
Aresya berangkat menemui saudara kembarnya di salah satu rumah sakit di Singapura.
Saat beberapa lama terbang, akhirnya Aresya sampai juga di Negara singa putih itu.
Aresya langsung menemui adeknya yang di jaga ketat dua oleh dua pria, Areyana masih tidur, ia mengelus-elus tangan adik kembarannya, lalu wanita cantik itu, membuka mata juga, ia hampir setengah satu tahun lebih ia koma, Menurut dokter yang merawatnya ia wanita yang kuat, hanya yang punya kekuatan super yang bisa selamat dari kecelakaan itu.
Saat Ny. Marisa mengatakan kalau adiknya sudah menunjukkan kemajuan, ia sangat senang, padahal dari Indonesia dokter sudah memvonisnya tidak ada harapan hidup, dokter bilang saat itu kalau ia lama dalam ranjang rumah sakit yang ada hanya akan menghabiskan biaya yang tidak sedikit jumlahnya.
Saat itu Aresya sudah pasrah kalau alat bantu yang melekat di tubuh adiknya akan dicabut, namun di tengah keputusasaan itu takdir mempertemukannya dengan Ny. Marisa nyawa sang adik selamat, selama ini Aresya tidak berani menggunakan kekuatannya untuk menolong adiknya, ia takut iblis jahat menemukan adiknya, karena itulah Aresya mengambil kekuatan adiknya agar mahluk jahat itu tidak menemukan lagi.
Saat Aresya masuk, adiknya masih menutup mata, namun, alat di tubuhnya sudah berkurang tidak seperti saat di tanah air, yang seluruh tubuh di menempel alat bantu untuk hidup, kondisinya masih sangat parah dengan luka di sekujur tubuhnya.
Aresya memegang tangan, matanya terbuka, ia hanya menatap Aresya, tiba-tiba ia menangis, Aresya memeluk adik kembarannya.
“Bertahanlah, jangan khawatir, cakra penjaga tubuhku sudah lepas”
Wanita itu hanya menjawab dengan tatapan mata berkedip, tubuhnya tidak bisa digerakkan, ia hanya berbaring lemah seperti mayat hidup, kecelakaan yang dialami adek Aresya sangat fatal.
“Bersabarlah tetap kuat, nanti aku akan membawamu dari sini,tunggu sedikit lagi, kita akan berkumpul kembali di tempat yang lebih baik, tetapi, kamu harus tetap kuat agar aku kuat, ingat jika kamu kuat aku juga akan kuat,” ucap Aresyah menempelkan bibirnya di kening wanita yang sedang berbaring itu, kemudian ia keluar, karena waktu menjenguknya di batasi.
Saat keluar dari rumah sakit sebuah mobil di depan sudah menunggu, Devan siap membawanya jalan-jalan, ia lelaki pilihan Marisa untuknya, Aresya membalas tersenyum ramah padanya.
“Saat ini sesuai perintah nyonya besar, aku akan menyupirimu Aresya dan Nyonya besar juga berpesan .…”
“Pesan apa, Pak?”
“Kalau kita harus berpura-pura sebagai pasangan suami istri,”bisiknya pelan.
“Haa! Kenapa harus seperti itu”
“Nyonya besar ingin kamu bersenang-senang dan menikmati hari liburan dengan saya” ucap Devan dengan wajah sumringah.
Devan lelaki yang banyak kelebihan, selain tampan ia juga lelaki yang bisa menyenangkan hati wanita, karena itu Ny. Marisa menunjuk Devan untuk menemani Aresya selama liburan di Singapura, wanita itu tidak ingin Aresya stres.
“Baiklah, tapi saya bukan wanita yang suka liburan”
“Jika kamu pergi bersamaku, pasti menyenangkan”
__ADS_1
“Baiklah sudah di kasih kesempatan seperti ini, ayo kita nikmati,” ucap Aresya tulus.
Devan memulai hari ini membawa tempat yang pertama yang mereka kunjungi adalah Merlion Park, baru tempat kedua ia membawa Garden by The Bay membawa Aresya ke tempat indah, hingga akhirnya berhenti di salah satu taman yang menyejukkan dengan pemandangannya yang indah akan pemberhentian mereka sementara, Sentosa Island tempat wisata sebuah pulau itu jadi tempat Aresya dan Devan menghabiskan waktu,
“Ini sangat menyenangkan, tempat ini mengingatkanku dengan kampung halaman, bukan pulaunya, tetapi, pemandangan hijau ini” ucap Aresya ia bukan wanita yang suka liburan , namun saat Devan membawanya liburan, rasanya sangat menyenangkan.
“Memang di mana kampung kamu?” Tanya Devan.
Aresya menunjuk kearah langit, Devan tertawa ia berpikir kalau Aresya hanya bercanda.
“Saya jarang liburan di Indonesia, karena aku menghabiskan banyak waktuku di luar Negeri tepatnya di London, aku besar dan sekolah di sana , boleh di bilang aku hanya numpang lahir di Indonesia besar dan sekolah di London,” ucap Devan.
