Manusia Titisan Dewa

Manusia Titisan Dewa
Anak-Anaka Di Desa Mati


__ADS_3

Menyelamatkan para biksu melewati hutan gelap itu baru tantangan awal, para iblis menyebar semua pasukannya untuk mengawasi pergerakan semua orang masih hidup.


Saat Dos berubah menjadi seekor singa jantan, biksu muda itu terlihat ketakutan.


“Jangan takut , saya tidak akan memakan kamu, saya hanya ingi menolong”


“Ta-tapi kamu seekor singa yang punya sayap”


“Iya hewan, tetapi, saya juga setengah manusia, setengah hwan bersayap yang dikirim Para Dewa, Tuan Egdan adalah Tuan yang aku layani”


Lalu Dos mengangkat biksu itu kembali, meletakkannya di atas kuda, sementara Boas menggunakan kekuatannya elemen petir menyematkannya kembali di pedangnya, karena kawanan gerombolan serigala semakin bringas ingin menerkam, tetapi anehnya mereka seakan-akan diperintah, hanya mengincar ketiga biksu suci tersebut.


“Tuan, mereka bukan serigala biasa, ada seseorang yang pemerintah mereka,” ucap Dos, ia semakin dengan ucapnya, saat seekor serigala yang terlihat wujud berbeda dari serigala yang lain mencari posisi siap menyerang.


“Kamu benar Dos.” Boas memutar sebuah pusaran api di tangannya, lalu ia membaca sebuah mantra, bola api ia melepaskan ke tubuh serigala. Tetapi mereka seakan-akan tidak takut, semakin menyerang dengan bringas, akhirnya Boas marah besar, ia membuat tubuhnya di penuhi api, berjalan di depan membuka blokade jalan.


Para binatang berbulu itu mundur dengan gertakan gigi dan longongan yang panjang dan nyaring, seolah-olah ia memberi kode atau memanggil kawanan yang lain.


Melihat situasi yang semakin tidak terkendali itu dan ketakutan di wajah anak-anak malang itu. Boas akhirnya terpaksa menggunakan kekuatan besarnya, yakni; untuk memindahkan kereta kuda itu.


“Dos,mereka memanggil kawanan yang lebih banyak lagi, aku khawatir mereka hanya jelmaan serigala”


“Kamu benar tuan, saya juga melihat ada beberapa serigala yang bentuknya berbeda dari yang lain”


“Baiklah Dos, kembalilah jadi manusia, aku butuh tanganmu, kita akan memindahkan mereka semua ke satu tempat sebelum pasukan iblis itu datang lagi,” ujar Boas bersikap buru-buru.


“Baik Tuan”


Dos berubah menjadi seorang lelaki bertubuh besar, ia memegang satu kereta kuda, dan Boas juga memegang satu kreta dengan kekuatan besar Boas menutup mata dann menjentikkan jari tangannya.

__ADS_1


Akhirnya mereka berpindah tempat lagi hanya hitungan detik dan keluar dari hutan gelap tersebut.


“Syukur untuk para Dewa, karena kita bisa selamat dari hutan gelap itu, karena sebenarnya tidak ada orang yang selamat dari hutan kegelapan itu kalau jalan malam hari.”


Biksu muda itu mengusap dadanya ia merasa sedikit lega.


Dugaan mereka benar, para serigala adalah suruhan iblis yang menjaga jalan keluar masuk desa, kini langit tampak gelap karena segerombolan mahluk bersayap terbang di langit, sampai-sampai menutup sinar matahari, para iblis itu sepertinya sudah tahu, kalau ada tiga biksu yang masih hidup. Kini mereka juga mengincarnya.


“Apakah perjalanan kita masih lama, Guru?’ tanya Dos penasaran, ia menatap lelaki yang sudah sangat tua itu, sejak dari mereka berangkat, sampai di tempat itu


Ia seolah-olah tidak khawatir dengan rintangan yang mereka hadapi, ia sibuk membaca ayat-ayat kitab suci sepanjang perjalanan.


“Perjalanan kita masih panjang, masih ada sembilan puluh sembilan rintangan untuk mencapai kuil suci,” ujarnya dengan mata tertutup dan mulut komat -kamit ayat kitab


“Ha? Sembilan puluh sembilan?” Boas melotot kaget.


