalam angannya setiap kali merindukan Boy.
Boy tersenyum bahagia saat melihat istrinya tidak menolaknya." Kamu kira aku tidak tahu apa yang kamu mau, baby?" batin Boy terkekeh di dalam hatinya.
"Mau tidur lagi atau mau ngobrol, hmm?" tanya Boy.
"Aku inginkan ponselku. Apakah mami tidak membawa ponselku?" tanya Novia dengan nada manjanya.
"Siapa yang mau kamu hubungin? bukankah aku yang kamu rindukan?" goda Boy membuat Novia tersipu malu walaupun ia tidak begitu memperlihatkan rasa butuhnya pada Boy.
"Tidak telepon siapa-siapa. Aku hanya ingin nonton film kesukaanku saja," ucap Novia.
"Kalau begitu, kamu pakai ponselku saja. Apakah kamu mau?" tanya Boy.
Novia mengangguk malu-malu dan Boy menyerahkan ponsel miliknya namun Ada sandinya. Ini ada sandinya kak," ucap Novia.
"Kamu mau nonton film apa? aku akan carikan buatmu," ucap Boy.
"Film romantis saja kak," pinta Novia.
__ADS_1
"Apakah aku boleh tidur di sampingmu? supaya kita bisa nonton bersama?" tanya Boy.
Deggggg...