“Wah hebat pak Devan,” ucap Aresya , ia menjatuhkan panggulnya di di kursi taman dan menikmati angin pantai.
Saat mengobrol dan ceritanya banyak hal, tiba-tiba Devan mengeluarkan ponsel menelepon seseorang dan mengarahkan camera pada Aresya yang sedang melakukan ritual menikmati alam.
“Kamu mau melihat pemandangan yang menarik , aku sedang liburan,” ucap Davino mengarahkan camera ponselnya tepat ke arah Aresya yang sedang menutup mata menghirup udara segar dengan kedua kaki duduk bersila dengan kedua telapak tangan diarahkan keatas, ia melakukan semedi
“Aresya?” suara Davino dengan mata melotot menatap kearah ponsel, ia kaget ternyata istrinya bersama sahabatnya.
“Iya, Oma kamu memintaku menemani wanita ini untuk liburan, bagaimana pendapatmu?”
“Omamu yang memintaku membawanya liburan satu minggu ini,” ucap Devan setelah menjauh dari Aresya. “Oh, iya aku semakin penasaran kenapa kamu jadi marah-marah”
“Dengar Bro, jangan macam-macam dengan wanita itu”
“Kenapa? Nyonya besar yang memintaku menyenangkannya selama satu minggu, Omah kamu juga sudah sudah memesan kamar untuk kami berdua, lucu Bro orangnya, ia sangat ternyata aku baru menyadarinya , ini sangat menyenangkan, sudahlah dulu iya, kasihan Aresya menungguku lama,” ucap Devan mematikan ponsel.
Davino merasakan sesak di dadanya, padahal niatnya tadi ingin bertemu dengan Kirana, ia ingin meminta wanita itu kembali kerumah.
Tetapi, saat Devan meneleponnya tiba-tiba ia merasa sangat marah, ia diantara dua pilihan istri pertama atau istri kedua?
Ia melajukan kendaraanya menuju kantor Omanya, saat tiba di parkiran ia berjalan buru-buru, tidak memperdulikan Rini sekretarisnya yang menyapanya padahal dalam rungan kerja lagi ada tamu.
“Pak Davino, Ibu lagi ada tamu”
Ia menghiraukan wanita cantik itu, berjalan menuju ruangan, membuka pintu rungan , walau Davino tidak bersikap sopan karena datang tidak mengetuk pintu maupun mengucap salam, Omah Marisa tidak ada kemarahan , ia tahu apa yang terjadi.
__ADS_1
“Maaf bu, Pak Davino memaksa masuk”
“Tidak apa-apa, kalian boleh pergi” Saya akan kabarin lagi,” ucap Ny. Marisa pada tamu yang datang ke ruangannya.
“Baik Bu”
Kedua wanita tamu Ny. Marisa mengangguk dan meninggalkan ruangan.
“Omah…! Apa maksudnya?”
“Davino, ada apa? duduk dulu,” ucap Nyonya Marisa selalu tenang, setiap kali menghadapi masalah.
“Apa Oma meminta Devan menemani Aresya liburan?”
“Iya”
“Iya? apa maksudnya, aku suaminya Oma, aku dan Aresya sudah menikah dalam hukum agama dan Negara”
“Oma tahu Davin, aku pikir kamu sangat membenci Aresya dan terlalu mencintai istrimu, Omah tidak mau memaksa kamu, sebenarnya Oma merasa bersalah saat menyuruh kamu menikah lagi dengan orang yang tidak kamu cintai, kamu selalu bersikap kasar pada Aresya, oma merasa bersalah jadinya”
“Oma, itu bukan jadi alasan untuk meminta orang lain menjaga istriku”
“Saya dengar kamu bermasalah dengan Kirana, omah pikir kalian bertengkar dengan istrimu karena Aresya jadi. oma ingin kamu fokus pada istrimu, karena itulah, aku meminta Devan membawa Aresya liburan”
“Bagaimana mungkin oma melakukan itu? dimana harga diriku sebagai suami”
“Lupakan saja mereka, fokuslah masalahmu”
“Aku tidak mau, saya ingin menjemput Aresya”
“Davino ,omah aku tidak mau kamu menyakitinya , biarkan mereka bersenang-senang”
“Oma bagaimana kalau Devan macam-macam degan Aresya”
“Tidak apa-apa kalau mereka saling menikmati dan saling suka sama suka tidaka apa-apa sama omah”
“Apaaa?” Wajah Davino mengeras mendengar ucapan omanya/
__ADS_1
“Iya, karena aku hanya ingin ia melahirkan anak untuk keluarga kita, tidak perduli ia memberikan hatinya untuk siapa, karena kamu juga tidak menginginkan hatinya ‘kan? pernikahanmu dengan Aresya hanya memberi kita keturunan” ujar Ny. Marisa, mendengar itu Davino semakin merasa panas.
Bersambung