Mantan Sugar Baby

Mantan Sugar Baby
45. Baru Menyadari


__ADS_3

Boy kembali lagi menemui bunda Jesicca dengan membawa Novia bersamanya ke apartemen ayahnya. Pagi itu, Novia tampak cantik mengenakan blus dan rok dengan warna senada berwarna krem dan jilbab coklat susu.


Tak lupa ia membawa buah tangan yang ia beli untuk mertuanya. Kini keduanya sudah berada di depan unit pintu apartemen miliknya Boy.


Tangan Novia terasa sangat dingin dengan jantung yang makin membuat kegelisahannya bertambah.


Boy yang tadi merangkul pinggang istrinya kini berganti menautkan jemarinya disela jemarinya Novia." Baby! kenapa tanganmu sangat dingin? apakah kamu gugup? apapun yang akan dikatakan oleh bunda padamu, jangan dimasukkan ke hati! cukup lihat aku seorang dan aku yang hidup menua bersamamu. Jadi, percayalah padaku karena aku sangat mencintaimu," ucap Boy menenangkan Novia.


"Insya Allah sayang. Aku percaya padamu. Hanya saja jantungku sulit dibujuk," ujar Novia sambil tersenyum kecut saking tegangnya menghadap ibu mertuanya.


Sebenarnya, Boy bisa saja membuka sendiri pintu kamar unit apartemennya, hanya saja ia harus menghargai ibunya. Boy juga sudah memastikan perempuan yang dibawa ibunya sudah kembali ke Denpasar. Dengan begitu Novia bisa tenang menghadapi ibunya Boy itu.


Pintu dibuka dan muncullah Jesica, perempuan cantik yang usianya tidak jauh dengan Nova, ibu kandungnya Boy.


Novia mengucapkan salam pada Jesica yang terlihat sinis menatap Novia dari ujung kaki hingga ujung jilbab gadis itu.


Walaupun kecantikan dan penampilan Novia hampir sempurna, namun ada saja celaan yang dilontarkan Jesica pada gadis itu.


"Bunda. Ini Novia, istrinya Boy. Novia ini bunda. Semoga kalian akrab ya!"' ucap Boy. Novia menyalami tangan ibu mertuanya lalu menciumnya dengan takzim.


"Maaf bunda, baru bisa menemui bunda sekarang," ucap Novia basa-basi. }

__ADS_1


"Silahkan masuk!" ucap Jesicca lalu duduk di sofa sambil menopang satu kakinya ke kaki lainnya.


"


"Bunda. Novia bawakan bunda kue. Dicoba ya! Novia potong ya!" ucap Novia sambil tersenyum.


"Apakah kamu buat kue itu sendiri, Novia?" tanya Jesica saat Novia sudah memotong kue itu yang diletakkan dipiring.


"Maaf bunda. Kue ini Novia beli untuk bunda. Novia belum sempat menanyakan apa yang menjadi kesukaan bunda," tutur Novia memberikan alasan.


"Begitukah? Bunda sih tidak heran jika seorang putri tidak akan mungkin turun ke dapur untuk memasak makanan kesukaan suaminya. Apa lagi untuk ibu mertuanya," sinis Jesicca namun Novia sudah mempersiapkan diri.


"Bunda. Kenapa harus mencemoohku hanya ingin membuatku sakit hati. Sekalipun bunda melontarkan kata-kata yang menohok agar aku sakit hati, bunda salah karena suamiku, putra bunda sudah mengantisipasi sebelum aku ke sini. Dan aku sudah menduga ini akan terjadi. Buat Novia, cinta kak Boy bisa mengusap luka yang baru saja bunda mulai torehkan. Karena kedengkian masih ada dihati bunda, jadi apapun yang terdapat pada diriku dan yang aku lakukan terbaik sekalipun, bunda tidak akan menghargainya," sarkas Novia membuat Jesica naik pitam.


"Siapa yang mengajari aku kurangajar, saat ini? bukankah Bunda yang mulai menyulut api permusuhan denganku? aku hanya membalas apa yang bunda baru mulai dan langsung meredupkan apinya sebelum lebih jauh membakar jiwa bunda," ucap Novia tampak tenang.


"Boy. Lihatlah sikap istrimu yang telah lancang kepada bunda!" sergah Jesica.


