Mantan Sugar Baby

Mantan Sugar Baby
16. Gagal Malam Pertama


__ADS_3

Entah mengapa Hilman begitu emosional saat ini karena bisa berjumpa lagi dengan Nova yang sudah dianggapnya seperti adiknya sendiri. Ia terus saja menyeka air matanya karena sangat terharu.


Apa lagi Nova memintanya menjadi saksi pernikahan dadakan yang diadakan oleh Vino malam ini. Usai pernikahan itu, Hilman harus mengantar lagi pak penghulu dan asistennya ke rumah mereka. Bayaran yang diterima pak penghulu yang tak terkira. Hanya menikahkan pasangan itu, pak penghulu dibayar oleh Vino seratus juta.


Bagi Vino, uang segitu tidak seberapa, dibandingkan dengan kebahagiaan yang dirasakannya malam ini." Baby...! Lengerie milikmu masih tertata rapi di lemari. Semoga masih muat dengan tubuhmu. Bersiaplah sayang! sepuluh menit lagi aku akan mendatangimu." Ucap Vino.


"Baik Daddy." Senyum Nova terlihat kecut saat ini. Rasanya ia baru bertemu dengan Vino. Rasanya bagian masalalu adalah bagian mimpi buruknya.


Mendapat permintaan suaminya, jantung Nova seakan mau berhenti saat ini. Nafasnya memburu dan tangannya bergetar. Walaupun pernah menjadi sugar Babynya Vino, tapi rasanya sangat jauh berbeda dengan momen ini yang sudah mengubah statusnya yaitu istrinya Alviano. Apalagi kesucian Nova yang masih terjaga sampai saat ini.


Apa yang dirasakan Nova, sama persis dengan Vino saat ini. Ia melonggarkan dasinya karena sempat mengenakan pakaian resmi saat melakukan ijab qobul tadi. Hatinya terasa gelisah sambil menggaruk kepalanya yang terasa tak gatal. Pasalnya, gadis yang dia hadapi bukan lagi gadis yang bisa ia pecundangi dulu. Nova adalah sosok gadis hebat nan super cantik dengan segudang ilmu agama yang mengatur hidupnya menjadi lebih baik saat ini.


"Ya Allah. Kenapa aku sangat gugup? bukankah Daddy sudah pernah melihat semuanya." Lirih Nova sembari mengambil lengerie warna merah. Nova segera mengenakan lengerie seksi tersebut dan mematuk lagi penampilannya di depan cermin.


Kini ia terlihat sangat cantik dengan tubuhnya yang terlihat lebih berisi. Apalagi dadanya yang sudah berganti nomor bera yang tidak sama saat ia masih usia belasan. Nova keluar dari ruang ganti lalu mengambil ponselnya untuk memutar lagu instrumen yang romantis.


Vino membuka pintu kamar itu, melihat wanitanya dibawah cahaya lampu yang masih terang. Dada Vino terasa berdenyut kencang, menahan sesak karena limpahan bahagia sedang menindih kalbunya.


"Baby." Suara Vino terdengar parau saat melihat kaki jenjang putih mulus dengan pangkal paha yang terlihat menggiurkan. Mata Vino beralih ke bagian atas dada dengan tumpukan lemak padat seakan menggodanya untuk di sesap. Harum tubuh Nova membius semua panca Inderanya Vino.


"Baby...!" Hanya kata itu yang mampu Vino ucapkan saat ini karena lidahnya terasa kaku untuk menyusun kalimat indah sebagai bentuk pujian pada tubuh Nova yang sangat berbeda saat dirinya masih bersama dengan gadis itu lima tahun yang lalu. Bagian dada dan bongkahan bokong milik Nova yang terlihat lebih besar dari usia remajanya Nova saat itu.

__ADS_1


Vino setuju jika Nova menutupi kecantikannya yang maha dahsyat dengan pakaian syar'i-nya. Jika tidak, gadis ini akan menjadi incaran para penjahat kelamin.


Keduanya sudah saling mendekat dengan tubuh bergetar hebat. Tungkai kaki Nova rasanya sudah lemas saat Vino meraih pinggangnya lalu memeluknya erat." Baby. Ini seperti mimpi bagiku. Kamu ada di hadapanku malam ini sebagai pengantinku." Air mata Vino kembali merebak.


