
Lakukan yang terbaik maka hal yang terbaik akan datang mengikuti, mungkin ungkapan itu tepat untuknya, karena dengan tulus ia membantu warga dan raja, ia mengajari mereka dengan banyak hal termasuk hal tekhnologi yang di pakai negara-negara maju.
Raja akhirnya membuka diri untuk masukan yang di berikan Boas , kini kastil miliknya sudah mendapat pasokan listrik, ia juga sudah mau membuka diri untuk melihat dunia lain, dan raja juga membangun akses jalan ke kerajaannya.
Hingga mereka menganggap Boas seorang yang paling berjasa untuk kerajaan itu, bahkan ia masuk dalam catatan orang yang berjasa dalam buku sejarah kerajaan akan mengenang namanya kelak.
Saat Dewa memberi izin untuk mereka pulang setelah menyelesaikan tugas yang diberikan Dewa padanya dan Dos. Semua orang tampak berdiri di depan rumah menundukkan kepala pada kuda yang membawa Boas.
Sebelum meninggalkan desa, Boas juga pamit ke istana.
“Terimakasih untuk beberapa tahun menjadikan saya bagian dari kerajaan ini, tugas saya dan Dos sudah selesai
Yang Mulia izinkan kami untuk pergi,” ujar Boas, hal yang tidak biasa ia lakukan, ia bersikap hormat dan sopan pada raja untuk pertama kalinya.
“Baiklah, saya dan seluruh rakyatku mengucapkan terimakasih yang sebanyak-banyaknya untuk kedua kesatria yang sudah menolong dan membantu rakyatku dan kerajaanku,” ujar Sang Raja dengan mata berkaca-kaca, ia sangat sedih melepas kepulangan dua orang yang sudah ia anggap sebagai penyelamat hidupnya.Raja berpikir tanpa mereka berdua apa jadinya Negara kecil itu.
“Baik, Yang Mulia, semoga yang mulia panjang umur dan selalu dalam lindungan Para Dewa,” ujar Dos, menundukkan kepalanya tanda hormat.
“Sebagai tanda terimakasih ku pada kedua kesatria saya ingin memberikan hadiah untukmu,” ujar sang raja pada Boas.
“Saya tidak ingin apa-apa,” Boas menolak dengan cara yang halus karena ia memang tidak menginginkan hadiah dari mereka, bisa pulang dan diizinkan sama Dewa itu sudah satu hadiah terbaik untuknya setelah bertahun-tahun berada di desa.
“Tuan, tidak baik menolak pemberian orang, terima dengan baik walau kita tidak menyukainya.” Dos mengingatkan.
Walau otak menolak tetapi dengan tidak mengurangi rasa hormatnya Boas akhirnya mengangguk setuju.
“Baiklah saya menerimanya dengan senang hati”
“Saya pikir benda itu hanya kamu yang bisa menjaganya,”ujar sang raja menyerahkan kotak kayu berukiran bertuliskan kalimat-kalimat matra sebagai kunci.
Boas menerimanya, tetapi hanya menatapnya sekilas dan ingin memasukkan hadiahnya ke balik pakaiannya, wajahnya datar, walau ia sudah di beri hadiah, tetapi tidak membuatnya tidak terlihat bahagia.
“Kamu tidak ingin membukanya? Aku yakin kamu menyukainya,”ujar Putri Isabela, ialah yang mengetahui apa yang di inginkan Boas dan ia memintanya pada sang raja.
“Nanti saja,” ujar Boas masih bersikap dingin.
“Bukalah sekarang! aku ingin melihat wajahmu apa kamu senang dengan apa yang aku berikan,” ujar Putri Isabela dengan sikap sedikit memaksa.
Dengan raut wajah merasa jengkel, Boas lalu mengeluarkan benda itu dari balik pakaian lagi.
__ADS_1
Saat ia membuka kotak kecil itu tidak bisa di buka dengan sembarangan, Kotak dilindungi mantra suci.
“Bagaimana saya membukanya?” tanya Boas menatap Putri lalu berpaling pada raja.
“Baca mantra yang ada di sisi kotak” Boas mengerti banyak bahasa, jadi penghuni abadi di dunia membuatnya mengerti banyak bahasa.
