
“Terus, bagaimana dengan Aresya, di mana dia sekarang?” tanya Davino menatap Omanya dengan tatapan memburu. “Tolong beri tahu Oma, aku sangat merindukannya,” ucap Davino dengan tatapan berharap.
“Ia tidak ada lagi di dunia ini,” ucap Ny. Marisa.
Davino terdiam, mendengar jawaban dari Ny. Marisa, napasnya seakan-seakan tersendat, rongga dadanya terasa terbakar, matanya panas dengan gumpalan air di sudut mata yang hampir tumpah, Davino menatap tajam, merasa tidak percaya dengan apa yang ia dengar.
“A-a-apa maksudnya oma, aku tidak mengerti?” ucap Davino terbata-bata dengan bibir bergetar, ia belum yakin dengan apa yang ia dengar.
Areyani masih menunduk, sesekali tangannya menyeka buliran-buliran air dari matanya.
"Dia sudah… meninggalkan dunia ini Davino, dia sudah pergi ke tempat yang jauh,” ucap Ny.Marisa.
“Tidak mungkin, kalian semua berbohong, aku tidak percaya Aresya meninggalkan dunia ini, aku masih merasa kalau ia masih ada di dunia ini, bahkan aku bisa merasakan detak jantungnya berdetak dengan cepat setiap kali aku menyebut namanya,” ucap Davino dengan yakin, karena ia merasa ada Aresya saat itu.
Marisa menarik nafas dengan berat, matanya menatap Areyani dengan tatapan sedih seakan-akan berat untuk mengucapkannya.
“Itu karena hatinya ada di sama saya,” ucap Areyani , ia mengaku, melihat pada Davino.
“Apa maksudnya?” tanya Davino menatap dengan tajam degan mata berkaca-kaca.
“Aresya mendonorkan hatinya untukku ,”
“Apa? kamu membunuhnya dan mengambil hatinya?”
“Tidak ada yang seperti itu pak Davino”
“Tidak ada bagaimana? Seharusnya kamu yang mati kenapa harus dia, kamu dan oma membunuhnya dan mengambil itu darinya” ucap Davino.
“Davino tidak ada seperti itu nak, dia memberikan hatinya untuk adiknya.”
“Bohong! Oma melakukan apapun demi ambisi oma. Apa semua ini, ada hubungannya dengan perjanjian itu?”
“Nak Davino dengarkan aku, biar aku jelaskan”
“Tidak perlu, kalian semua pembunuh, membunuh istriku,”ucap Davino menatap Areyani dengan tatapan kebencian. “Apa kamu pikir dengan kamu memiliki hati Aresya terus kamu datang ke rumah ini sebagai ibu dari anakku. Jangan harap! Aku hanya mencintai Aresya,” ucap Davino. Matanya masih menatap Areyani dengan tatapan mata sinis.
Tidak tahan di salahkan seperti itu Areyani merasa bersalah, di hadapan keluarga kakaknya, ia hanya menunduk.
__ADS_1
“Aku tidak melakukan apa-apa, aku hanya menerimanya saat aku berbaring di rumah sakit, Aresya memberikannya ini untukku,” sebuah pecahan batu berwarna biru.
“Itu artinya kamu sudah mencuri kehidupan Aresya!” Davino menatapnya dengan tajam ia menyudutkan Areyani, ia menyambar batu itu dari tangan Areyani, ia belum menyadari batu apa yang ia masukkan ke saku celananya.
Davino terlihat sangat kecewa dan sedih, saat tahu Aresya mengorbankan hidupnya untuk adiknya.
‘Kamu mengorbankan hidupmu demi kebahagian adikmu, terus… bagaimana denganku?’
Dari dulu Aresya maupun Shena selalu berkorban untuk orang yang ia cintai, dulu juga ia bahkan rela memberikan jantungnya pada Boas Egdan. Di kehidupan saat itu, ia menjadi pelindung untuk keluarganya, menjadikan dirinya menjadi tulang punggung untuk keluarga, ia bertindak layaknya seorang kepala keluarga. Namun, tidak ada yang menduga kalau ia sampai nekat memberikan hidupnya untuk adik kembarannya.
Saat dokter memvonis kalau Areyani tidak akan bertahan lama karena hati yang ia miliki telah rusak saat kecelakaan. Hal itulah yang membuat Aresya merasa sedih, ia tidak ingin melihat saudara kembarannya mati dengan penderitaan yang selama ini mereka alami.
“Aku tidak melakukan apa-apa Pak, bahkan aku tidak tahu kalau Aresya yang mendonorkan hatinya untukku , aku mengetahuinya setelah berbulan-bulan.” Areyani semakin bersalah melihat kesedihan Davino.
“Kamu harusnya yang mati bukan Aresya.”
Melihat kemarahan dan kesedihan Davino Marisa hanya diam, ia juga merasa sedih dan kehilangan, tetapi, semua itu adalah keinginan Aresya.
“Davino tena-“
“Apa ini juga atas perintah oma?” Davino memotong pembicaraan orang tua itu.
“Davino biarkan oma yang menjelaskan jangan marah dulu tenangkan pikiranmu Nak, semua pasti ada alasannya.”