Nova pun tergugu karena melihat suaminya menangis lagi. Vino menggesekkan wajahnya di pipi istrinya . Ia mencium kening, pipi, mata dan berakhir dibibir gadis itu.


Ciuman kerinduannya selama ini yang menjadi fantasinya yang bisa menjadi pelipur laranya. Ciuman itu sudah bercampur dengan air mata mereka.


"Nova. Jangan pergi lagi dari hidupku, baby! Tidakkah kau tahu hatiku mati rasa pada setiap wanita kecuali saat aku bertemu lagi dengan wanita yang bernama Novi. Rupanya Aku telah jatuh cinta pada wanita yang sama." Ucap Vino sambil terkekeh dengan air matanya yang masih mengalir.


Vino menggendong tubuh Nova yang langsung berkoala padanya. Ia merebahkan tubuh molek itu lalu membaui lekukan leher jenjang Nova cukup lama di sana karena ingin memberikan cetakan titik-titik merah dikulit putih itu.


Nova mengerang nikmat saat Vino meremas dua aset gunung saljunya yang lebih tinggi dan montok saat ini. Vino mengisap dan menjilat secara bergantian dengan sangat lama ditempat yang dulu menjadi candunya.


Ia memukul punggung Vino untuk segera membebaskan dirinya dari ciuman panas. Vino segera melepaskan nya dan beralih ke tempat terakhir yang ingin dilihatnya. Nova merasa ada sesuatu yang mengalir deras di bawah sana dengan gumpalan yang menerobos keluar dari dalam rahimnya.


"Oh tidak." Panik Nova segera bangkit dengan mendorong pelan tubuh Vino.


"Daddy. Sepertinya saat ini aku sedang haid." Ucap Nova membuat mata Vino terbelalak seakan keluar dari porosnya.


"What Baby...?" Wajah itu memerah sambil berdiri. Nova segera ke kamar mandi.

__ADS_1


"Daddy...!" Teriak Nova dari dalam bathroom itu.


"Iya Baby."


"Tolong pesan pembalut untukku lewat ojol." Pinta Nova memelas dengan rengekan manjanya.


"Astaga, Nova. Kamu masih saja tidak berubah dengan rengekan manja mu itu. Tapi, hal itu yang sangat aku rindukan, Nova," batin Vino.


"Iya baby!" Vino mengambil ponselnya lalu menghubungi ojol untuk memesan apa yang dibutuhkan oleh Istrinya.


"Sial. Setelah sekian lama menanti dengan sabar hati. Kenapa masih saja diuji." Gerutu Vino kesal.


Tidak lama ojol datang dengan membawa pesanan untuk Nova. Vino segera membayarnya dan langsung membuka pembalut itu dan mencari CD dan piyama tidur Nova yang masih tersimpan rapi di lemarinya. Ia memberikan pada istrinya yang masih bertahan di kamar mandi dengan darah yang sudah mengalir di kakinya Nova.


Vino membuka lengerie Nova dan semua yang melekat ditubuh gadis itu. Ia sendiri yang membersihkan tempat sensitif istrinya dengan selang shower tanpa merasa jijik. Dulu ia sering memandikan gadis itu dan sekarang baginya sama saja dan itu yang sangat ia rindukan momen yang kembali terulang lagi.


Nova tidak ingin protes pada Vino yang ia tahu pria itu tidak ingin dibantah. Beberapa menit kemudian. Nova sudah memakai piyama tidurnya.


"Sudah merasa enak, baby?" Tanya Vino sambil menyuapkan coklat ke mulut Nova. Vino sudah hafal kalau Nova sedang menstruasi, selalu memakan coklat untuk mengurangi sakit perut gadis itu..


Yang ditanya malah menangis sesenggukan." Kenapa menangis Baby? apakah perutmu sangat sakit?"

__ADS_1


"Aku menangis karena Daddy. Perhatian Daddy tidak pernah berubah. Itulah yang membuat Nova menolak semua perhatian dan cinta laki-laki lain."


Vino terkekeh walaupun ia juga ikut menangis mendengar pengakuan istrinya. Ia memeluk lagi istrinya membenamkan wajahnya Novake dalam dadanya." Aku sangat beruntung memiliki kamu, baby. Apapun yang kamu inginkan, aku dengan senang hati akan memberikannya. Sekalipun itu dengan nyawaku.


__ADS_2