Manusia Titisan Dewa

Manusia Titisan Dewa
Dikepung Pasukan Kerajaan


__ADS_3

Saat tiba di gerbang kuil suci, para biksu sudah menanti mereka.


“Guru, apa guru sudah tahu kalau kami akan datang malam ini juga?” tanya Dos penasaran.


“Dewa sudah memberitahukannya padaku, segeralah masuk dan kami akan membaca doa untuk mengunci tempat ini, agar para iblis tidak menemukannya,” ucap orang tua itu dengan yakin.


Mereka semua masuk ke dalam kuil, sebuah kuil yang sangat luas yang terbuat dari batu alam, ditumbuk dan direkatkan dengan tanah liat, dan tiang penyangganya terbuat dari batang pohon besar. Suasananya sangat eksotis karena setiap sisi dihadapkan dengan jurang.


Anak-anak itu di bawa ke sebuah aula doa, ruangan yang sangat hangat dan nyaman, dan beberapa biksu menghidangkan makan malam untuk mereka. Makanan yang sudah tersedia dalam meja dan piring sesuai jumlah mereka juga.


“Silahkan, kami sudah menunggu dari tadi,”ujar Biksu, seolah-olah mereka sudah tahu, kalau mereka akan datang malam itu juga.


“Apa kalian juga sudah tahu kalau kami akan datang ke tempat ini?” tanya seorang anak yang lak-laki menatap biksu.


“Sudah, silahkan dinikmati,”ucap biksu dengan ramah.


Makanan yang tersedia juga masih panas dan sangat pas dinikmati saat tubuh kedinginan,


**


Kuil suci akhirnya dikunci dan diberi matra untuk menyamarkan dari penglihatan iblis.


Sebulan kemudian,


Para iblis akhirnya mengetahui letak kuil dari seorang biksu muda yang mereka siksa, iblis berputar-putar di langit, tidak jauh dari gunung mencari keberadaan kuil suci.


Para iblis ingin mengambil kitab penghancur iblis yang disimpan di kuil suci.


Tetapi para iblis itu tidak menemukan ada bangunan kuil di sekitar gunung, seperti yang dikatakan seorang biksu yang mereka tangkap.


Lalu ia membawa beberapa biksu yang mereka tawan, lalu melemparkannya di sekitar gunung berharap biksu yang bersembunyi di kuil suci itu menyelematkan para biksu yang dilempar. Tetapi para biksu membentuk sebuah lingkaran dan mereka saling berpegangan tangan menyatukan semua kekuatan agar perisai pelindung itu tetap kokoh.

__ADS_1


Tadinya, Boas hanya menonton menyandarkan tubuhnya di tiang kuil dan melihat para biksu yang dilemparkan para iblis jahanam itu. Tetapi saat melihat anak-anak itu ketakutan dan mereka juga ikut berdoa Pada Dewa agar dilindungi dari serangan iblis yang mencari keberadaan kuil.


“Aku akan keluar dari sini, apakah ada jalan keluar selain dari gerbang itu?”


“Ada, melewati terowongan bawah tanah dan menuju sungai”


“Baiklah, aku dan Dos akan keluar, beritahu kami jalannya”


“Baik ikuti saya akan menuntun,”ujar seorang biksu tua penjaga gerbang kuil.


*


Boas dan Dos keluar, melalui jalur bawah tanah dan tembus di sungai, di mana di sungai ada banyak mayat para biksu, dan orang-orang yang tidak bersalah dilemparkan para iblis, dengan harapan ketua biksu akan keluar dan menolong mereka.


“Ah, dasar para iblis busuk, kemarilah,”ujar Boas mengacuhkan pedangnya.


“Tuan, apa yang Tuan rencanakan? baiknya katakan pada saya juga, agar saya bisa ikut membantu,”ucap dos dengan wajah bingung. Karena Boas bertindak tanpa bicara dengannya terlebih dahulu.


