
Untuk mencapai kuil suci perlu kerja keras yang melampaui kemampuan manusia biasa, karena setiap langkah yang mereka pilih ada bahaya yang mengintai.
“Kenapa harus sulit seperti ini sih untuk mencapai satu kuil, kalau jalannya penuh bahaya dan rintangan seperti ini, lalu siapa yang akan datang ke berdoa ke kuil suci ini?” tanya Boas mulai merasa lelah, karena ia menggendong empat anak sekaligus.
“Tuan, menurut guru besar, kuil ini tidak diperbolehkan untuk umum sebenarnya hanya biksu-biksu besar dan pertapa yang memiliki ilmu tinggi yang mencapai kuil ini”
“Lalu kalau hanya untuk yang ilmunya tinggi, bagaimana dengan anak-anak malang ini, aku tidak bisa sering-sering mengunakan kekuatan sihirku Dos, Dewa melarangnya, dan sejak tadi aku sudah menggunakannya beberapa kali, aku merasa tubuhku lemas, sementara perjalanan mencapai puncak gunung juga masih jauh”
“Sebenarnya saya juga tidak boleh menggunakannya sering-sering Tuan, karena para Dewa memintaku sebagai rekanmu seorang kesatria, tetapi dari tadi saya juga sudah menggunakannya beberapa kali,” ujar Dos.
Mereka berdua tidak boleh sering-serig mengunakan kemampuan sihir mereka selama di desa. Para Dewa meminta mereka bertindak sebagai seorang kesatria pedang.
“Aku lemas, kita istirahat sebentar,” ujar Boas mendudukkan tubuhnya di batu besar, ia mulai ke habisan energi.
Saat tubuh tidak berdaya, tiba-tiba batu yang di sandari Boas bergerak dan merentangkan tubuhnya, ternyata itu adalah seeokor ular besar yang sedang tertidur dan kini ular besar itu terbangun dari tidurnya dan menatap rombongan itu dengan lidah menjulur dan kepala menegak dan mendesi panjang dan kepala menari-nari, mulut besarnya siap menelan.
“Dasar keparat! Ada apa dengan ular gila ini?” Boas menarik pedangnya.
“Tuan, kode yang diberikan itu salah satu cara untuk memanggil pasangannya”
“Maksudnya ada ular besar lagi selain dia?”
“Ya, Tuan, biarkan saya melawanya, bukankah ular takut dengan elang?”
“Iya, tapi kamu bukan elang Dos, kamu sudah menggunakan kekuatanmu beberapa kali, para Dewa akan marah nanti”
“Pilih mana Tuan, anak-anak itu dimakan ular ini atau Dewa memarahi kita?’
Seketika lelaki bertubuh besar berubah lagi menjadi seekor singa yang punya sayap dengan kuku tajam melebihi tajamnya samurai, ia terbang melejit dan menyambar tubuh ular besar itu dan melemparnya jauh ke dasar jurang, tetapi saat ular betina itu terlempar. Ular jantan yang tubuhnya lebih besar datang dan menyerang Boas, ia menggunakan ekornya untuk melibas tubuh mereka. Boas sangat kewalahan karena ia juga harus melindungi lima belas anak-anak yang saat ini mereka menangis ketakutan.
__ADS_1
Boas membiarkan tubuhnya di lilit dan menyuruh anak-anak lari menjauhi ular, saat tubuhnya terlilit dengan ketat, Dos tiba dan mencekram kepala ular besar dan melemparnya ke dasar jurang lagi bersama betinanya, ia memilih tidak menyakitinya ia hanya menjauhkan dari mereka.
“Kenapa tidak menghabisi-nya, Dos?”
“Kita bisa mengusir mereka tanpa harus menghabisi-nya, maka hukuman Dewa tidak terlalu besar, untuk kita"
“Ah, persetan dengan hukuman Dewa Dos. Ular itu sudah meremukkan tubuhku dan kamu hanya memikirkan kemarahan Dewa? saya juga marah!”
Boas marah besar karena Dos membiarkan Ular besar itu, ular besar yang hampir menelannya hidup-hidup, ia kadang tidak menyadari apa yang dilakukan Dos semua hanya untuk menolongnya dan tidak ingin Tuanya terjebak dalam hukuman yang berlipat-lipat dari Para Dewa. Tetapi Boas selalu menggunakan pikiranya dan jarang menggunakan hati disetiap tindakannya.