Saat ia membaca tulisan di sisis kotak kayu berukiran itu, kotaknya terbuka dan mengeluarkan cahaya dari benda di dalamnya.
Mata Boas melotot tajam menatap batu yang ada dalam kotak. Sebuah batu, kristal berwarna biru batu yang ia cari seumur hidupnya.
“A-a-pa ini? Benarkah ini,”ujarnya dengan suara bergetar, ia mengucek-ucek matanya, memastikan apa yang di lihat mata bermanik biru itu satu kebenaran, bukan ilusi dan bukan sebuah mimpi.
“Tuan, ada apa?” tanya Dos ikut penasaran, mata lelaki bertubuh besar itu tidak kalah terkejut dari tuanya, ia sampai mundur beberapa langkah ke belakang merasa terkejut dengan apa yang mereka dapatkan.
“A-a-apa itu batu kristal?”tanya dos dengan tatapan mata masih melotot, ia juga tidak percaya, dengan apa yang mereka dapatkan.
“Sepertinya iya”
“Apa kamu menyukainya?” tanya putri Isabela, ia tersenyum dan berdiri.
“Putri aku … bukanya hanya menyukainya, tetapi bagaimana bisa, ini sangat berharga dengan apapun di dunia ini untukku”
“Iya aku mencarinya, Guru,” ujar Boas menatap biksu tua yang ia selamatkan.
“Kamu tidak bisa merasakan aura kekuatan dari batu itu karena di bungkus dan dikunci dengan matra”
“Karena itukah aku tidak bisa merasakan keberadaanya selama ini>”
“Iya mantra pelindung itu sangat kuat, bahkan iblis tidak bisa menemukan keberadaannya”
“Jadi siapa pemilik batu ini guru?” tanya dos ia ingin tahu manusia keturunan dari pemilik batu, sebab Boas tidak boleh menyakiti hati ataupun melukai keturunan pemilik batu,tidak boleh menyakiti hatinya, akan tetapi harus membantu.
“Pemilik batunya sudah meninggal tentunya , karena batu kristal usianya sudah ratusan tahun dan kami hanya di suruh untuk menjaganya,” ujar Dewa.
“Maksudku siapa yang jadi keturunannya?” tanya Boas menatap lelaki tua yang duduk di barisan raja, ia sempat berpikir kalau lelaki tua itulah keturunan dari Torak sahabatnya, saat Boas ingin mendekat.
“Keluarga Kerajaan inilah keturunan pemilik batu,” ucapnya menatap raja.
“Apa? Jadi Putri Isabela ….?”
__ADS_1
“Iya Putri juga keturunan pemilik batu ini, para Dewa berkata ia bersembunyi di kaki gunung ini selama hidupnya dan tidak pernah keluar dari tempat ini, dan Sang Pemilik batu membangun kerajaan di sini dan membatasi orang yang datang ke kerajaannya, itulah sebabnya kerajaan ini tertinggal dari negara maju”
"Ini tidak dapat dipercaya, kenapa selama ini aku tidak pernah mengetahui semua ini"
"Itu karena lebih besar rasa sakit hati dan kemarahan di hatimu, hingga aura kebaikan dalam hatimu tertutup, cobalah untuk berdamai dengan dirimu dan berdamai dengan keadaan dan dapat menerima keadaan dan sadari kesalahan," ucap Orang tua itu padanya.
Boas masih menatap dan menimbang-nimbang batu di tangannya ia bahkan tidak perduli lagi dengan semua nasehat lelaki tua yang menatapnya dengan tatapan hangat.
“Apa karena ini para iblis menyerang kerajaan ini”
"Iya, ingin mengambil batu dan ingin mengambil kitab suci"
Bersambung ....
KAKAK JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA.
Bantu share ya Kakak.
Fb Pribadi: Betaria sona Nainggolan
FB Menulis; Nata
Ig. Sonat.ha
LIKE, VOTE DAN KASIH HADIAH
Baca juga karyaku yang lain
-Aresya(TERBARU)
-The Cured King(TERBARU)
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (Tamat)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
Bintang kecil untuk Faila (tamat)
__ADS_1