“OooH baik Tuan.” Dos setuju, beruntung kuda yang di berikan Dewa masih ada di dekat gunung, karena mereka meninggalkannya saat naik ke gunung, karena jalannya terjal dan tidak memungkinkan membawa kuda, mereka memutuskan melepaskannya.


Dos memanggilnya dengan suitan dari mulutnya, kuda tangguh berwarna coklat dan putih, berlari kearah Boas dan Doas hal itu mengundang perhatian para iblis yang terbang di atap kuil suci.


Mereka turun dan mengejar Boas dan Dos karena menganggap mereka berdua biksu, karena berpakaian biksu.


Rencana Boas, berhasil, mereka berpikir lelaki berkepala botak itu adalah Biksu besar yang mereka incar.


Kuda itu berlari cepat bagai peluru yang ditembak kan melesat menerobos hutan dan rintangan di depan, membela angin mencapai tujuan, hingga akhirnya tiba desa yang sudah menjadi desa mati.


“Dos, kita berpencar, kamu ke kiri dan buat kebakaran di sana dan aku ke jalan kanan, aku juga akan membakar semua desa ini, kita bertemu di rumah pertama kita datang ke desa ini”


“Baik Tuan”

__ADS_1


Boas benar-benar mengerjai para mahluk yang mengejarnya, ia membuat orang-orangan dari kain dan mendirikannya di satu rumah, saat para mahluk masuk ia membakarnya, ia melakukanya beberapa kali membuat para mahluk bersayap itu merasa kesal karena merasa dikerjai mereka semakin marah, berteriak melengking suaranya terdengar hingga ke dalam bukit.


Dos, melakukan hal berbeda, membakar beberapa rumah dan membuat perangkap penangkap mahluk menggunakan benang suci yang diberikan Dewa padanya.


Kalau Boas memilih mengerjai para mahluk, tetapi tidak dengan Dos, ia memilih memasang jaring perangkap menggunakan benang suci, saat mahluk terbang dan tersangkut di benang , mereka terbakar dan meledak.


Saat melihat perangkat benang itu, para iblis yakin kalau kedua orang yang menyerang mereka adalah biksu, lalu salah satu iblis terbang ke istana memberitahukan kalau di desa ada biksu yang masih hidup.


Raja dan ratu yang sudah di kuasai roh iblis itu meminta semua pasukan kerajaan mengepung desa mati itu, untuk menangkap Boas dan Dos, sesuai kesepakatan mereka bertemu di rumah penampungan, keduanya turun dari kuda, meminta kedua kuda itu kembali ke kaki gunung sebelum malam, kedua kuda pintar itu berlari kembali ke kaki gunung .


Lalu Boas dan Dos berlari kerumah di belakang desa, tetapi saat mereka ingin masuk ke dalam rumah, seorang wanita berpakaian tentara kerajaan memanggil mereka.


“Kemari lah guru, ikuti saya,” ujar wanita muda itu membawa mereka berdua ke belakang bukit dan masuk ke dalam sebuah goa dan di sana ternyata masih banyak warga yang selamat dan berlindung di dalam goa.


*


“Putri! Saya membawa dua orang biksu kemari,” ujar wanita yang berpakaian prajurit itu.


Seorang wanita yang berpakaian panglima perang membelakangi mereka, tubuhnya silau terhalang cahaya penerang dalam ruangan itu, ia membalikkan tubuhnya dan menatap Boas dan Dos dengan tatapan mata sinis penuh penyelidikan. Wajahnya tidak jelas.


“Kemarilah mendekat”ucapnya dengan tegas layaknya seorang komandan perang.


Wanita yang berpakaian prajurit itu menuntun mereka mendekat paa sosok yang dipanggil Putri, Boas mendekat dan matanya melotot.


“Shena ….?”


Ucapnya dengan suara parau, tiba-tiba detak jantungnya berdetak bagai gendang yang bertalu-talu.


“Tuan, apa kamu mengenalnya?” tanya Dos penasaran.


Bersambung ….

__ADS_1


__ADS_2