“Nah, ini rintangan ke berapa lagi?” Dos melihat para iblis yang terbang mengincar mereka lagi.


“Baik Tuan, Ya Tuan Benar, mereka hanya mengincar biksu ini, mungkin anak-anak ini tidak berguna pada mereka”


Dos , berubah wujud lagi mejadi sekor singa yang tangguh yang bisa terbang, ketiga biksu itu naik ke punggungnya dan siap terbang.


“Dos, terbangunlah dengan rendah, kerena Para Iblis itu terbang di langit, mengawasi mengawasi semua tempat, ikuti aliran sungai untuk mencapai kuil,”pinta Boas pada singa bersayap itu.


“Baik Tuan?”


Dos terbang mengikuti aliran sungai, membawa ketiga orang yang jadi incaran para mahluk , sementara Boas kembali ke hutan dan membuat kebakaran di dalam hutan , membakar serigala-serigala yang kerap menganggu warga desa.


Para mahluk yang tadinya mengejar mereka,, berbalik ke hutan dan melihat apa yang terjadi di dalam hutan gelap itu, saat itulah Dos mulai terbang melintasi sungai dan Boas juga melanjutkan perjalanannya membawa kereta kuda yang membawa puluhan anak-anak.

__ADS_1


Saat berjalan melintasi sebuah jembatan, rintangan berikutnya menghadang mereka, jembatan yang akan mereka lalui sudah rapuh dan tua.


“Jangankan kereta kuda melewatinya, aku saja melintasi pasti sudah rubuh,” ujar Boas memegang tali yang sudah mulai berlumut itu.


Boas menghiraukan semua larangan Dewa yang tidak memperbolehkan kekuatan sihirnya untuk menolong orang, tetapi karena melihat kondisi anak-anak kecil itu, ia merasa iba, bahkan ada seorang anak laki-laki ber usia tiga tahun yang terlihat kedinginan dengan pakaian tipis yang ia pakai.


‘Dewa akan menambah hukumanku, jika aku sering-sering menggunakan kekuatan yang aku miliki untuk menolong orang, tetapi melihat ini … rasanya tidak tega’ Boas membatin.


“Baiklah Para Dewa Agung, kalian boleh menghukum ku seperti kemauan kalian, tetapi semua itu aku lakukan demi anak-anak malang ini!” teriak Boas geram melihat kearah langit.


Lalu ia meminta semua anak saling berpegangan tangan dan memegang kereta kuda, lalu ia menjentikkan jarinya, detik kemudian sudah tiba di kaki gunung.


Itu artinya mereka sudah melewati banyak rintangan, tetapi saat berjalan ke kaki menyusuri lereng gunung, tiba-tiba sisi gunung yang bersalju bergetar dan longsor menutup tubuh mereka semua.


Boas bangkit dan mencoba menyelamatkan tubuh mereka, ia harus berpacu dengan waktu, terlambat beberapa menit menyelamatkan anak-anak itu dari reruntuhan salju. Maka mereka semua akan membeku dan mengalami hipotermia.


Boas panik, ia menggali tumbukan salju dengan tangannya, menarik satu tangan seorang anak, karena kepanikannya dan ketakutan. Ia takut kehilangan dan takut melihat kematian membuat otaknya tidak bekerja, ia malah diam.


“Tuan, apa yang anda lakukan kenapa malah berhenti!”


Beruntung Dos datang, Meniup semua longsoran salju yang menutup tubuh anak-anak, seketika tubuh mereka terlihat. Lalu Dos merangkul mereka semua dengan sayapnya yang lebar dan mengeluarkan kekuatan energi panas dari tubuhnya.


Anak-anak malang itu selamat, kalau Dos tidak datang mereka akan mati membeku dalam longsoran salju.


“Tuan, tidak apa-apa?” Dos menatap majikannya dengan tatapan penasaran.


“Dos, tanpamu aku tidak akan bisa apa-apa”


“Tuan, tidak apa-apa Tuan hanya panik tadi, tetapi mereka semua selamat,”ujar Dos masih memeluk anak-anak dengan sayapnya terlihat seperti induk ayam yang melindungi anak-anaknya.

__ADS_1


Mereka semua selamat tetapi perjalanan menuju puncak gunung masih jauh, apakah Dos dan Boas berhasil menyelamatkan anak-anak malang itu sampai ke kuil suci?


__ADS_2