“Tenanglah Tuan, naiklah ke punggungku jika Tuan merasa kelelahan dan saya akan mengantar ke puncak gunung,” ujar Dos menawarkan bantun , berharap sang mantan raja besar itu tidak marah lagi.
“Sudahlah, ayo kita bawa anak-anak ini, naik”
Boas tidak menuruti apa yang dikatakan Boas, ia berpikir kalau ia lelaki yang kuat dan terhormat.
“Baik Tuan,” ucap Dos dengan patuh.
“Kita berhenti di sini kta akan membuat api ungun”
“Tidak boleh Tuan karena cahaya api itu akan terlihat sangat jelas dari gerbang istana.” Dos menunjuk satu istana besar yang sangat mengah yang kini sudah dikuasai kekuatan kegelapan.
“Lalu apa yang kita lakukan?”
“Meneruskan perjalanan,” ujar Dos dengan berat hati.
Tetapi saat mereka berhenti seorang anak perempuan pingsan karena kelelahan,
“Bertahan lah anak kecil, kita akan tiba nanti di satu tempat seperti surga, sangat indah … kamu sudah berjalan setengah jalan dan sebentar lagi kamu akan tiba si sana”
__ADS_1
“Aku lelah Paman, aku tidak punya tenaga lagi, aku ingin tidur panjang dan bertemu ibuku di surga ayah dan ibuku sudah menunggu ku,” ujarnya menutup mata dan meninggal.
Melihat itu tiba-tiba Boas merasakan rasa yang amat sakit di dadanya.
“Ia masih sangat kecil, kenapa dengan mudanya kamu memberinya kematian, ia masih banyak impian, kenapa tidak kamu berikan saja padaku!” ujarnya dengan marah, ia mengatakan itu pada Dewa yang memberinya hukumnan yang abadi.
“Tenanglah Tuan, masih ada banyak anak yang malang ini yang harus kita tolong, tuan sedih seperti itu, mereka jadi ketakutan,” ujar Dos, mengubur gadis kecil itu dengan kuburan seadanya, ia mengorek tanah dan menutupnya dengan batu besar agar binatang buas tidak menggali nya kembali.
Setelah mengubur anak kecil itu mereka semua terdiam dalam kegelapan malam, saling berdekatan agar tubuh mereka hangat. Dos juga berdiri dengan diam, ia menunggu Boas yang berdiri dengan kemarahannya, ia menatap langit dan marah pada Para Dewa, karena memberikan kematian pada seorang anak kecil yang ia tolong.
“Kalau kalian, memang harus memanggilnya kenapa membiarkan dia melewati penderitaan yang menyakitkan dulu, kenapa kalian tidak mematikannya saat sebelum ia menghabiskan waktunya untuk mencapai gunung ini,”ujar Boas lirih, matanya terpejam menahan perasaanya.
*
" Tuan, apa kita akan bermalam di sini menunggu pagi datang?”tanya Dos dengan suara pelan.
Boas menarik napas panjang, lalu ia berkata;
“Tidak, kita akan membawa mereka ke kuil suci detik ini juga, kamu sudah mengantarkan biksu tadi kesana, bukan? sekarang pikirkan tempat yang akan kita tuju”
“Tapi Tuan … bukankah tidak bisa menggunakannya lagi, Tuan sudah menggunakannya melampaui batas yang di tentukan Dewa”
“Tenanglah Dos, biarkan aku saja yang mendapat hukuman itu, mereka tidak akan bisa bertahan malam ini, berikan tanganmu”
Boas kembali mengunakan kekuatan berpindah tempat kali ini, padahal seharusnya ia tidak boleh lagi mengunakannya, tetapi rasa kasihannya pada anak-anak malang itu, ia mempersiapkan dirinya untuk mendapat hukuman tambahan dari pada Dewa lagi.
Hingga akhirnya menit kemudian mereka semua tiba di gerbang kuil suci di puncak gunung tertinggi.
Bersambung ...
__ADS_1
Bantu kasih bintang iya kakak agar karyaku masuk rank terimakasih.