“Alasan? Papi, aku tahu ini semua oma yang mengaturnya, aku hanyalah bonekanya, bahkan kehidupan dan kematian seseorang oma tahu semuanya.” Ucap Davino semakin marah.
“Baiklah, Oma akan menjelaskan semuanya, pertama oma minta maaf karena tidak memberitahukan tentang semua yang terjadi, oma juga tidak menyetujuinya, namun itu kemauan Aresya ia yang memaksa oma, dia akan melakukan apapun asalkan aku menyetujui keinginan terbesarnya, tadinya kami berpikir kalau kamu tidak mengenali Areyani”
“Apa maksud oma, apa dari awal ia sudah punya keinginan seperti itu?”
“Davino, dengar dulu oma”
Tapi Davino menatap oma dengan tatapan kemarahan dan terlihat sinis.
“Dengar… Aresya sangat mencintai keluarganya melebihi apapun di dunia ini Vin, ia memintaku menyembunyikan darimu ia ingin Areyani menjadi ibu dari putramu dan ia berharap kamu bisa menerimanya seperti menerima Aresya, ia ingin adiknya merasakan kebahagian yang sama seperti yang dia rasakan, dia ingin adiknya juga merasakan bagaimana memilki keluarga.”
“Apa oma menyuruhku menjadikan wanita itu, jadi istriku mengantikan Aresya?”
__ADS_1
“Iya Davino” jawab Ny. Marisa bersikap tenang.
“Dengar Oma, tidak ada yang bisa mengantikan Aresya, tidak perduli walau ia kembarannya , bagiku Aresya satu-satunya orang yang aku cintai, jangan harap kamu bisa menggantikan,” ucap Davino.
Areyani semakin merasa bersalah saat ia tahu alasan Aresya memberikan hatinya untuknya, itu karena Aresya ingin kedua adeknya dan ibunya, mendapat kehidupan yang lebih baik. Aresya memilih mati dan membiarkan Areyani hidup, Aresya ingin keluarganya menikmati kehidupan yang lebih baik seperti yang telah ia rasakan, berkorban untuk keluarganya itulah yang Aresya lakukan.
“Aku juga tidak berharap menjadi bagian keluarga ini lagi Nyonya, aku datang hanya ingin mengembalikan anak ini dan aku akan kembali untuk keluargaku,” ucap Areyani terbata-bata karena menahan gugup.
“Kamu salah Nak, dengan kamu datang kerumah ini, kamu sudah bagian dari keluarga kami, Aresya sendiri yang sudah menunjukmu mengantikan dirinya di rumah ini.”
Mendengar hal itu Davino sangat benci dan kecewa pada oma, bukannya pada omanya bahkan ia sangat membenci Areyani yang saat itu memiliki hati Davino.
“Dengar oma dan kamu juga…! sampai kapan aku tidak pernah menerima dia jadi bagian dari keluarga, apalagi jadi istriku, jangan harap tidak akan pernah, kembalikan milik istriku,” ucap Davino meminta hati Aresya pada Areyani.
Ia kecewa lalu menyetir dengan kecepatan tinggi meninggalkan rumah keluarganya, saat menyetir dalam keadaan marah, tiba-tiba batu kristal di kantongnya mengeluarkan cahaya, Davino kaget dan membanting setir mobil ke pembatas jalan, ia mengalami kecelakaan parah.
Saat di rumah sakit, ruhnya keluar dari tubuhnya dan ia melihat batu kristal itu bercahaya, ruh Davino mengambilnya dan tiba-tiba ingatannya pulih, ia kembali ke ingatan saat ia memiliki kehidupan Boas Egdan.
“Dewa! Kenapa aku ada di sini!” teriak Boas Egdan.
“Ingatan pun pulih, karena kamu memegang batu kristal ajaib di tanganmu itu milik Shena atau Aresya”
Boas mengingat semuanya, tentang Aresya dan kehidupan sebelumnya dan ia marah, ternyata Aresya juga mengingat siapa Davino selama ini, makanya ia meninggalkan dunia.
“Kembalikan aku ke hidupanku sebelumnya, aku tidak mau di kehidupan yang seperti ini, aku tidak mau jadi Davino Erlangga, aku ingin ke masa saat aku masih bernam Boas Egnan”
“Baiklah, aku akan mengirimmu kembali ke sana, tetapi, mungkin kamu akan lupa ingatan”
“Aku tidak perduli, kembalikan aku ke masa itu”
Boas Egdan atau Davino Erlangga , manusia titisan Dewa, saat ia sudah ingat dirinya dalan kehidupan terjebak dalam tubuh pria yang kejam dan suka menyiksa dan menyakiti hati wanita. Boas Egdan meminta pada Dewa Langit, agar kehidupannya di kembalikan pada masa di mana ia bernama Boas Egdan.
“Baiklah, hidupmu saya kembalikan pada masa di mana kamu lupa ingatan dan bernama Boas Egdan”
Davino kembali ke dimensi waktu saat ia bernama Boas Egdan.
Apakah dia bisa bertemu dengan Shena kembali? Walau sudah di kembalikan ke waktu yang ia inginkan?
__ADS_1
Bersambung.