"Boy sudah katakan kepada bunda walaupun bunda ibu kandungku, bukan berarti Boy akan diam saja saat bunda mulai menyerang Novia secara verbal. Jika Novia membalas bunda, itu tidak salah bunda. Jaman sekarang anak menantu tidak akan harus mengalah pada ibu mertuanya," imbuh Boy.


"Boy. Apakah kamu harus kurangajar sama bunda karena gadis ini, hah?" bentak Jesicca.

__ADS_1


"Bunda yang mulai duluan. Boy tidak akan kurangajar kalau bunda tidak duluan. Apakah kami harus diam saja mendengar bunda seenaknya menyindir Novia. Salah dia sama bunda apa? baru saja ketemu sudah berkata kasar. Halus sih! tapi kuping dengarnya juga sakit. Apakah Bunda kecewa karena Boy menolak menikah dengan gadis pilihannya bunda? makanya bunda utarakan sakit hati bunda pada Novia dihadapan Boy dan Boy harus diam saja dan pura-pura tidak mendengar begitu? Novia juga putri seseorang bunda. Bagaimana mungkin bunda merasakan sakitnya di maki mertua kalau bunda sendiri tidak pernah menjadi menantu siapapun, iyakan?" pekik Boy membuat Jesicca tidak bisa menahan dirinya untuk menampar putranya.


Plakkk....


Wajah Boy terlempar ke samping. Dan kembali menatap wajah ibunya yang terlihat menyesal melakukannya.


"Saya memang putranya bunda. Tapi, saya dibesarkan oleh ayah yang sama sekali tidak pernah mengeluarkan kata kasar apalagi menampar Boy, bunda. Walaupun Boy selalu membuat ayah kesal. Sekarang Boy baru tahu, mengapa ayah tidak ingin menikahi bunda karena masih ada kedengkian dalam hati bunda yang membuat ayah tidak tersentuh dengan apapun yang terdapat dari dalam tubuh bunda kecuali bagian dari bunda adalah Boy sendiri. Ayo Novia! kita pulang sayang!" ajak Boy.


Novia juga gelagapan sendiri lalu segera bangkit dari duduknya berjalan lebih dulu usai pamit pada ibu mertuanya yang masih berdiri tegang dengan mata berkaca-kaca mendengar ocehan putranya.


Jika Novia yang kurangajar duluan pada bunda, mungkin Boy akan menghukumnya dan karena bunda yang lebih duluan mulai menjatuhkan Novia, jelas saja Boy tidak akan mentolerir sikap bunda pada Novia. Bukan berarti Boy membelanya, tapi Boy ingin bunda tidak ngelunjak kepada istrinya Boy," ucap Boy dengan tenang.


Jesica jatuh terduduk di sofa dengan tubuh bergetar hebat. Hatinya sangat sakit mendapati kenyataan kalau putranya berani menghinanya dan lebih mengagungkan ayahnya sendiri.


"Dia memang membesarkan kamu Boy, tapi bunda yang susah mengandung dan melahirkan kamu nak. Apakah bunda pantas mendapatkan hinaan darimu seperti ini sayang?" keluh Jesica lalu menangis histeris meluapkan semua kekesalannya pada sang menantu dan putranya sendiri.


Sementara Boy yang ada di dalam mobil dengan Novia terlihat kesal hingga memukul beberapa kali stir mobilnya sendiri sambil mengumpat kata-kata kasar untuk meredakan emosinya yang saat ini membuncah.


Novia hanya bisa menarik nafas dalam-dalam karena ia juga telah memperkeruh keadaan. Tapi kalau didiamkan saja mendengar celoteh ibu mertuanya, terus terang ia tidak sanggup. Satu-satunya cara untuk membungkam mertuanya adalah menegurnya cara halus namun kena ke hatinya. Itupun masih dianggap salah.


"Boy. Maafkan aku!" ucap Novia sambil mengigit bibirnya.

__ADS_1


Boy menatap istrinya yang tertunduk takut. Ia menarik jilbab Novia hingga terlepas dan menarik tengkuk Novia mendekati wajahnya.


Boy memagut bibir Novia dengan rakus seperti pria yang ingin memperkosa korbannya. Novia gelagapan menyambut serangan Boy hingga ia hanya bisa pasrah dengan kelakuan suaminya. Beruntunglah malam gelap dengan kaca film mobil yang terlihat dari luar gelap. Tanpa sadar, ciuman Boy sudah beralih pada belahan dada Novia.


__ADS_2